Rabu, 23 Oktober 2013

Tungku Jadul

     Menanak nasi jaman sekarang mudah dan cepat. Itu biasa, karena jaman sekarang begitu banyaknya alat menanak nasi modern yang bisa menanak nasi dengan mudah dan cepat. Yang baru terasa luar biasa adalah melihat orang menanak nasi lama dan berkeringat, walaupun itu adalah pemandangan yang biasa dimasa lalu jauh sebelum alat menanak nasi menggempur pasaran dan membuat orang perlahan-lahan melupakan cara menanak nasi secara tradisional.



Terbiasa hidup dalam kondisi yang dipengaruhi suasana modern, barangkali tidak banyak orang yang ingin menghabiskan waktu menunggu nasi masak ala jaman dahulu. Namun bila sesekali menemukan hal itu, ternyata sangat mengasyikan. Terutama buatku. Kadang bosan dengan suasana yang itu-itu saja, tak ada salahnya sesekali berganti suasana, bukan? Jadi sesekali, akupun ingin merasakan suasana yang berbeda. Dan bila ingin merasakan suasana yang berbeda, tentu harus keluar rumah. Dan rumah nenek yang didesa adalah salah satu pilihan bila sedang senggang... 


Walaupun alat menanak nasi sudah menggempur pasaran hingga ke desa-desa dan orang mudah mendapatkan alat menanak nasi yang cepat dan mudah, tapi apakah semua penduduk desa sudah beralih ke alat-alat menanak nasi modern yang cepat dan mudah itu? Ternyata tidak. Masih banyak penduduk desa yang menggunakan tungku jaman dulu dan kayu bakar untuk menanak nasi. 


Di desa asalku, walaupun sebagian penduduk sudah banyak yang memiliki peralatan modern di dapur, namun di rumah nenekku ini masih  mempertahankan keberadaan tungku ini. Yang jadul yang menarik. Itu menurutku. Dari mulai mencuci beras hingga menjadi nasi yang siap dinikmati tenyata sangat lama dan berkeringat. Belum lagi, menanak nasi ala jaman dulu ini harus diikuti aktifitas lain, menjaga api tungku agar tetap menyala dengan meniup selongsong kayu yang diarahkan keperapian dibawah tungku, juga menahan mata dari asap tebal yang memenuhi dapur dan tentu saja hawa panas yang menyerang dan membuat tubuh seperti dibanjiri keringat.


Mungkin ini rahasianya kenapa apabila makan di dapur tradisional ini terasa enak dan nikmat. Itu menurut pikiranku. Karena perut yang sudah lapar masih harus menunggu nasi masak. Dan ditambah udara dapur yang panas dan berasap, melengkapi suasana perut yang lapar. Menunggu dengan sabar hingga akhirnya nasi masak. Itu yang membuat makan menjadi terasa nikmat. (walaupun pastinya nasi ditanak dengan peralatan modernpun tetap terasa nikmat). Ada suasana yang berbeda yang tercipta saat menunggu nasi masak dari tungku jaman dulu.


Sambil menunggu nasi matang, tentu saja sambil menyiapkan lauk pauknya. Apa lauk pauk yang paling tepat menemani suasana tradisional ini? Lauk asin dan sambal pedas serta lalapannya tentu saja menjadi teman nasi yang tak akan pernah terlewatkan. Lauk asin dibakar, bukan digoreng. Dibakarnya dengan cara dibungkus dengan daun pisang, lalu ditaruh diatas potongan genteng dan ditaruh diatas tungku. Lauk asin lainnya dimasukan kedalam abu yang masih panas dan tak lama keluar lagi dalam keadaan sudah matang. Lalapan yang akan menemani sambal dipetik dadakan dari kebun disamping rumah. Terong, surawung, menjadi teman yang pas untuk secowet sambal terasi pedas. Ketika nasi dan lauk pauknya akhirnya matang dan siap disantap, jadilah acara makan terasa sangat nikmat dan mengasyikan. Itu setidaknya menurut pendapatku… Yang jelas, tungku jadul tetap aku suka dan akan tetap membuatku merasa kangen untuk kembali menikmati suasana itu…


Jumat, 18 Oktober 2013

Puteri Lembayung





Sebenarnya raja memiliki tiga orang puteri. Puterinya yang pertama  yang bernama puteri Lembayung lahir dari permaisuri. Sesaat setelah melahirkan puteri Lembayung, permaisuri  meninggal dunia. Bukan main sedihnya perasaan raja kehilangan permaisuri yang sangat dicintainya. Namun tidak lama kemudian raja mengangkat selirnya menjadi permaisuri.  Namun selir itu meminta syarat agar puteri Lembayung tidak tinggal di istana dan ditempatkan disebuah desa bersama dengan salah seorang dayang. Permintaan selir itu  karena dia  menginginkan anaknyalah kelak yang akan menggantikan raja menjadi ratu dinegerinya itu. Bila puteri Lembayung tinggal di istana, selir itu merasa khawatir puteri Lembayung lah yang kelak akan menggantikan raja.  
Walaupun merasa berat hati, namun karena raja mencintai selirnya itu  akhirnya puteri sulungnya itu terpaksa ditempatkan disebuah desa bersama dengan seorang dayang yang setia. Sesekali raja datang menengok anaknya. Namun ketika lahir   puteri-puterinya  dari selirnya, raja akhirnya melupakan puteri sulungnya itu. Dari selir itu  raja memiliki dua orang puteri. Yang pertama bernama puteri Kenanga dan yang kedua bernama puteri Kemuning. Kedua puteri itu setelah besar  terkenal cantik jelita.  Raja sangat bahagia dan bangga dengan kedua puterinya itu.  Namun kemudian raja mulai  merasa cemas karena kedua puterinya itu seakan sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak mau memikirkan kepentingan negara padahal raja berharap, seperti juga yang diharapkan oleh selir itu,   kelak salah satu dari puterinya itu akan menggantikan dirinya menjadi raja.
Sebenarnya raja sudah mempersiapkan puteri Kenanga, puteri sulung dari selirnya,  yang akan menggantikan dirinya kelak menjadi raja. Namun puteri Kenanga  sudah berkali-kali mengatakan bahwa dia tidak tertarik dengan takhta dan tidak ingin menjadi ratu. Puteri Kenanga sangat senang membatik dan menari. Setiap hari yang dilakukannya hanyalah belajar membatik dan menari. Demikian pula dengan puteri Kemuning, puteri keduanya. Puteri Kemuning lebih senang berkelana ke pelosok-pelosok negeri dengan kuda kesayangannya. Tentu saja sikap kedua puterinya itu sangat mengecewakan raja  namun raja  tidak bisa berbuat apapun kepada kedua puterinya itu.
Suatu saat negara  dilanda musibah yang berkepanjangan selama bertahun-tahun lamanya. Ketika musim kemarau datang, kekeringan melanda seluruh negeri. Padi-padi tidak bisa dipetik karena kekurangan air. Demikian pula dengan buah-buahan, hasil panennya sangat mengecewakan para petani karena buah yang dihasilkan sangat kecil dan tidak melimpah seperti dimusim-musim panen  dulu. Ketika musim hujan tiba, banjir dan longsor hampir melanda seluruh negeri. Rakyat sangat menderita dan terpaksa banyak yang mengungsi meninggalkan rumahnya yang rusak karena diserang banjir dan tertimpa longsor.
Raja dan seluruh menteri berusaha mengatasi beragam bencana yang melanda negeri itu namun hasilnya tetap saja mengecewakan. Suatu saat   raja tengah  termenung  sendirian dibelakang istana memikirkan nasib negerinya. Usianya sudah sangat tua. raja merasa sudah saatnya mengundurkan diri dan menyerahkan takhta, namun dari kedua  puterinya tidak ada seorangpun yang sudah siap untuk menggantikan dirinya. Pada saat itu, tiba-tiba datanglah seorang lelaki tua menghampiri raja yang tengah duduk sendirian. Raja terperanjat melihat kedatangan lelaki tua itu yang entah darimana datangnya sehingga bisa masuk ke dalam taman istana yang berdinding tinggi dan kokoh.
“Baginda raja,  bila  baginda  menginginkan negeri ini pulih seperti dahulu, baginda harus mempersembahkan orang yang baginda cinta sebagai persembahan. Orang yang baginda cintai itu harus mau mengorbankan dirinya terjun kedalam lautan dengan hati ikhlas. Kelak, keikhlasannya itu akan memulihkan kembali kerajaan ini seperti semula.” Kata lelaki tua itu.
Raja terperanjat mendengar ucapan lelaki tua itu.  “Siapakah yang harus aku korbankan agar kerajaanku ini bisa pulih kembali?” tanya raja dengan penuh harapan. “Aku lebih mementingkan negeriku ini daripada kecintaanku kepada orang yang aku cintai.”
“Baginda memiliki puteri. Puteri tuanku lah yang akan menyelamatkan negeri ini.” Setelah berkata begitu lelaki itu mendadak hilang dari pandangan.
Raja termenung sekian lama mendengar ucapan lelaki tua itu. Lalu dia masuk kedalam istana dan memanggil puteri Kenanga dan Kemuning. Raja  menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Lalu raja menatap kedua puterinya.
“Siapakah diantara kalian yang bersedia mengorbankan diri untuk negeri kita ini?” tanya raja pada kedua puterinya.
Puteri Kenanga dan Kemuning saling bertukar pandang. Lalu puteri Kemuning berkata kepada ayahnya. “Ayah, aku mencintai negeriku ini. Selama ini aku sering berkelana ke seluruh pelosok negeri. Hampir setiap saat  hatiku menangis melihat penderitaan rakyat kita. Namun rasanya aku tidak sanggup bila harus mengorbankan diriku terjun kedalam lautan yang penuh dengan binatang-binatang laut yang ganas…..” ucap puteri Kemuning dengan wajah ketakutan.
“Ayah, aku juga mencintai negeriku ini.” Kata puteri Kenanga. “Namun rasanya aku lebih mencintai diriku sendiri.  Aku bukanlah seorang wanita pemberani yang siap mengorbankan jiwa dan ragaku dengan menyerahkannya kedalam lautan yang ganas dan penuh dengan binatang-binatang laut yang buas dan ganas……”
Raja hanya termenung mendengar jawaban kedua puterinya. Raja tidak mendesak karena yang diharapkannya adalah keikhlasan dari salah seorang puterinya yang bersedia mengorbankan dirinya demi kepentingan negeri. Mendadak raja teringat kepada puteri pertamanya dari permaisuri  yang telah meninggal, puteri Lembayung yang tinggal di desa. Raja berniat akan mencoba bertanya kepada  puteri Lembayung. Barangkali puteri sulungnya itu bersedia mengorbankan dirinya dengan ikhlas. Esok harinya raja pergi ke desa dan menemui  puterinya itu.
“Lembayung!” panggil raja.
Lembayung kelihatan terkejut ketika melihat kedatangan ayahnya. Sudah  lama sekali ayahnya tidak pernah menjenguknya.
“Ayah.” Ucap Lembayung.
Raja menceritakan kesulitannya dan kejadian yang dialaminya. Lalu dia menatap puteri sulungnya itu. “Barangkali engkau bersedia mengorbankan dirimu demi kepentingan negeri ini, Lembayung. Ayah sudah bertanya kepada kedua adikmu, Kenanga dan Kemuning, namun keduanya keberatan untuk mengorbankan dirinya kedalam lautan.”
Puteri Lembayung menatap ayahnya. Lalu dia tersenyum dengan tulus. “Ayah, aku ikhlas mengorbankan diriku terjun dari atas tebing kedalam lautan yang ganas sekalipun bila seandainya pengorbanan diriku ini akan bisa memulihkan kembali keadaan negeri kita ini.”
“Oh, apakah engkau benar-benar ikhlas, Lembayung?” tanya raja dengan gembira dan terharu melihat kesungguhan pada sepasang mata puteri Lembayung.
Lembayung tersenyum. “Ya, ayah. Aku ikhlas mengorbankan diriku ini demi negeri kita ini.”
“Oh, Lembayung. Sungguh mulia hatimu. Maafkanlah ayah yang selama ini telah menyia-nyiakanmu.” Ucap raja sambil menangis penuh haru.
Lembayung ikut berlinang airmata. “Ayah, jangan menangis. Aku tidak ingin terjadi perebutan kekuasaan dikerajaan. Disana ada Kenanga dan Kemuning. Aku memahami keinginan ibu selir yang menginginkan Kenanga  atau Kemuning yang kelak akan menggantikan ayahanda menjadi seorang ratu.”
“Namun bagaimanapun sebenarnya engkau yang lebih berhak untuk menggantikan ayah menjadi ratu, anakku.”
“Ayah, aku ikhlas melepaskan hakku menjadi seorang ratu asalkan  jangan ada pertumpahan darah. Aku ingin negeriku ini senantiasa aman dan tentram. Rakyatnya hidup makmur dan terhindar dari bencana.” Ucap puteri Lembayung dengan suara tulus.
Raja akhirnya membawa Lembayung  ke istana. Raja lalu  mengumpulkan seluruh menteri dan juga kedua  puterinya. Ketika mendengar kesediaan Lembayung mengorbankan dirinya, Kenanga dan kemuning  menangis. Mereka sekarang  menyadari bahwa kakak tiri mereka adalah seorang wanita yang baik budi. Demikian pula dengan selir, ibu Kenanga dan Kemuning. Selir itu merasa malu karena atas keinginannyalah puteri Lembayung disingkirkan dari istana.  
Tiba-tiba puteri Kenanga memeluk puteri Lembayung. “Ayah, aku akan menemani kakak terjun kedalam lautan. Aku tidak tega melihat kakak mengorbankan diri sendirian. Biarlah aku ikut serta menyertai kakak.”
Ketika mendengar ucapan Kenanga, Kemuning pun memeluk Lembayung.
“Kakak, biarlah aku pun ikut mengorbankan diriku bersama kalian berdua.”
Raja menjadi  bingung mendengar ucapan kenanga dan Kemuning.
“Bila kalian semuanya mengorbankan diri kedalam lautan, ayah tidak punya keturunan lagi.” Kata raja dengan perasaan bingung.
“Ayah, biarlah nanti takdir yang akan menentukan siapakah kelak yang akan menggantikan ayah menjadi raja. Sekarang antarkan kami untuk mengorbankan diri terjun kedalam lautan semoga keihlasan ayah melepaskan kami bertiga akan berhasil mengembalikan negeri ini menjadi pulih seperti dahulu lagi.” Kata Kenanga.
Akhirnya dengan berat hati raja mengantarkan ketiga puterinya hingga ke tepi tebing. Dibawah tebing itu lautan yang luas dengan ombak yang besar dan ganas  berdebur keras tengah menanti tubuh ketiga puteri cantik itu. Sambil saling berpegangan tangan, puteri Lembayung, puteri Kenanga dan puteri Kemuning meloncat bersamaan kedalam lautan. Tubuh ketiga puteri itu melayang.
Raja memejamkan matanya, tidak kuasa melihat tubuh ketiga puterinya melayang dari tepi tebing terjun kedalam lautan yang ganas dan  tengah bergelora. Mendadak langit hitam kelam ketika menyambut tubuh ketiga puteri raja itu. Namun hanya beberapa saat saja keadaan gelap gulita itu. Tidak lama kemudian langit cerah kembali. Raja dan seluruh yang menyaksikan kejadian itu segera  berlari ketepi tebing. Ternyata tubuh ketiga puteri itu  selamat dari terkaman ikan-ikan laut yang buas dan ganas.  Berpuluh-puluh ikan lumba-lumba menopang tubuh ketiga puteri itu dan membawanya hingga ketepi laut. Raja dan seluruh yang hadir menyambut gembira kedatangan ketiga puteri itu.
Tidak lama kemudian negeri pulih kembali seperti dahulu dan tidak ada lagi bencana yang melanda negeri. Rakyat bersuka cita dan kembali bekerja dengan giat. Setahun kemudian raja  menyerahkan takhtanya kepada puteri Lembayung. Puteri Lembayung menjadi seorang ratu yang dikenal arif dan bijaksana. Sementara puteri Kenanga dan puteri Kemuning  ikut membantu kakak sulung mereka menjalankan kekuasaannya sebagai ratu.
--- 0 ---

Puteri Tatina





Siuuuttt!!!!
“Aduuuuuh!”  Puteri Tatina memekik.  Kakinya menginjak sesuatu yang licin sehingga dia tergelincir dan terjatuh. Brrruuukk! Tatina terduduk dengan keras. Dia meringis kesakitan. Sebuah kulit pisang tergeletak dibelakang tubuhnya. Rupanya tadi dia telah menginjak sebuah kulit pisang.
“Ah, kemanakah petugas kebersihan taman istana sehingga ada kulit pisang disini?” gerutu Tatina sambil bangkit. 
Tatina segera memanggil petugas kebersihan dan memarahinya. Petugas kebersihan datang tergopoh-gopoh dan memohon maaf atas kelalaiannya. Dia  bergegas membersihkan kulit pohon pisang lalu bergegas pula pergi lagi karena takut diomeli puteri Tatina lebih lama lagi.
Sementara itu Tatina  segera pergi keruangan kerja perdana menteri. Setelah mengetuk pintu dia segera masuk. Perdana menteri tengah duduk dibelakang meja kerjanya sambil menulis. Ketika  melihat kedatangan Tatina, perdana menteri  segera bangkit dari kursinya dan menyambutnya.
“Selamat siang, tuan puteri. Silahkan duduk.” Sambut perdana menteri.
“Terima kasih, paman perdana menteri.” Sahut Tatina. Dia lalu duduk dihadapan perdana menteri. “Paman Perdana Mentri, tolong  segera buatkan peraturan baru.”
“Peraturan baru? Peraturan apa?” Tanya perdana mentri.
“Buatlah peraturan bahwa mulai sekarang penduduk negeri dilarang lagi menanam pohon pisang.” Ujar  Tatina  dengan serius.
“Astaga.” Perdana menteri tertawa mendengar ucapan Tatina. “Kenapa tuan puteri menghendaki dibuat peraturan seperti itu?’
Sambil bersungut Tatina  menceritakan  kejadian yang baru saja menimpanya. Perdana menteri mengangguk-anggukan kepalanya, memahami kekesalan Tatina  dengan kejadian yang menimpanya.
“Baiklah, tuan puteri. Paman akan mencoba membuat peraturan itu namun tentunya semua peraturan  yang akan diumumkan pada seluruh rakyat  harus atas persetujuan Yang Mulia Paduka Raja, tuan puteri.”  Ucap perdana menteri. “Oleh karena itu sebaiknya tuan puteri menghadap paduka raja untuk membicarakan hal ini.”
“Baiklah.” Sahut Tatina. Maka pergilah Tatina  menemui ayahnya diruang kerjanya. Dia yakin ayahnya akan mengabulkan permintaannya karena selama ini tak pernah sekalipun ayahnya menolak permintaannya. Tatina  mengetuk pintu ruang kerja ayahnya. Ketika dia masuk, kelihatan  ayahnya tengah  duduk menulis dibelakang meja kerjanya. Oh, ayah dan perdana menteri kelihatannya sama sibuknya, pikir Tatina.
“Ada apa, Tatina?” Tanya ayahnya ketika melihat puterinya masuk.
“Ayah, buatlah peraturan  baru.” Kata Tatina.
“Peraturan baru  mengenai apa?” Tanya ayahnya.
“Buatlah  peraturan baru bahwa mulai hari ini seluruh  penduduk negeri ini  dilarang lagi menanam pohon pisang.”
“Astaga, ada-ada saja kau ini.” Gerutu Raja.  “Ayah sedang sibuk dengan pekerjaan. Masih banyak urusan penting yang harus segera diselesaikan. Pergi sana jangan mengganggu ayah.”
“Ayah, dengarkan dulu. Aku tadi terpeleset gara-gara menginjak kulit pisang. Aku jatuh terduduk. Pantatku sakit.” Seru Tatina.
Raja menatap Tatina  dengan marah. “Kamu ini cengeng sekali, Tatina. Dan kamu juga egois. Hanya mementingkan kepentingan dirimu sendiri saja. Hanya karena kejadian sepele seperti itu engkau memaksa ayah untuk membuat peraturan baru  yang jelas akan merugikan dan menyengsarakan rakyat ayah sendiri yang sebagian besar adalah petani.” Kata raja dengan suara gusar.
Bukan main marahnya raja pada Tatina. “Tatina, suatu saat kelak engkau akan menjadi ratu menggantikan ayah. Kau harus memiliki sikap dan pandangan yang bijak, Tatina. Jangan mudah terpengaruh oleh hal-hal kecil. Bila kelak kau sudah menjadi Ratu, akan banyak urusan-urusan penting yang harus kau kerjakan dan kau selesaikan. Bukan mengurus hal-hal sepele yang tidak penting.”
Raja lalu menulis sebuah surat dan  ditanda-tanganinya. Surat itu lalu diserahkan kepada Tatina yang menerimanya dengan bingung.
“Ini Surat Perintah untukmu. Baca surat ini dan jalankan perintah raja.” Kata raja dengan tegas.
Tatina membaca  surat itu. Dia terbelalak kaget. Surat itu adalah surat perintah atas nama Yang Mulia Paduka Raja agar dia berkelana selama seminggu dan jangan kembali sebelum hitungan hari tepat satu minggu.
“Ayah, apa artinya ini?” teriak Tatina.
“Ayah menghukum kamu.” Kata ayahnya tegas. “Pergilah. Bawalah bekal secukupnya dan kembalilah setelah tepat satu minggu.”
“Tapi ayah……”
“Tidak ada tapi. Pergilah dan pelajari apa saja yang kau saksikan selama seminggu perjalananmu itu.”
Dengan perasaan sedih terpaksa Tatina berkemas akan berangkat meninggalkan istana  sambil membawa bekal secukupnya. Dia menunggang kuda poni kesayangannya,  hadiah dari ayahnya. Hatinya sedih dihukum ayahnya namun apa boleh segalanya sudah terlanjur terjadi. Sambil berurai airmata Tatina menunggang kudanya meninggalkan istana raja. Tak akan seorang pun yang mengenalnya bahwa dirinya adalah seorang puteri raja. Dia telah mengganti gaunnya dengan baju seorang pengembara dengan sepatu boot yang biasa dikenakannya bila dia tengah ikut berburu bersama para pengawal istana.  
Setelah cukup jauh menempuh perjalanan, akhirnya Tatina  berhenti dibawah sebuah pohon untuk beristirahat. Dia mengeluarkan bekalnya dan mulai menikmati bekal makanan dan minuman yang dibawanya dari istana. Kudanya diikat pada batang pohon  sambil makan rumput.  
Sambil memakan rotinya Tatina   melihat tidak jauh dari tempatnya ada kebun pisang. Beberapa orang petani tengah sibuk bekerja memetik pisang. Setelah pisang-pisang itu terkumpul mereka menaruhnya kedalam gerobak besar.
“Akan dibawa kemanakah pisang-pisang itu?” Tanya Tatina pada salah seorang penduduk yang lewat.
“Akan dibawa ke pasar dan dijual.” Sahut penduduk itu.
Ketika Tatina  menengok kesebelah lain, beberapa petani lain pun tengah sibuk dikebunnya memetik pisang. Mereka semuanya tengah tekun bekerja, tidak peduli dengan sengatan sinar mentari yang saat itu tengah bersinar dengan teriknya. Mereka kelihatan penuh semangat melihat buah pisang berbuah bagus melimpah. Tatina teringat pada permintaannya pada ayahnya. Ah, seandainya ayahnya mengabulkan permintaannya, berapa banyak petani pisang yang akan merasa sedih karena sudah kehilangan mata pencahariannya. Tatina mulai menyadari kekeliruannya.   
Setelah rasa lelahnya reda,  Tatina segera melanjutkan kembali perjalanannya. Kuda poninya pun kini terasa bugar lagi setelah mendapatkan makanan dan minuman yang cukup. Setelah cukup jauh menempuh perjalanan, akhirnya Tatina tiba pada sebuah perkampungan. Pada salah satu tempat dia melihat onggokan kulit pisang yang menggunung.
“Ah, mengapa banyak sekali kulit pisang disini hingga menggunung?” Tanya Tatina  pada salah seorang penduduk yang lewat.
“Kulit pisang itu nanti akan diangkut dan dijadikan pupuk. Pada beberapa rumah disini, beberapa penduduk memiliki usaha rumah yaitu  membuat sale pisang, keripik pisang dan dodol pisang. Usaha makanan buatan penduduk sini sangat enak dan sangat laku. Dengan adanya usaha pembuatan makanan olahan dari pisang itu banyak penduduk yang mendapatkan pekerjaan dengan mendapatkan upah.” Kata penduduk itu.
Tatina  menghela napas dalam. Seandainya ayahnya dan paman perdana menteri mengabulkan permintaannya  membuat undang-undang yang melarang seluruh penduduk dinegerinya ini menanam pohon pisang, entah bagaimana jadinya kehidupan rakyat dinegerinya ini. Ayahnya benar, sebagian besar rakyat mereka hidup sebagai petani. Mereka bukan hanya menggarap sawah saja dengan bertanam padi dan palawija, namun banyak pula diantara mereka yang menjadi petani pisang. Pisang-pisang yang diolah itu kemudian menjadi pula sumber penghasilan sebagian penduduk negeri. Hanya gara-gara dia tergelincir oleh sebuah kulit pisang, dia ingin ayahnya membuat undang-undang yang akan merugikan dan menyengsarakan rakyat banyak. Tatina  merasa malu dengan dirinya sendiri yang egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
Tatina kembali melanjutkan perjalanannya. Berbeda dengan saat berangkat meninggalkan istana perasaannya terasa sedih, kini dia melanjutkan perjalanannya dengan perasaan gembira. Dia ingin melihat sendiri kehidupan rakyat dinegerinya dengan mata kepalanya sendiri. Hukuman dari ayahnya kini disyukurinya. Bila dia tidak dihukum seperti ini mungkin dia tidak akan pernah melakukan perjalanan seperti ini dimana dia bisa melihat langsung kehidupan penduduk dinegeri ayahnya ini. Sambil duduk mencangklong diatas kuda poninya, Tatina menyaksikan kegiatan penduduk yang dijumpainya. Para petani yang sibuk bekerja disawah. Para peternak yang sibuk mengurus sapi dan dombanya. Para petani sayuran yang sibuk mengurus kebun sayurnya. Semuanya membuat Tatina semakin menyadari bahwa dirinya selama ini masih belum mengetahui apa-apa tentang kehidupan penduduk dinegeri ayahnya ini.
Selama seminggu berkelana Tatina  banyak menemukan pelajaran berharga untuk bekal hidupnya. Dia melihat secara langsung kehidupan rakyat ayahnya. Bagaimana rakyat bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Tatina  berkali-kali meneteskan airmatanya terharu menyaksikan  betapa kerasnya perjuangan rakyatnya. Ya, aku berjanji akan merubah sifatku yang mudah marah oleh hal-hal sepele, pikir Tatina  Bila kelak aku menggantikan ayahku menjadi seorang ratu, aku ingin menjadi seorang ratu yang adil dan bijaksana. Juga menjadi seorang ratu yang dicintai oleh seluruh rakyat. Setelah seminggu melakukan perjalanan, akhirnya Tatina  pulang kembali ke istana. Ayahnya menyambut kedatangannya dan tersenyum ketika mendengar Tatina  menceritakan pengalamannya. Raja yakin Tatina  akan belajar banyak dari pengalaman-pengalamannya.   
--- 0 ---