Jumat, 13 Desember 2013

Aihhh, ketemu rujak huni…






Disuatu hari yang lumayan tidak terik dan tidak begitu panas, disebuah pinggir jalan di kotaku tercinta, Sumedang, tak sengaja terlihat ada buah huni, tergantung pada gerobak tukang rujak yang mangkal diseputar alun-alun Sumedang. Huni? Oh, itu buah jaman dulu semasa kecil yang saya sukai. 

Huni, buah yang bentuknya kecil-kecil, rasanya masam-masam begitu, pernah disuka semasa kecil dulu. Lama tak pernah lagi merasakan rujak huni, eh tiba-tiba melihat dipinggir jalan ada yang jualan rujak, salah satunya adalah buah huni, maka jadilah saya mampir ke tukang rujak itu.  






Huni atau Buni adalah buah yang dapat dimakan langsung, Biji-bijinya yang sudah masak berwarna hitam atau ungu tua. Rasanya manis. Yang warnanya masih hijau atau kekuningan atau kemerahan, rasanya masam banget. Boleh dicoba. Mata kita langsung menyipit menahan rasa asam sambil tentu sedikit meringis….hehe.  Buah Huni berbentuk kecil dan bulat, tersusun dalam tangkai yang ngaruntuy. Hampir mirip seperti buah anggur yang ngaruntuy. Orang Sunda menyebut buah ini dengan nama Huni sementara  bahasa Indonesianya Buni. 





Setahu saya di Sumedang jarang menemukan buah Huni. Makanya ketika ada huni di penjual rujak, langsung mampir dan pesan. Buah Huni paling enak kalo dirujak. Kalau disantap satu satu buahnya, hanya yang berwarna hitam saja yang sudah masak.





Pesan rujak buah huni tentu dengan beberapa pesan : cabe rawitnya 12 biji, gula merahnya yang banyak dan buah huninya direndos hingga setengah hancur. Penjual rujak memenuhi semua permintaan. Tidak lama, sepiring rujak huni sudah terhidang. Zzzzcccccc (membayangkan rasanya yang pastinya manis, asam dan pedas). Benar saja rasanya tak jauh dari bayangan.  Ingin tahu rasanya? Pedas, manis dan asam bercampur menjadi satu.....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar