Rabu, 22 Maret 2017

Mala








Ayah Mala dahulunya adalah seorang pegawai di istana. Tugasnya adalah membersihkan kandang kuda. Ketika ayahnya meninggal, Mala hidup berdua bersama dengan ibunya di pondok kecil peninggalan ayahnya. Ayahnya meninggalkan sepetak kebun yang ditanami dengan sayur-sayuran dan buah-buahan. Sehingga untuk kebutuhan sehari-hari Mala menjual beragam macam sayuran dan buah-buahan yang dihasilkan dari kebun itu.

Suatu hari Mala memberanikan diri pergi ke istana. Dia ingin mengadu nasib, bekerja di istana. Sayang sekali, tidak ada pekerjaan yang tersedia untuk Malan. Yang ada hanya sebagai tukang membersihkan kandang kuda.

“Kau perempuan, tugas membersihkan kandang kuda terlampau berat bagimu. Carilah pekerjaan lain diluar istana.” Kata pegawai disana.

“Ayah saya dulu adalah tukang membersihkan kandang kuda istana.” Kata Mala ngotot  tidak mau pergi.

“Oh, siapakah ayahmu?” Tanya pegawai itu.

“Burdin. Ayahku puluhan tahun bekerja sebagai tukang membersihkan kandang kuda istana.” 

“Oh, tentu saja aku kenal dengan ayahmu. Baiklah, kau diterima. Mulai hari ini kau bekerja sebagai tukang membersihkan kandang kuda. Kau mendapatkan kamar kecil tidak jauh dari istal kuda. Disana kau bisa tidur dan beristirahat. Dua minggu sekali kau bisa pulang kerumahmu dan hanya diberi waktu sehari. Setelah itu kau harus tetap berada dilingkungan istana dan membersihkan kandang kuda tiga kali sehari.” Kata pegawai istana itu.

“Baiklah.” Sahut Mala gembira. Lalu dia pulang dan memberitahu ibunya bahwa dia diterima bekerja di istana meneruskan pekerjaan ayahnya dahulu sebagai tukang membersihkan kandang kuda.

“Bekerjalah dengan baik, anakku. Ibu senang mendengarnya. Dua minggu sekali kau bisa pulang dan bertemu dengan ibu.” Kata ibunya.

Mala sangat rajin bekerja. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan mulai bekerja. Semua sudut kandang kuda tidak pernah luput dari perhatiannya. Siang hari Mala kembali bekerja membersihkan kandang kuda. Dan sore hari adalah tugasnya yang terakhir membersihkan kandang kuda. Malam harinya Mala tidur dengan nyenyak karena pekerjaan telah selesai dan dia bisa beristirahat dengan tenang.

Tidak terasa sebulan sudah Mala bekerja di istana. Suatu hari ketika Mala tengah bekerja membersihkan kandang kuda, dia mendengar suara seseorang tengah berkata.

“Siapakah yang membersihkan kandang kuda istana ini? Aku perhatikan sekarang kandang kuda selalu bersih dan tidak lagi bau karena rajin dibersihkan.” Kata suara itu. Suara seorang laki-laki.

“Ada pegawai baru, namanya Mala, ayahnya dulu bekerja sebagai tukang membersihkan kandang kuda. Ketika ayahnya meninggal, Mala, anaknya menggantikan tugas ayahnya.” Kata suara satu lagi yang Mala kenal sebagai suara pegawai istana.

“Oh, bagus. Aku suka sekali dengan kerjanya.” Kata suara yang pertama.

Mala mengintip dari balik kandang kuda. Dia melihat seorang pemuda yang berpakaian pemburu memasuki kandang kuda. Perasaan Mala berdebar. Dia baru kali ini melihat pemuda itu. Ah, siapakah dia? Pikir Mala.

“Tuanku Pangeran, kuda yang mana yang akan tuan tunggangi kali ini?” Tanya pegawai istana.

“Aku ingin berburu dengan si Jentik.” Sahut pemuda itu.

Oh, rupanya dia adalah pangeran, pikir Mala. Pegawai istana memasuki salah satu kandang kuda dan mengeluarkan seekor kuda berbulu hitam mulus yang mengkilat. Seekor kuda yang sangat gagah. Mala memperhatikan terus dari balik kandang kuda lainnya. Oh, rupanya kuda hitam itu namanya Jentik, pikir Mala.

“Ah, Jentik. Kau makin cantik saja.” Sapa sang pangeran sambil tertawa gembira ketika melihat kuda hitam itu menghampirinya. “Dan bulumu sangat cantik sekali. Bersih dan mengkilat.”

“Tuanku, Mala, gadis tukang membersihkan kandang kuda itu selain membersihkan kandang kuda dia juga sesekali membantu merawat kuda-kuda istana dan membersihkan bulu-bulunya hingga terlihat bersih dan mengkilap seperti ini. Silahkan tuanku perhatikan, hampir semua kuda-kuda istana sekarang bulu-bulunya bersih dan mengkilap.”  Kata pegawai istana dengan gembira.

“Ah, kau benar. Aku lihat kuda-kuda istana sekarang terlihat semakin terawat dan cantik. Coba kau bawa Mala kemari, aku ingin bertemu dengannya.” Kata sang pangeran.

Bergegas pegawai istana mencari Mala. Mala berdebar mendengar ucapan sang pangeran. Dia bergegas melanjutkan kembali pekerjaannya membersihkan kandang kuda. Tidak lama pegawai berhasil menemukan Mala.

“Ah, Mala. Rupanya kau disini. Pangeran Imam ingin bertemu denganmu.” Kata pegawai itu ketika melihat Mala yang tengah sibuk bekerja.

Mala mengikuti pegawai itu menemui sang pangeran.

“Inilah Mala, tukang membersihkan kuda yang baru, tuanku.” Kata pegawai itu.

Mala dengan celana panjang dan bajunya yang kotor terlihat sangat lusuh. Namun sepasang matanya yang berbinar tidak mampu menyembunyikan kecantikannya walaupun wajahnya kotor dan berpeluh.

“Mala, kau pegawai yang rajin. Aku senang dengan kerjamu.” Kata sang pangeran.

“Terima kasih, tuanku.” Sahut Mala.

Pangeran lalu menaiki kudanya dan bergegas memacu kudanya akan pergi berburu diikuti beberapa pengawal. Tak lama kemudian pangeran sudah  lenyap dari pandangan. Mala merasa gembira sekali. Dia bertemu dengan pangeran. Hal yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

“Nah, pangeran senang dengan kerjamu. Kau harus lebih rajin lagi, siapa tahu pangeran akan memberimu hadiah.” Kata pegawai istana sambil tertawa.

“Terima kasih, tuan.” Kata Mala. Lalu dia bergegas meneruskan kembali pekerjaannya.

Ketika tengah beristirahat dibiliknya, Mala membaringkan tubuhnya diatas dipan kecil. Dia tersenyum sendiri. Wajah sang pangeran terbayang dipelupuk matanya. Pangeran terlihat tampan dan kelihatannya baik hati. Ah, aku beruntung sudah bertemu dan disapa oleh sang pangeran, pikir Mala gembira.

Suatu hari Mala mendengar kesibukan didalam istana. Salah seorang pelayan didapur istana mengatakan bahwa sang pangeran akan berulang tahun. Banyak makanan dan masakan yang akan disajikan di istana.

“Kau pun nanti bisa makan sepuasmu di istana, Mala.” Kata pegawai di dapur istana itu.

Mala termenung mendengarnya. Dia ingin sekali mengucapkan selamat ulang tahun pada sang pangeran, namun bagaimana caranya. Dia hanya seorang tukang membersihkan kandang kuda. Tidak mungkin dia mampu menerobos kedalam istana dan mengucapkan selamat ulang tahun pada sang pangeran.

Hari itu Mala kembali bekerja seperti biasanya, namun pikirannya tak bisa lepas dari sang pangeran. Pada saat itu tiba-tiba matanya melihat sesuatu yang berkilauan diantara tumpukan jerami. Ah, apakah itu? Pikir Mala. Bergegas dia memungut benda yang berkilauan itu. Oh, ternyata itu adalah sebuah cincin. Mala melihat dibagian dalam cincin itu ada cap mahkota. Ah, pastilah cincin ini milik sang pangeran, pikir Mala. Dia bergegas keluar kandang dan berlari menuju istana. Tak lama dia sudah tiba di istana.

“Hei, kau mau kemana?” Tanya salah seorang pengawal ketika melihat seorang gadis yang berpakaian kotor menerobos masuk kedalam istana.

“Saya ingin bertemu dengan sang pangeran.” Sahut Mala dengan nafas terengah.

“Tidak bisa. Kau tidak bisa masuk kedalam istana dalam keadaan kotor seperti itu. Pergilah sebelum kau diusir.” Ucap pengawal itu dengan tegas.

“Saya mohon, saya ingin bertemu dengan Pangeran, tuan.”

“Pergilah!!” bentak pengawal itu.

“Tuan….”

“Ada apa?” sebuah suara menimpali percakapan Mala dan pengawal itu. Mala menoleh. Jantungnya berdegup kencang. Sang pangeran menghampiri mereka.

“Tuanku, gadis ini memaksa ingin bertemu dengan tuanku.” Kata pengawal itu.

“Biarkan dia menemuiku.” Sahut sang pangeran. Pangeran Imam melihat pada Mala. “Ada apa? Bukankah engkau tukang membersihkan kandang kuda istana?”

“Ya, betul tuanku.” Sahut Mala. “Saya menemukan cincin ini dikandang kuda. Ada cap mahkota pada cincin ini. Apakah ini cincin milik tuanku?”

Mala menyerahkan cincin itu pada pangeran Imam. Pangeran Imam menerimanya. Wajahnya berubah gembira.

“Ah, betul. Ini cincin milikku. Dimana kau menemukannya? Di kandang kuda? Ah, kukira cincinku ini terjatuh ketika aku tengah berburu.” Kata pangeran Imam dengan gembira.

“Aku senang kau telah menemukan cincin yang merupakan lambang bahwa aku adalah pangeran mahkota, Mala. Aku akan memberimu imbalan hadiah atas kebaikanmu menemukan kembali cincin ini.” Kata pangeran Imam.

“Terima kasih tuanku, namun ada hal yang ingin saya ucapkan pada tuanku yang  nilainya lebih besar daripada imbalan hadiah yang akan tuanku berikan kepada hamba.” Kata Mala.

“Ah, ucapan apakah itu? Apakah kau tahu imbalan hadiah yang akan aku berikan kepadamu? Aku akan memberimu hadiah baju, sepatu, dan perhiasan…..”

“Terima kasih tuanku, semua hadiah itu pastinya akan sangat berharga sekali buat hamba, namun apa yang akan hamba ucapkan pada tuanku rasanya akan lebih berharga sekali dibandingkan dengan semua hadiah yang akan tuanku berikan pada hamba.”

Pangeran tersenyum mendengar ucapan Mala. “Baiklah, ucapan apakah yang akan engkau ucapkan padaku, Mala?”

“Tuanku, hamba mendengar bahwa tuanku akan berulang tahun, oleh karena itu ijinkanlah hamba saat ini segera mengucapkan selamat ulang tahun kepada tuanku. Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, semoga kebahagiaan senantiasa menyertai tuanku. Amien.” Kata Mala.

“Ah, Mala, kau gadis yang baik. Terima kasih atas ucapan ulang tahunmu. Kau orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku padahal ulang tahunku baru akan dirayakan besok.” Pangeran tertawa. “Dan aku merasa senang bila besok malam kau bisa datang ke istana dan merayakan ulang tahunku bersama-sama dengan yang lainnya.”

“Terima kasih tuanku, tapi…..” Mala menunduk memperhatikan bajunya yang kotor dan sepatunya yang sudah lusuh.

Pangeran tersenyum. “Mala, bukankah tadi aku sudah menjanjikan akan memberimu hadiah, baju, sepatu dan perhiasan? Nah, hari ini kau bebas tugas. Pergilah bersama salah seorang pegawaiku berbelanja. Belilah gaun apapun yang kau sukai. Pilihlah sepatu yang kau senangi. Dan pilihlah juga perhiasan yang kau sukai. Hari ini aku memberikan keistimewaan padamu karena kau sudah menemukan benda yang sangat istimewa buatku, yaitu cincin kerajaan ini yang merupakan simbolku sebagai putra mahkota.” Kata sang pangeran. “Jangan lupa besok kau harus berdandan secantik mungkin sehingga aku tidak bisa mengenalimu lagi.” Pangeran tertawa.

Mala merasa girang sekali. Hari itu tiga orang pengawal sang pangeran menemani Mala berkeliling mencari gaun, sepatu dan perhiasan yang akan dikenakannya saat menghadiri ulang tahun sang pangeran besok malam.  Bukan hanya berbelanja, pengawal juga membawa Mala ke salon kecantikan untuk merawat tubuh dan rambutnya. Ah, bukan main senangnya perasaan Mala dengan semua yang belum pernah dilakukannya itu.

Besok malamnya didalam istana terlihat ramai. Sang pangeran berdiri ditengah istana dan telah meniup lilin. Semua tamu terlihat gembira dan setelah mengucapkan selamat ulang tahun pada sang pangeran mereka mulai menikmati makanan dan minuman dengan diiringi musik yang sangat merdu. Pangeran Imam mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan istana. Dia kecewa karena tidak menemukan yang dicarinya. Mala ternyata tidak hadir di pesta ulang tahunnya.

Mala berdiri disudut ruangan istana. Dia melangkah perlahan menemui sang pangeran yang tengah berdiri sendirian karena tamu-tamu hampir semuanya telah mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.

“Tuanku, selamat ulang tahun.” Ucap Mala sambil membungkukkan tubuhnya.

“Terima kasih.” Pangeran hanya melihat sekilas pada Mala.

Oh, Mala merasa kecewa, ternyata pangeran Imam tidak mengenalnya.

“Maafkanlah atas kelancangan hamba, tuanku. Dan terima kasih atas semua pemberian tuanku ini.” Ucap Mala.

“Pemberian?” pangeran menatap Mala tak mengerti.

“Ya, semua yang hamba kenakan malam ini semuanya adalah hadiah dari tuanku, gaun ini, sepatu, perhiasan, bahkan hamba bisa tampil seperti ini semuanya adalah pemberian tuanku. Hamba adalah Mala, tukang membersihkan kandang kuda.” Ucap Mala.

“Kau pasti bercanda.” Kata sang pangeran. “Kau? Mala? Ah, mana mungkin. Kau….kau sangat cantik sekali…..” ucap pangeran Imam tergagap.

Mala tersenyum. “Bukankah tuanku yang telah merubah hamba menjadi seperti ini.”

“Mala, aku tadi mencarimu namun aku tak berhasil menemukanmu. Terlalu banyak gadis-gadis cantik yang berada disini malam ini, namun…. engkaulah yang tercantik malam ini.” Pangeran Imam mengulurkan tangannya mengajak berdansa. Sepanjang malam itu pangeran Imam berdansa dengan Mala. Ketika waktu telah semakin malam, bergegas Mala pamitan. Dia harus segera tidur karena esok hari dia harus bangun pagi dan segera bekerja kembali.

“Tuanku, saya harus segera kembali ke bilik saya. Besok saya harus bangun pagi-pagi dan bekerja kembali seperti biasa.” Kata Mala.

“Oh, baiklah.” Sahut pangeran separuh kecewa karena dia masih ingin bersama-sama dengan Mala. Pangeran mengiringi kepergian Mala dengan tatapannya sampai gadis itu menghilang dibalik tembok istana.

Esok harinya ketika pangeran akan pergi berburu dia melihat Mala tengah sibuk bekerja di kandang kuda. Seperti biasanya gadis itu mengenakan pakaian kerjanya sehari-hari, celana panjang, baju berlengan panjang yang digulung serta topi yang menutupi rambutnya.

“Ah, alangkah berbedanya Mala yang sering kutemui sehari-hari dengan Mala yang kulihat semalam.” Pikir pangeran. “Ketika mengenakan gaun Mala berubah menjadi gadis yang sangat cantik sekali. Namun bila tengah memakai pakaian kerjanya, dia terlihat begitu sederhana.”

Sejak saat itu pangeran sangat sering sekali pergi ke belakang istana ke istal kuda. Pangeran sering memberi makan kuda-kuda kesayangannya. Namun sebenarnya bukan karena ingin memberi makan kuda-kudanya saja yang membuat sang pangeran jadi sering ke belakang istana ke istal kuda, sang pangeran ingin sering bertemu dengan Mala. Hubungan pangeran dan Mala semakin dekat. Keduanya telah saling jatuh cinta. Hingga suatu hari pangeran mempersunting Mala dan mereka merayakan pesta pernikahannya dengan sederhana karena sang pangeran tidak menginginkan kemewahan dengan perayaan pesta perkawinannya. Sang pangeran hanya menginginkan perkawinannya dengan Mala bahagia.

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar