Minggu, 03 Mei 2015

Pertanian Kecil Di Lereng Bukit



Pertanian Kecil Di Lereng Bukit

Pondok kecil itu terlihat sangat cantik sekali, terletak dilereng bukit. Walaupun pondok itu sangat sederhana, terbuat dari kayu, namun karena terpelihara dengan baik, pondok itu terlihat bersih dan asri. Pohon-pohon yang rimbun tumbuh dikiri kanan pondok. Dihalaman depan bunga-bunga berwarna-warni terlihat indah bermekaran. Pondok kecil itu ditinggali Adela, beserta adiknya, Shela dan ibunya. Ayahnya sudah lama meninggal dunia.
Adela dan Shela kedua bersaudara itu, sama cantiknya dan sama baik budinya. Mereka sangat rajin sekali bekerja. Setiap hari mereka mengurus beberapa ekor sapi peninggalan ayah mereka. Setiap pagi mereka memerah susu sapi, memasukkannya kedalam gentong lalu dengan gerobak diangkutnya kerumah Paman Bardi. Paman Bardi menampung susu-susu sapi dari beberapa petani  yang memelihara sapi perah lalu menjualnya di toko kecilnya. Susu-susu sapi itu dimasukan kedalam botol-botol dan dijualnya per botol.  Toko kecilnya selalu ramai dengan penduduk yang akan membeli susu sapi. 
Selain mengurus sapi, Adela dan Shela juga menanam strawberi dan sayur mayur seperti kentang, lobak, kubis dan wortel. Kehidupan sebagai petani sangat menyenangkan bagi mereka.
Adela dan Shela jarang sekali pergi ke kota karena hampir setiap hari mereka sibuk bekerja di ladang dan mengurus sapi. Meskipun begitu Adela dan Shela tak pernah mengeluh. Mereka tetap bergembira dan selalu bersemangat bekerja.
Suatu hari cuaca sangat buruk sekali.  Hujan turun dengan derasnya tidak henti-hentinya. Langit gelap dan mendung. Angin bertiup  kencang. Halilintar berkali-kali menggelegar memekakkan telinga.  Adela dan Shela hanya bisa diam didalam rumah. Dalam keadaan cuaca yang sangat buruk, mereka tidak bisa pergi ke padang rumput mencari rumput untuk sapi-sapi mereka.  Untunglah mereka masih menyimpan persediaan rumput yang cukup banyak untuk makanan sapi-sapi mereka.
Adela pergi ke dapur. Dia menyalakan tungku. Dia menuangkan dua botol susu kedalam panci. Adela selalu menyisakan beberapa botol susu untuk persediaan mereka. Dalam cuaca sedingin ini pastinya sangat nikmat menikmati secangkir susu panas. Tak lama dituangkannya susu itu kedalam tiga buah cangkir dan dibawanya keruangan tengah dimana ibunya tengah duduk sambil merajut.  Sementara Shela mengambil beberapa butir kentang dan merebusnya. Setelah kentang   itu matang, dia mengoles kentang-kentang itu dengan keju. Keju meleleh diatas kentang yang masih hangat itu.
"Ayo kita makan. Hujan sepertinya tidak akan segera berhenti dan aku belum ngantuk untuk tidur sore-sore begini." kata Adela.
Mereka duduk bertiga pada meja makan kecil yang sederhana.
"Ah, susu hangat ini membuat tubuhku terasa hangat." kata ibu. "Dan kentang ini rasanya lembut sekali."
"Aku akan membuat kue kentang nanti." kata Adela. "Hem, kentang ini rasanya enak sekali. Dan keju buatanmu ini sangat lezat sekali, Shela."
Shela tersenyum. "Yah, aku berpikir apa sebaiknya kita membuat keju untuk dijual, kak."
"Jualan keju?" tanya Adela.
"Ya, selama ini kita sering membuat keju hanya untuk kita nikmati sendiri." kata Shela. "Padahal keju yang kita buat ini bisa kita jual."
"Kau benar, kenapa tidak terpikir olehku untuk membuat keju untuk dijual?" ucap Adela. "Susu yang kita peroleh selalu banyak. Itu adalah bahan dasar untuk membuat keju. Kenapa kita tidak mencoba membuat keju lalu menjualnya?"
"Cobalah." kata ibu yang mendengarkan percakapan kedua anak gadisnya. "Keju saat ini banyak dibutuhkan, untuk dijadikan santapan sehari-hari, juga untuk membuat beragam kue sebagai campuran yang lezat."
"Baiklah, mulai besok susu yang kita perah jangan lagi dijual,  kita olah saja menjadi keju." kata Adela.
Esok harinya Adela dan Shela memerah susu sapi seperti biasanya. Namun kali ini mereka tidak menjual susu sapi itu ke rumah Paman Bardi. Mereka akan mengolahnya menjadi keju. Adela dan Shela mengeluarkan beragam peralatan yang mereka butuhkan. Panci besar untuk mengaduk susu, pengaduk dan segala macam peralatan lain yang mereka butuhkan. Seharian kedua gadis itu sangat sibuk sekali membuat keju. Ketika keju itu telah jadi, mereka mencobanya. Rasanya masih belum begitu enak.
"Kita nanti mencoba membuat lagi sampai mendapatkan rasa keju yang pas." kata Adela.
Begitulah, hampir setiap hari mereka mencoba membuat keju. Setiap kali rasanya masih kurang pas, mereka mencoba mencari tahu apa yang masih kurang. Hingga akhirnya Adela dan Shela mengangguk puas, keju buatan mereka rasanya sangat enak sekali dan siap untuk dijual. Ibu yang mencoba mencicipi keju buatan kedua anak gadisnya itu, ikut mengangguk merasa puas dengan keju buatan Adela dan Shela yang rasanya sangat enak sekali. 
Adela lalu pergi kerumah Paman Bardi.
"Hai Adela, sudah hampir seminggu lebih  kau tak mengirim susu sapi kemari, kenapa?" sambut Paman Bardi ketika melihat Adela datang dengan mengendarai gerobak sapinya.
"Paman, aku memang tak lagi mengirim susu sapi. Tapi aku sudah mengolahnya menjadi keju. Ini keju buatan aku dan Shela. Silahkan dicoba dulu bagaimana rasanya." Adela mengeluarkan potongan-potongan keju pada Paman Bardi.
Paman Bardi mencicipi keju pemberian Adela. Dia mencecapnya. "Ah, rasanya sangat lezat sekali, Adela. Kau pintar sekali membuat keju." Paman Bardi menghabiskan potongan itu dan mencoba sepotong lagi.
"Nah, bila rasanya memang enak, aku berniat akan berjualan keju dititipkan pada toko Paman Bardi ini. Selama ini toko Paman Bardi hanya berjualan susu sapi saja, sekarang ditambah dengan berjualan keju."
"Benar sekali, aku setuju. Nah, mulai kapan kau akan menyimpan kejumu ini disini?" tanya Paman Bardi.
"Besok saya akan kemari lagi. Untuk sementara keju yang saya buat belum terlalu banyak. Apabila banyak yang membeli dan menyukainya, saya akan membuat keju lebih banyak lagi." kata Adela.
Paman Bardi dan Adela lalu membicarakan harga keju. Adela menentukan harga jualnya. Setelah Paman Bardi setuju, Adela segera pulang kerumah dan memberitahu Shela bahwa keju buatan mereka akan dijual di toko Paman Bardi.
Esok harinya Adela membawa keju ke toko Paman Bardi. Beberapa orang yang tengah membeli susu melihat Adela dan Shela membawa keranjang berisi keju.
"Apa itu?" tanya seorang pembeli.
"Keju." sahut Shela.
"Ah, coba kulihat." Pembeli itu melihat keju itu dibungkus sederhana namun kelihatannya keju itu sangat enak sekali. "Aku akan membelinya. Berapa harganya?"
"Harganya tanya saja sama Paman Bardi." kata Adela sambil menaruh beberapa keranjang keju diatas meja jualan. Shela mengangkut beberapa keranjang lagi lalu menaruhnya juga diatas meja jualan di toko Paman Bardi.
Tak lama Paman Bardi sudah sibuk melayani pembeli yang akan membeli susu dan keju. Toko kecil itu dipenuhi pembeli yang keluar masuk toko. Adela dan Shela segera pulang, sore nanti mereka akan kembali ke toko Paman Bardi.
Sore itu Adela dan Shela kembali ke toko Paman Bardi. Mereka melihat keranjang-keranjang berisi keju sudah kosong. Oh, bukan main senangnya perasaan mereka melihat keju jualan mereka terjual habis.
"Adela, Shela, keju buatan kalian rasanya sangat enak sekali." sambut Paman Bardi gembira. "Tadi bahkan ada pembeli yang datang kemari sampai dua kali karena ingin membeli kembali keju, sayangnya kejunya sudah keburu habis. Dia ingin membuat kue keju. Tadi dia sudah memesan keju dan besok akan kemari lagi."
"Kami akan mencoba membuat keju lebih banyak lagi." kata Adela.
Hari itu Adela dan Shela menerima uang hasil penjualan keju pertama mereka. Bukan main gembiranya perasaan mereka mendapat uang yang cukup banyak. Pulang dari toko Paman Bardi mereka mampir dulu ke pasar dan membeli roti dan buah-buahan buat ibu mereka.
Begitulah hampir setiap hari Adela dan Shela sibuk dengan pekerjaannya. Namun mereka  tetap bergembira dan bersemangat ditengah kesibukan mereka. Karena begitu banyaknya pekerjaan yang harus mereka kerjakan akhirnya mereka mengambil dua orang pembantu untuk membantu pekerjaan mereka, seorang pembantu laki-laki dan seorang pembantu perempuan yaitu Sastro dan Nani. Sastro kebagian tugas mencari rumput, mengurus sapi dan membersihkan kandang sapi. Sementara Nani bertugas membantu Adela dan Shela membuat keju dan mengantar keju ke toko Paman Bardi. Toko kecil Paman Bardi pun hampir setiap hari ramai dikunjungi pembeli yang akan membeli susu sapi segar dan keju.

Senin, 06 April 2015

Liburan Di Tepi Pantai.



Liburan Di Tepi Pantai.

"Heeehhhhh....... anginnya kencang sekali. Sebaiknya kututup saja pintu pondok ini." kata Emma sambil bergegas menutup pintu jendela.
"Ya, tutup saja. Anginnya memang kencang sekali. Sebentar lagi pasti hujan turun. Sejak tadi langit sudah mendung sekali." kata Sarah.  "Perutku terasa lapar. Ayo kita membuat makanan."
Emma dan Sarah adalah dua saudara sepupu. Mereka sedang berlibur bersama. Orangtua Sarah memiliki sebuah pondok ditepi pantai. Pada saat sedang musim liburan biasanya orangtua Sarah menyewakan pondok itu pada wisatawan. Namun kali ini karena Sarah ingin berlibur dipantai, pondok itu tidak disewakan. Sarah mengajak Emma  berlibur bersama di pantai. Mereka sudah tiga hari berlibur dan berjalan-jalan menikmati keindahan pantai.
Namun sore ini mereka enggan keluar rumah. Apalagi cuaca mendung. Sebentar lagi pasti hujan turun.
"Apa yang akan kita masak?" tanya Emma. "Aku tidak mau udang atau ikan laut. Sejak kita kemari hampir setiap kali makan lauknya udang dan ikan laut terus."
"Coba kulihat, apa yang ada didapur." kata Sarah sambil pergi ke dapur. Pondok itu memiliki dua kamar, ruang tamu dan dapur yang berdampingan dengan kamar mandi. sebuah pondok kecil yang terbuat dari kayu.
Emma mengikuti Sarah kedapur. Sarah membuka kulkas. Dia meringis. Hanya ada seikat kangkung yang mereka beli dipasar kemarin.
"Hanya ada kangkung." kata Sarah.
"Ditumis saja, yuk. Tumis kangkung enak banget." ucap Emma.
"Kau yang menumisnya ya, aku yang akan menanak nasi." kata Sarah sambil mengambil secangkir beras. Secangkir beras itu cukup buat makan mereka berdua.
"Baik." Kata Emma. "Yang jelas aku belum mau lagi makan udang dan ikan laut."
"Haaa, rupanya kau sudah bosan dengan makanan laut." Sarah tertawa.
"Bukan bosan, hanya saja sejak kita kemari hampir setiap hari kita makan makanan laut." kata Emma sambil mulai memotong-motong kangkung sementara Sarah mulai menanak nasi.
Sarah membuka kembali kulkas. "Ada melon. Kau mau jus melon?"
"Ya. Jangan terlalu encer dan jangan terlalu manis." sahut Emma.
Kedua gadis itu sibuk menyiapkan makanan. Tiba-tiba mereka mendengar kegaduhan diluar. Orang-orang berteriak-teriak dengan keras seakan tengah terjadi sesuatu hal yang sangat menakutkan.
"Ada apa?" tanya Emma kaget sambil memburu jendela dan membukanya. Dia melihat orang-orang berlarian dan saling berteriak.
"Tsunami! Tsunami! Tsunami!"
"Saraaaahhhhhhhh...... tsunami! Cepat keluaaaaarrrrrrrr......" teriak Emma ketakutan.
Kedua gadis itu bergegas meninggalkan jendela dan memburu pintu. Mereka berhamburan keluar pondok dan ikut berlarian menjauhi pantai menyelamatkan diri bersama orang-orang lain yang berlarian mencari tempat yang aman. Seperti mimpi rasanya dari kejauhan mereka melihat ombak yang tinggi dan dalam sekejap menyapu apapun yang ada ditepi pantai.
Emma dan Sarah berpegangan tangan sambil berlarian sekuat tenaga menjauhi pantai.
"Emmaaaaaaaa..... cepat larinyaaaaa......." teriak Sarah.
"Saraaaaaahhhhhhhh.....tunggu akuuuuuuuuu....." teriak Emma ketakutan.
Keadaaan pantai yang semula tenang dan dipenuhi wisatawan mendadak menjadi kacau dan semuanya lari kalang kabut menyelamatkan diri menjauhi pantai.
"Lariiiiiiii.....lariiiiiiiiiiii!!!!!" teriak orang-orang.
Keadaan menjadi tak menentu. Mereka semua bingung akan lari kemana karena orang-orang berhamburan berlarian tak tentu arah.
Emma dan Sarah berpegangan tangan lari secepat-cepatnya menjauhi pantai.
"Naik keatas pohon!" teriak Emma ketika dia melihat sebatang pohon yang besar.
"Aku tak bisa naik pohon." sahut Sarah sambil menangis.
"Aku yang akan naik duluan." kata Emma sambil bergegas memanjat pohon. Ketika dia sudah memijak pada dahan, dia melihat kebawah.
"Ayo Sarah. Kamu pasti bisa naik. Pijak dengan kuat. Aku akan menarikmu keatas." teriak Emma.
Sarah berusaha memanjat pohon. Didorong rasa takut, ternyata dia bisa memanjat pohon. Ketika dia tiba didahan yang pertama, Emma bergegas naik kedahan yang kedua.
"Pegang erat-erat pohonnya, Sarah. Peluk pohonnya!" teriak Emma.
Sarah memeluk pohon sambil menangis keras. Dibawah pohon mereka melihat orang-orang masih ramai berlarian kesana kemari penuh ketakutan. Mendadak saja kedua gadis itu merasakan pohon yang mereka naiki berguncang dengan keras dan air laut menghantam pohon itu.
"Saraaaahhhhhhh..... peluknya pohonnya keras-keras!!!!" teriak  Emma. Suaranya nyaris hilang ditelan ombak yang menghantam mereka. 
Sesaat Emma dan Sarah seakan tak menyadari apa yang terjadi. Antara sadar dan tidak mereka merasakan pohon yang mereka naiki seakan mau tumbang. Suara-suara orang-orang yang semula terdengar jelas kini seakan tak jelas lagi. Kedua gadis itu tetap bertahan diatas pohon sambil memeluk pohon dengan kencang walaupun air laut menghantam mereka dengan keras sekali. Entah berapa lamanya mereka berdua berada diatas pohon itu. Ketika mereka membuka matanya dan memperhatikan  keadaan disekeliling mereka, keadaan sudah jauh berubah dari tadi. Keadaan disekitar pantai menjadi begitu mengerikan. Rumah-rumah rusak dihantam tsunami. Warung-warung yang semula banyak berdiri disepanjang pantai semuanya sudah roboh, rata dengan tanah. Kayu dan segalanya berserakan. Air sudah mulai surut lagi. Dan banyak manusia yang bergelimpangan sudah menjadi mayat. Pemandangan yang mereka lihat sangat mengerikan sekali. 
Emma dan Sarah tetap berada diatas pohon dalam keadaan basah kuyup. Keduanya bertatapan sambil berurai air mata. Mereka bersyukur, ternyata mereka selamat.
"Alhamdulillah, kita selamat, Sarah." kata Emma sambil menangis. "Ayo kita turun."
"Aku takut." sahut Sarah sambil menangis dan tak mau melepaskan pelukannya pada pohon.
"Tsunami sudah berhenti. Ayo kita turun. Kita harus melihat pondokmu, Sarah." bujuk Emma.
Akhirnya Sarah mau turun. Kedua gadis itu berlarian menuju pondok mereka. Dan yang mereka dapati pondok itu sudah rata dengan tanah. Keduanya menangis sambil berpelukan.
"Kita harus segera pulang, Sarah." kata Emma.
"Ya. Tapi apakah masih ada barang kita yang masih bisa diselamatkan?" tanya Sarah sambil menuju bekas pondoknya yang tinggal puing-puing. Ternyata semuanya telah habis disapu tsunami. Kembali kedua gadis itu menangis.
Sepanjang malam itu mereka melihat kesibukan yang luar biasa disekitar pantai. Bantuan datang dari mana-mana. Mereka juga mendapatkan jatah makanan. Mereka ikut berbaur bersama yang lainnya. Malam seakan begitu lama namun akhirnya pagi datang menjelang. 
"Bagaimana kita bisa pulang, Emma? Semua barang kita sudah tak tersisa." kata Sarah.
Emma memasukan tangannya kedalam saku celana panjangnya. Dia mengeluarkan kembali tangannya. Dia menatap Sarah.  "Sarah, ternyata aku masih memiliki uang. Sebagian uangku aku simpan dalam saku celanaku." seru Emma. Dia menghitung uangnya yang basah.
"Cukupkah untuk kita pulang kerumah?" tanya Sarah.
"Ya. Cukup. Ayo kita cari kendaraan umum. Kita pulang sekarang." seru Emma.
Kedua gadis itu segera berlari meninggalkan daerah pantai  menuju kejalanan besar dimana banyak kendaraan yang hilir mudik. Mereka menumpang kendaraan umum.  Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam seakan baru bangun dari mimpi buruk.
Ketika tiba dirumah Sarah, kedua orangtua Sarah tidak ada karena begitu kemarin sore mendapat berita adanya tsunami di pantai segera pergi ke pantai akan mencari Sarah dan Emma. Sementara Emma begitu tiba dirumahnya disambut dengan tangisan ayah dan ibunya.
"Ah, Alhamdulillah kau sudah pulang. Bagaimana kau dan Sarah bisa menyelamatkan diri dari tsunami?" tanya ayah dan ibunya.
"Tunggulah. Nanti aku ceritakan. Sekarang aku akan menelepon ayah dan ibu Sarah dan memberitahu kalau aku dan Sarah sudah pulang kerumah dengan selamat." kata Emma.
Ayah dan ibu Sarah sangat gembira menerima telepon dari Emma. "Ya, tadi Sarah sudah menelepon dan mengatakan kalian selamat dan sudah pulang kembali kerumah." kata ayah Sarah. "Kami akan segera kembali pulang."
Sepanjang hari itu Emma sibuk bercerita tentang kejadian yang dialaminya pada ayah dan ibunya sambil menyaksikan berita di televisi mengenai tsunami. Sarah pun sama halnya dengan Emma, dia sibuk bercerita pada ayah dan ibunya bagaimana mereka memanjat pohon dan  menyelamatkan diri dari tsunami sambil menyaksikan juga berita di televisi. Hampir semua saluran televisi menyiarkan berita mengenai tsunami.
Malam itu Sarah menelepon Emma. "Emma, kamu masih mau aku ajak berlibur lagi dipantai?" tanya Sarah.
Emma tersenyum getir. "Untuk saat ini, tidak, Sarah. Aku masih trauma."
"Sama. Aku juga masih merasa trauma. Aku ngeri melihat ombak yang tinggi menyapu pantai....." Sarah berdesah.
"Aku ngeri melihat keadaan disekitar pantai yang porak poranda....." ucap Emma sambil memejamkan matanya membayangkan kejadian kemarin sore dialaminya.
"Aku masih merasa ngeri mendengarkan teriakan orang-orang yang berlarian ketakutan......"
"Aku bahkan masih merasakan bagaimana tsunami menghantam pohon yang kita naiki dan merasakan guncangan yang sangat keras......"
"Selamat tidur, Emma....."
"Selamat tidur, Sarah....."

 

Rabu, 01 April 2015

Sendang Raja



Sendang Raja

Sejak dini hari kesibukan dihampir rumah penduduk sudah terasa padahal hari masih sangat pagi dan kokok ayampun belum terdengar. Hari ini Raja mengundang seluruh penduduk akan menangkap ikan di sendang yang berada dibelakang istana. Sendang itu sangat besar dan luas. Selama ini sendang itu tak pernah ada yang mengganggu karena sendang itu milik Raja. Tak ada seorang rakyatpun yang berani memancing dan menangkap ikan di sendang milik Raja itu. Namun Raja setiap tahun sekali selalu mengundang seluruh rakyat untuk menangkap ikan di sendang itu dan ikan-ikan yang tak terhitung banyaknya itu bisa ditangkap dan dibawa kerumah penduduk masing-masing yang ikut menangkap ikan di sendang itu. Biasanya pada saat menangkap ikan itu, rakyat membawa bekal nasi dan makanan minuman yang akan mereka nikmati sambil menangkap ikan.
Antin pun sejak dini hari sudah ikut bangun seperti halnya ayah, ibu dan kedua kakaknya, Nanang dan Danang. Ibunya tengah sibuk menyiapkan bekal makanan didapur. Ibu membuat beberapa buah timbel dan membuat beberapa macam lauk pauknya. Sementara ayah menyiapkan bumbung untuk menyimpan ikan hasil tangkapan nanti.
Sebelum matahari terbit, Antin dan ayah ibu serta kakaknya segera menuju ke sendang. Ketika mereka tiba disana ternyata sudah banyak sekali penduduk yang sudah datang dan mereka mulai mengalirkan air sendang ke sungai hingga airnya surut. Sebagian yang lain lagi sudah mulai masuk kedalam sendang dan menangkap ikan-ikan yang banyak sekali jumlahnya memenuhi sendang itu. Beragam macam ikan ada dalam sendang itu. Ikan mas, ikan mujair, gurame, lele, ikan tawes dan lain-lainnya. Bahkan udangpun ada dalam sendang itu. Seluruh penduduk bergembira. Laki-laki dewasa menyingkirkan batu-batu besar yang ada dalam sendang. Dan ketika batu-batu besar itu disingkirkan, banyak ikan-ikan yang bersembunyi dibalik batu-batu itu. Sementara kaum perempuan dewasa menjaring ikan dengan ayakan yang terbuat dari bambu. Ikan-ikan berhasil mereka tangkap. Anak-anak berbaur dengan orang dewasa, mereka gembira bisa bermain-main didalam sendang sambil menangkap ikan. Semuanya riuh rendah bergembira didalam sendang. 
Antin berbaur bersama dengan teman-teman sebayanya. Dia mengambil ayakan kecil dan berusaha menangkap ikan-ikan yang kecil. Sebentar saja tubuhnya sudah kotor dengan lumpur.
"Tangkapkan ikan itu untukku!" teriak Antin tiba-tiba pada Danang, kakaknya ketika dia melihat seekor ikan mas kecil berenang pada genangan air. Ikan mas itu kelihatan berbeda dengan ikan mas- ikan mas lainnya. Warnanya kuning emas. Seperti sebuah ikan mainan yang terbuat dari emas murni. Cantik sekali. Apalagi pada saat itu matahari telah bersinar terang. Dan ketika sinar matahari itu menimpa tubuh ikan mas itu, ikan itu berkilauan seperti sebuah emas yang disinari matahari.
Dengan sigap Danang berusaha menangkap ikan mas itu dengan tangannya. Ikan itu berhasil meloloskan diri. Danang berusaha menangkapnya lagi. Kali ini berhasil. Danang lalu memasukan ikan mas itu kedalam ember kecil yang telah diberinya air dan diberikannya kepada adiknya.
"Aku akan memelihara ikan mas ini. Warnanya bagus sekali. Kuning mas. Seperti ikan yang terbuat dari emas." seru Antin gembira sambil memperhatikan ikan yang berada dalam ember yang berenang-renang didalam ember kecil itu.
Makin siang makin banyak penduduk yang berdatangan sehingga sendang itu penuh dengan penduduk yang menangkap ikan. Tiba-tiba saja semua menghentikan kesibukan mereka.
"Raja datang." kata salah seorang penduduk.
Semua menatap pada sesosok tubuh yang baru saja tiba. Seorang lelaki yang berwajah agung dan bertubuh tegap dan mengenakan pakaian seperti seorang raja. Antin terkesima melihat wajah Raja. Baru kali ini dia melihat raja. Selama ini dia hanya mendengar tentang raja dari mulut ke mulut saja dan seakan seperti sebuah dongeng baginya. Kini dongeng itu menjadi kenyataan, Raja berdiri tidak jauh darinya.
Seluruh penduduk memberi hormat dengan takjim pada raja dan rombongan yang baru datang. Seorang gadis kecil seusia Antin berada tidak jauh disamping raja. Gadis itu sangat cantik sekali. Pakaiannya sangat indah sekali. Terbuat dari bahan sutera dan satin.  Antin menatapnya dengan takjub. Dia teringat dengan cerita orang yang pernah didengarnya bahwa Raja memiliki seorang puteri yang sangat cantik sekali. Ah, apakah gadis kecil itu adalah puteri raja yang selama ini suka didengarnya? pikir Antin. 
"Teruskan kegiatan kalian semua. Aku senang kalian semua berkumpul disini." kata Raja.
Penduduk kembali asyik dengan kegiatan mereka menangkap ikan sementara raja dan rombongan berkeliling mengitari sendang. Tiba-tiba, ketika melewati Antin yang tengah duduk ditepi sendang sambil memegang ember kecilnya, gadis kecil yang bersama raja menunjuk pada ember yang ada didekat Antin.
"Ayah, lihat. Ikan itu cantik sekali. Warnanya kuning seperti emas. Berkilauan indah sekali. Ikan itu seperti ikan mainan yang terbuat dari emas." seru gadis kecil itu.
Antin terkejut. Gadis kecil itu menunjuk pada ikan yang berada dalam embernya yang tadi ditangkapkan Danang untuknya.
Raja berhenti ketika mendengar teriakan gadis itu dan melihat pada ember yang ditunjuk anaknya.
"Lasmini, ikan itu memang sangat cantik sekali. Seperti ikan yang terbuat dari emas murni." kata Raja.
"Aku ingin ikan itu, ayah." kata Lasmini.
"Ikan itu sudah ada yang punya. Pelayan akan mencarikan ikan yang lain untukmu." kata Raja.
"Tidak ayah, aku hanya menginginkan ikan itu saja." seru Lasmini.
Raja tiba-tiba menatap pada Antin. "Apakah ikan itu kepunyaanmu, nak?" tanya Raja.
Antin mengangguk. "Ya." sahutnya.
Ayahnya mendekatinya dan menyentuh tangannya, lalu berbisik, "Antin, tuan putri Lasmini menginginkan ikan mas mu itu, sebaiknya engkau memberikannya kepada tuan puteri." bisik ayahnya.
Antin belum sempat menjawab ucapan ayahnya ketika puteri Lasmini menatapnya. "Ah, jadi engkau yang memiliki ikan itu?" tanya tuan puteri Lasmini.
"Ya." sahut Antin.
"Siapakah namamu?" tanya tuan puteri Lasmini.
"Antin." jawab Antin.
"Antin, aku suka dengan ikan mas mu, bagaimana bila aku membelinya?"
Antin menggeleng. "Tidak, aku tak akan menjual ikan ini. Aku yang menemukannya tadi. Dan aku senang dengan warnanya yang kuning keemasan ini. Aku akan memeliharanya dirumah." sahut Antin.
"Aku akan menggantinya dengan ikan mas lain, Antin." kata puteri Lasmini lagi.
"Tidak." sahut Antin sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu aku akan menukarnya dengan sebuah hadiah yang indah."
"Tidak. Aku tidak menginginkan hadiah apapun. Aku hanya menginginkan ikan mas ini saja." sahut Antin bersikeras.
Puteri Lasmini berusaha membujuk Antin namun Antin bersikukuh tidak akan menjual ikan masnya. Raja dan ayah Antin memperhatikan kedua gadis itu yang tengah bercakap-cakap. Raja tersenyum melihat Antin yang berkeras tidak akan menjual ikan masnya.
"Antin, tuan puteri Lasmini menginginkan ikan masmu, aku akan membeli ikanmu dan membayarnya." kata Raja.
Antin menggeleng. "Tidak, aku tidak akan menjualnya. Sejak pertama melihat ikan mas ini aku sudah merasa senang. Dan sekarang rasa senangku semakin bertambah pada ikan mas ini setelah tuan puteri Lasmini pun menyukai dan menginginkan ikan ini. Kalau tuan raja akan membelinya, pastinya harganya sangat mahal sekali dan tak akan terbeli oleh tuan raja." kata Antin.
"Ah, Antin. Kamu tidak boleh berbicara begitu pada raja." tegur ayahnya ketakutan.
Raja tersenyum mendengar ucapan Antin. "Biar saja. Anakmu ini pintar, dia sudah bisa berbicara melawan raja. Tak ada orang yang berani bicara seperti ini kepadaku sebelumnya." kata Raja sambil tersenyum.
Raja lalu berbicara lagi pada Antin. "Antin, mengapa kau mengatakan bahwa ikan ini mahal sekali dan tak akan terbeli oleh aku?" tanya Raja. "Bukankah aku adalah seorang raja yang bisa membeli apapun?"
"Tuan, tuan puteri sangat menginginkan ikan ini dan tuanku berani membeli dengan harga berapapun untuk ikan ini pastinya karena tuanku sangat sayang pada tuan puteri dan sangat ingin membahagiakan tuan puteri. Jadi, seandainya aku menjual harga yang sangat tinggi pun tuan akan membelinya karena tuan sangat ingin menyenangkan tuan puteri."
Raja tersenyum lagi mendengar ucapan Antin.  "Ah, kamu anak yang pintar." kata Raja. "Jadi berapa aku harus membayar untuk ikan mas mu ini?"
"Sudah kukatakan aku tidak akan menjual ikan ini, tuan. Sudah kukatakan harganya sangat mahal sekali dan tidak akan terbeli oleh tuanku."
Raja tertawa mendengar ucapan Antin. "Kalau begitu, bagaimana caranya agar aku bisa memberikan ikan mas itu pada puteriku ini?" tanya Raja.
Antin menatap puteri Lasmini. "Apakah tuan puteri benar-benar menginginkan ikan mas ini?"
"Ya." sahut tuan puteri Lasmini.
"Baiklah, aku akan memberikan ikan mas ini. Aku tidak akan menjualnya. Dan akupun tidak akan meminta hadiah apapun pada tuan puteri sebagai gantinya. Silahkah ambil ikan mas ini. Aku memberikan ikan mas ini sebagai hadiah kepada tuan puteri." kata Antin.
"Oh, kau baik sekali, Antin. Aku sangat senang sekali. Benarkah kau memberikan ikan ini tanpa aku harus membelinya?" tanya tuan puteri Lasmini dengan senang.
"Ya. Aku senang sekali bisa bertemu dan berkenalan dengan tuan puteri Lasmini yang selama ini hanya aku dengar ceritanya seperti sebuah dongeng." kata Antin. "Ambilah dan peliharalah ikan mas ini dengan baik. Ikan ini memang sangat cantik sekali." Antin menyerahkan ember kecilnya kepada tuan puteri Lasmini yang menerimanya dengan penuh suka cita.
Ayahnya kelihatan lega ketika melihat Antin menyerahkan ember itu kepada tuan puteri Lasmini. Sementara Raja langsung tertawa ikut merasa senang.
"Lasmini, gadis kecil ini sudah sangat baik sekali kepadamu, hadiah apakah yang akan engkau berikan untuk temanmu yang baik ini?" ucap Raja.
"Sudah saya katakan, saya tidak akan meminta hadiah apapun untuk mengganti ikan mas ini, tuanku." kata Antin.
"Kau tidak meminta hadiah sebagai gantinya, Antin, tapi Lasmini yang akan memberimu hadiah. Bukankah engkau pun sudah memberikan hadiah kepada Lasmini jadi sepantasnya bila Lasmini pun ingin memberikan hadiah juga kepadamu." kata Raja.
Puteri Lasmini menunduk memperhatikan kalung yang tergantung dilehernya. "Ayah, apakah aku boleh memberikan kalung ini kepada Antin?" tanya puteri Lasmini.
Raja mengangguk mengiyakan. Tuan Puteri Lasmini membuka kalungnya dan menyerahkannya kepada Antin. "Antin, aku sangat menyukai kalungku ini namun aku akan memberikannya kepadamu sebagai hadiah karena engkaupun sudah memberikan ikan mas yang kau sukai kepadaku. Jadi hari ini kita saling bertukar hadiah. Apakah engkau setuju?"
Antin diam sejenak, dia menoleh pada ayahnya. Ayahnya menganggukan kepalanya. "Ya, aku setuju." kata Antin. "Padahal seandainya tuan puteri tidak memberikan apapun padaku aku sudah merasa senang aku sudah bisa memberikan sesuatu pada tuan puteri."
Tuan Puteri Lasmini memakaikan kalungnya pada Antin. Setelah itu mereka berdua bersama-sama memperhatikan kembali kesibukan ditengah sendang. Rakyat semuanya bergembira. Begitu juga Antin. Akhirnya dia bertemu dengan tuan puteri Lasmini yang selama ini hanya didengarnya seperti sebuah dongeng saja.


Majun, Sang Pencari Ikan.



Majun, Sang Pencari Ikan.

Majun adalah seorang pencari ikan. Dia sering menjala ikan di sungai dan ikan hasil tangkapannya dijual kepasar. Majun memiliki tujuh orang anak yang masih kecil-kecil. Istri Majun, Minah, seorang wanita yang baik dan sabar. Uang hasil penjualan ikan dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Berapapun uang hasil penjualan ikan yang didapat Majun  selalu diaturnya dengan sebaik-baiknya sehingga bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari yang sangat sederhana.
Suatu hari Majun menjala ikannya seperti biasanya. Namun dia merasakan keanehan. Hingga sore hari tak seekorpun ikan yang berhasil ditangkapnya. Setiap kali jalanya diangkat, tak seekor ikanpun yang masuk kedalam jalanya. Majun terus berusaha mencari ikan. Dia mengayuh sampannya hingga jauh ke tengah sungai dan menebarkan kembali jalanya dengan penuh kesabaran, namun usahanya tak pernah berhasil. Hingga waktunya pulang tak seekorpun ikan yang berhasil ditangkapnya dan bisa dibawanya ke pasar untuk dijual.
Majun merasa sedih. Dia membayangkan istri dan ketujuh anaknya yang tentunya sudah menunggunya dengan perut lapar. Akhirnya Majun pulang dengan langkah gontai. Dia berjalan melintasi pasar. Walaupun hari sudah mulai beranjak sore namun keadaan pasar masih cukup ramai. Ketika melintasi tukang ikan dimana dia menjual ikan hasil tangkapannya, tukang ikan itu melihatnya.
"Hai, Majun. Kemarilah. Mana ikan hasil tangkapanmu hari ini?" teriak tukang ikan itu ketika melihat Majun berjalan dari kejauhan dan tidak singgah ke jongko ikannya seperti biasanya.
Majun berdiri dengan bingung. Namun akhirnya dia berjalan menghampiri tukang ikan itu.
"Hari ini tak seekor ikan pun yang berhasil kutangkap." kata Majun dengan sedih.
"Ah, kenapa?" sahut tukang ikan itu.
"Saya juga tidak tahu. Sudah beberapa kali saya pindah tempat dan menebar jala namun tak seekor ikanpun yang masuk kedalam jalaku." ucap Majun sambil pergi.
Ketika tiba dirumahnya, Majun melihat istri dan ketujuh anaknya yang masih kecil tengah menunggunya. Majun  merasa sedih karena dia pulang tanpa membawa apa-apa. Majun lalu menceritakan hal itu pada istrinya.
"Hari ini tak seekor ikanpun yang berhasil aku tangkap sehingga aku tak bisa pergi ke pasar menjual ikan dan membawa pulang uang." kata Majun.
Istrinya menatap suaminya. Matanya terlihat sabar. "Tidak apa-apa. Masih ada sisa beras sedikit lagi. Aku akan membuatkan bubur untuk anak-anak agar cukup untuk makan mereka semua." kata Minah.
Minah lalu mengambil beras dan membuat bubur dalam kuali. Anak-anaknya disuruhnya bersabar menunggu hingga bubur itu matang. Ketika bubur itu telah masak, Minah mengambil piring dan membagikan bubur itu pada semua anaknya yang segera memakan bubur encer itu dengan lahap.
Esok harinya kembali Majun mencari ikan di sungai seperti biasanya. Namun seperti hari kemarin tak seekor ikanpun berhasil ditangkapnya. Dan sore itu dia pulang dengan lunglai. Ketika melewati pasar, kembali tukang ikan itu memanggilnya, namun Majun terus saja pergi tanpa mempedulikan panggilan tukang ikan itu. Ketika kembali kerumahnya, seperti kemarin istri dan ketujuh anaknya tengah menunggunya. Kembali Majun berkata pada istrinya bahwa hari ini pun tak seekorpun ikan yang berhasil ditangkapnya.
"Tidak apa-apa. Aku masih menyisakan secangkir beras. Aku akan membuat bubur lebih encer lagi agar anak-anak kita bisa makan." kata Minah dengan sabar.
Demikianlah hampir sebulan lamanya Majun selalu pulang dengan tangan hampa. Dia merasa sedih. Namun Minah istrinya selalu menguatkan perasaannya. Ketika sudah tidak ada lagi sisa beras yang bisa dimakan, Minah pergi mencari singkong dan mengolah singkong itu menjadi makanan buat mereka sekeluarga.
Hari itu Majun kembali mencari ikan dan berharap kali ini dia akan berhasil mendapatkan ikan. Namun seperti hari-hari kemarin, kali ini pun Majun belum berhasil mendapatkan ikan. Majun merasa sedih sekali. Dia lalu pulang melewati pasar seperti biasanya. Ketika melewati pasar, dia melihat tukang ikan itu tengah berada di jongkonya seperti biasanya.
Ketika melihat Majun lewat, tukang ikan itu memanggilnya.
"Majun, kemarilah sebentar!" panggil tukang ikan itu.
Majun sejenak merasa ragu. Namun akhirnya dia menghampiri tukang ikan itu.
"Sudah sebulan lamanya aku belum juga berhasil menangkap ikan. Aku merasa heran, tak ada seekor ikanpun yang masuk kedalam jalaku. Sungai sangat sepi seakan tak ada penghuninya." kata Majun.
"Jangan kau bersedih, Majun. Mungkin saat ini belum rejekimu untuk mendapatkan ikan itu." kata tukang ikan itu. Lalu tukang ikan itu mengeluarkan uang dari dalam sakunya. "Majun, ambilah uang ini. Belilah beras dan segala macam kebutuhanmu untuk hari ini. Bawalah pulang, istri dan anak-anakmu pasti sudah menunggumu dirumah." kata tukang ikan itu.
Majur melihat uang yang cukup banyak yang dipegang tukang ikan itu.
"Ah, tidak, kawan. sudah sebulan ini tak seekor ikan pun yang aku jual kepadamu."
"Ambilah uang ini. Jangan khawatir, nanti pun akan ada lagi rejeki Allah untukmu dan untuk saya." kata tukang ikan itu sambil menyerahkan uang itu kepada Majun.
Majun mengucapkan banyak terima kasih pada tukang ikan itu. Lalu dia bergegas menuju pedagang beras. Dibelinya sekarung beras. Lalu dia pun membeli beberapa macam lauk pauk dan makanan lain untuk istri dan anak-anaknya.
Ketika tiba dirumahnya, istri dan anak-anaknya menyambut dengan gembira ketika melihat Majun memanggul sekarung beras dan tangan yang lainnya membawa bungkusan yang sangat besar.
Sambil menaruh bawaannya, Majun menceritakan kebaikan tukang ikan itu kepada istrinya.
"Alhamdulillah Ya Allah. Ada orang yang baik kepada kita, suamiku." kata Minah penuh rasa syukur.
"Sekarang segeralah menanak nasi dan membuat lauk pauknya. Kasihan anak-anak, mereka pasti sudah sangat kelaparan sekali." kata Majun.
Malam itu Majun dan anak istrinya makan dengan lahap sekali dan bergembira.
Demikianlah, hampir sebulan lamanya setiap kali Majun  pulang dengan tangan hampa dan lewat kedepan jongko tukang ikan itu, tukang ikan itu selalu memberi uang pada Majun untuk membeli makanan untuk keluarganya.
Suatu hari Majun kembali pergi ke sungai. Dia kini mengayuh sampannya jauh sekali ke tengah sungai. Majun  mulai menebar jalanya. Tiba-tiba jalanya terasa berat. Majun berdebar. Akhirnya hari ini dia berhasil menangkap ikan. Majun segera menarik jalanya. Dan dia terperangah kaget ketika melihat ikan yang sangat besar sekali yang terperangkap dalam jalanya. Ah, bukan main gembiranya perasaan Majun. Ikan itu pasti cukup mahal bila dijual kepasar. Majun  menarik jalanya. Namun ketika jalanya sudah hampir masuk kedalam sampannya, tiba-tiba dia mendengar suara.
"Manusia, jangan tangkap aku."
Majun menoleh ke kiri dan ke kanan. Tak ada seorang pun manusia didekatnya.
"Manusia yang baik, kembalikanlah aku kedalam sungai."
Kini Majun melihat bahwa yang bicara kepadanya adalah ikan yang tersangkut didalam jalanya.
"Tidak. Aku tak akan melepaskanmu. Aku akan menjualmu ke pasar." kata Majun.
"Manusia yang baik. Bila engkau melepaskan aku, aku akan menggantimu dengan lebih banyak ikan dan kau bisa menjual ikan-ikan itu setiap hari dan kau tak akan pernah kekurangan lagi." kata ikan itu.
Majun merasa ragu, dia tak percaya pada ucapan ikan itu.
"Percayalah padaku, aku adalah Raja Ikan. Aku akan memberimu cukup banyak hadiah yang bisa kau bawa pulang. Dan selain itu setiap hari bila engkau menjala disini, akan banyak ikan yang datang menghampirimu tanpa engkau susah payah menebar jalamu." kata ikan besar itu.
Majun masih termangu-mangu.
"Lepaskan aku sekarang, dan aku akan segera kembali kepadamu." kata ikan besar itu.
Akhirnya Majun  percaya pada ikan besar itu. Dia lalu melepaskan ikan itu dari jalanya. Ikan itu segera berenang dengan gembira dan meninggalkan Majun. Majun  termangu. Dia menyesal telah percaya pada ikan itu dan kini rejeki yang sudah ada ditangannya lepas begitu saja. Cukup lama Majun menunggu namun ikan itu tak datang kembali kepadanya. Akhirnya Majun mengayuh sampannya akan pulang. Namun tiba-tiba dia mendengar suara memanggilnya.
"Manusia, tunggulah. Bukankah aku bilang aku akan kembali kepadamu."
Majun menoleh. Ikan besar itu muncul. Dibelakangnya banyak sekali ikan-ikan yang mengiringinya. Ikan-ikan itu yang sangat banyak sekali berloncatan masuk kedalam sampan Majun, segera saja sampan Majun bergoyang-goyang karena sudah dipenuhi ikan-ikan yang bertumpuk-tumpuk memenuhi sampan.
"Apakah ikan-ikan yang memenuhi sampanmu itu sudah cukup banyak untuk kau jual?" tanya ikan besar itu.
"Ya, sudah cukup. Aku tak akan sanggup mengangkutnya ke pasar bila terlalu banyak." kata Majun.
"Tunggu, aku masih punya sesuatu lagi untukmu." kata ikan besar itu. Dia membuka mulutnya. Mulutnya penuh dengan sesuatu yang berkilauan.
"Ambilah intan berlian ini. Ini semua untukmu sebagai tanda terima kasih karena engkau sudah melepaskan aku." kata Raja Ikan itu. Majun melongo.
"Ambillah sehelai kain, aku akan memuntahkan intan berlian dalam mulutku ini keatas sehelai kain agar tidak berserakan." kata Raja Ikan itu.
Majun mengambil sehelai kain yang ada dalam sampannya. Lalu dibentangkan dihadapan mulut ikan besar itu. Raja Ikan itu memuntahkan seluruh intan berlian yang ada dalam mulutnya keatas helai kain itu. Setelah itu Raja Ikan itu segera berenang kedalam sungai dan tak kembali lagi. Majur segera membungkus intan berlian itu. 
Majur segera  mengayuh sampannya ketepi sungai. Majur membawa cerangka dan memasukan ikan-ikan itu kedalamnya. Lalu cerangka itu diangkutnya ke pasar. Tukang ikan itu menyambut kedatangan Majur dengan gembira.
"Ah, akhirnya engkau berhasil menjala ikan lagi, Majur." sambut tukang ikan itu dengan gembira ketika melihat Majur datang dengan membawa cerangka besar berisi banyak sekali ikan.
Majur lalu menjual ikan itu pada penjual ikan. Setelah menerima uang penjualan ikan dari tukang ikan itu, Majur lalu mengeluarkan intan berlian dalam buntelan kain. Dia menceritakan kejadian hari itu pada tukang ikan.
"Hari ini aku mendapatkan rejeki yang tak disangka-sangka. Aku akan membagi dua intan dan berlian ini denganmu karena engkau sudah membantu aku selama aku tengah berada dalam kesulitan." kata Majun.
Tukang ikan itu melongo melihat intan berlian yang berkilauan dalam buntelan kain yang dibawa Majun.
"Ah, Majun. Banyak sekali intan berlian ini. Apa yang kuberikan kepadamu tak sepadan dengan nilai intan berlian ini." kata tukang ikan itu.
"Ambilah setengahnya." kata Majun. Dia lalu membagi dua intan berlian itu dan menyerahkan setengahnya pada tukang ikan itu.
"Majun, terima kasih. Dengan penjulan intan berlian ini sebenarnya aku sudah tidak usah lagi jadi penjual ikan. Aku bisa membangun tambak ikan sendiri dan memulai usaha baru. Namun aku akan tetap menjadi penjual ikan karena dengan menjadi penjual ikan aku mendapatkan rejeki yang tak terduga banyaknya." kata tukang ikan itu sambil menangis.
"Ya, pergunakanlah hasil penjualan intan berlian ini dengan sebaik-baiknya. Aku sendiri akan tetap menjadi pencari ikan. Aku percaya rejekiku adalah menjadi pencari ikan." kata Majun.
Pulang kerumahnya Majun  menceritakan semua kejadian itu kepada istrinya. Minah berderai airmata mendengar cerita suaminya.
"Alhamdulillah, akhirnya Allah membukakan pintu rejeki untuk kita." kata Minah.
Esok harinya ketika Majun kembali ke sungai itu, ternyata ucapan Raja Ikan itu benar. Majun tidak usah menembarkan jalanya lagi karena ketika sampannya tiba ditengah sungai, ikan-ikan yang banyak sekali jumlahnya berloncatan masuk kedalam sampan Majun sehingga Majun bisa membawa banyak sekali ikan untuk dijualnya kepasar. Majun merasa gembira sekali. Rejekinya akhirnya datang juga setelah dicari dengan susah payah dan penuh ketawakalan. Pertemanannya dengan tukang ikan itu terus berlanjut hingga mereka usia tua dan sudah tidak sanggup lagi bekerja. Namun keduanya bahagia karena hasil jerih payah mereka selagi muda tidak sia-sia. Mereka hidup sejahtera walaupun sederhana. 

 

Senin, 30 Maret 2015

Membakar Ikan


Membakar Ikan

Bunyi halilintar kembali menggelegar memecah langit. Nira menutup telinganya dengan perasaan takut. Setiap kali terdengar bunyi halilintar jantungnya selalu berdegup kencang. Hujan turun dengan derasnya seperti dicurahkan dari langit. Nira melihat keluar jendela. Kolam disamping rumah nampak beriak-riak tertimpa curah hujan yang begitu deras.
"Nira, tutup saja jendelanya. Anginnya kencang sekali." kata nenek ketika melihat Nira yang tengah berdiri didekat jendela.
"Ya, nek." sahut Nira sambil menutup daun jendela. Namun dia tidak menguncinya karena hari masih siang. Hanya saja langit terlihat kelabu dan gelap sehingga kelihatannya hari sudah sore. Nira tinggal bersama neneknya. Kakek dan kedua orangtuanya sudah meninggal sehingga Nira tinggal bersama neneknya. 
Halilintar kembali terdengar menggelegar. Bergegas Nira masuk kedalam kamarnya. Dia mengambil buku dan membacanya. Namun pikirannya tidak pada buku yang tengah dibacanya. Dia mendengarkan bunyi curah hujan yang begitu deras menimpa genting rumah. Dia keluar kamarnya lagi. Dilihatnya neneknya tengah duduk diruangan tengah sambil menikmati singkong rebus.
"Hujannya deras sekali." kata nenek.
"Ya. Kolam tadi kelihatan penuh sekali." kata Nira. Mendadak dia teringat kembali pada kolam yang tadi dilihatnya. Bergegas dia memburu jendela dan membuka kembali daun jendela. Benar saja dugaannya. Air kolam melimpah dan ikah-ikan tumpah keluar dari kolam.
"Benar dugaanku." teriak Nila. "Air kolam membludak. Ikan-ikannya keluar dari kolam."
Nenek bangkit dan menghampir jendela. Ikut melihat keluar. "Ah, hujannya memang deras sekali. Ikan-ikan itu..... cepat panggil bi Yayah. Ikan-ikan itu harus segera  dipunguti."
Nira bergegas pergi ke dapur memanggil bi Yayah, pembantu dirumah nenek  yang tengah sibuk menyalakan api ditungku menanak nasi.
"Bi Yayah, air kolam membludak. Ikan-ikannya keluar dari kolam dan berserakan di tanah." seru Nira.
Bi Yayah bergegas bangkit, mengambil payung yang disangkutkan didinding dan membuka pintu dapur. Bi Yayah memegangi payung dan memburu kolam yang disamping rumah. Benar saja ikan-ikan sudah banyak yang berserakan ditanah.
Bi Yayah mengambil ember besar, mengisinya dengan air dan memasukan ikan-ikan itu kedalam ember.
"Bantu bi Yayah memunguti ikan-ikan itu." kata nenek. "Masukan saja kedalam ember-ember dan baskom."
"Ya" Nira bergegas mengambil payung dan keluar rumah membantu bi Yayah memunguti ikan dan memasukannya kedalam ember.
"Ikannya sudah terlalu banyak didalam kolam." kata bi Yayah pada nenek yang tengah memperhatikan mereka dari jendela.  Bi Yayah mengambil semua ember besar dan mengisinya dengan ikan-ikan itu. 
"Masukan saja semuanya kedalam ember dan baskom." seru nenek.
Empat buah ember dan tiga buah baskom besar telah penuh dengan ikan.
"Dijual saja, mak." kata bi Yayah ketika melihat ikan-ikan yang terkumpul ternyata sangat banyak.
"Ya, jual saja pada tetangga yang mau membeli. Sebagian sisakan untuk kita. Emak akan membuat dendeng ikan." kata nenek.
Hujan mulai mereda dan pekerjaan bi Yayah dan Nira mengumpulkan ikan sudah selesai bersamaan dengan redanya hujan. Bi Yayah bergegas menemui beberapa orang tetangga yang terdekat yang berminat membeli ikan. Tak lama kemudian beberapa orang tetangga berdatangan dan melihat ikan-ikan yang berada didalam ember dan baskom. Mereka membeli ikan-ikan itu. Kehidupan di desa selalu menyenangkan. Sementara nenek memilih-milih ikan yang akan dimasaknya sebagian dan sebagian lagi akan dibuat dendeng. Sementara Nira mengambil dua buah ikan mas yang cukup besar. Tiba-tiba saja dia ingin sekali membakar ikan.
"Nek, ikan mas yang dua ini buat saya ya." kata Nira sambil menunjukan kedua ikan mas itu.
"Boleh. Akan kau masak apa ikan-ikan itu?" tanya nenek.
"Aku ingin membakar ikan, nek. Pastinya enak sekali membakar ikan ditengah cuaca yang dingin ini." kata Nira.
"Suruh bi Yayah membersihkan kedua ikan mas itu dan mengeluarkan isi perutnya. Dan kau menyiapkan bumbunya ya." kata nenek.
Bi Yayah sudah selesai menjual ikan-ikan itu pada tetangga dan memberikan uang hasil penjualannya kepada nenek. Dia lalu membersihkan kedua ikan mas itu, setelah itu menyiapkan pembakaran untuk membakar ikan itu. Sementara Nira menyiapkan bumbu-bumbu yang akan digunakan untuk membakar kedua ikan mas itu. Dia mengulek bawang putih, garam serta jahe. Setelah kedua ikan mas itu bersih, dia membalur kedua ikan itu dengan bumbu yang tadi diuleknya. Dengan dibantu bi Yayah  dibakarnya ikan itu. Tak lama kemudian tercium bau haram ikan bakar. Setelah ikan setengah matang, dia melumuri ikan itu dengan kecap lalu membakarnya lagi. Sementara bi Yayah membuat sambal kecap. Cabe rawitnya diiris tipis-tipis dan kemudian dimasukan kedalam mangkok kecil, lalu menuangkan kecap secukupnya.
Tak lama kemudian kedua ikan bakar itu telah matang. Bi Yayah menyiapkan nasi hangat. Mereka bertiga duduk mengelilingi ikan bakar itu. Ah, rasanya sangat sedap sekali makan nasi hangat dengan lauknya ikan bakar itu yang masih mengepul panas.   


Bunga Di Tebing Bukit



Bunga Di Tebing Bukit

Ratu Shalima adalah permaisuri Raja Shan. Ratu Shalima terkenal dengan kecantikan dan kebaikan budinya. Rakyat sangat mencintai Ratu Shalima karena Ratu Shalima sangat dekat dengan rakyatnya. Namun dari sekian banyak rakyat yang mencintainya, selalu ada saja orang yang merasa iri dan dengki kepadanya. Orang yang membenci Ratu Shalima adalah Puteri Kania, salah seorang selir Raja Shan. Puteri Kania sangat iri dengan kecantikan Ratu Shalima yang membuat Raja sangat mencintai permaisurinya itu. Berbagai upaya sering dilakukan oleh Puteri Kania agar perhatian Raja Shan beralih kepadanya. Namun bagaimanapun kerasnya upaya Puteri Kania, semua upaya Puteri Kania sia-sia saja karena Raja Shan malahan semakin mencintai Ratu Shalima.
Suatu hari Puteri Kania berjalan-jalan dibelakang istana sambil melamun. Dia merasa sedih karena raja kurang memperhatikannya. Raja memiliki beberapa selir namun hampir pada semua selirnya raja kurang perhatian, hanya kepada Ratu Shalima saja raja memberikan perhatian sepenuhnya. Tak terasa langkah Puteri Kania semakin jauh meninggalkan istana. Hingga akhirnya dia tiba diujung lereng. Puteri Kania memandang kebawah lereng yang terjal dan dalam. Pikirannya terasa kalut dibakar perasaan cemburu pada Ratu Shalima dan kemarahannya kepada Raja Shan. Kakinya berdiri diujung lereng. Sementara tatapan matanya menukik kebawah lereng. Puteri Kania berdiri ditempatnya sekian lamanya tanpa berbuat apa-apa. Tiba-tiba Puteri Kania melihat ada sebuah rumpun bunga yang sangat cantik sekali. Bunga itu tumbuh ditebing lereng. Tak mungkin untuk memetik bunga itu karena dia harus menuruni tebing yang terjal dan licin. Bunga itu berwarna merah dan jingga yang sangat cantik sekali tertimpa sinar matahari.
Puteri Kania menatap bunga itu sekian lamanya sambil berpikir bagaimana caranya agar dia bisa memetik bunga itu.
"Ah, sedang melihat apakah tuan puteri? Hati-hati, nanti terpeleset." sebuah suara mengejutkan Puteri Kania yang tengah asyik memperhatikan bunga itu.
Puteri Kania menoleh. Dia melihat seorang wanita tua yang tengah membawa kayu bakar dipunggungnya. Rupanya wanita tua itu adalah seorang pencari kayu bakar di hutan.
"Aku tengah memperhatikan bunga yang tumbuh dilereng tebing itu. Cantik sekali." kata Puteri Kania.
Wanita itu melihat pada bunga yang ditunjukan oleh Puteri Kania.
"Ah, bunga itu memang sangat cantik, namun sangat beracun sekali." kata wanita tua itu. "Bentuknya memang cantik dan menawan namun siapapun yang memegang bunga itu tangan dan tubuhnya nanti akan terasa gatal sekali karena ada racun pada kelopak-kelopak bunganya."
"Oh, begitukah?" tanya Puteri Kania tak percaya.
"Ya, bunga seperti itu hanya tumbuh ditebing-tebing bukit saja karena sangat berbahaya apabila kita memegangnya." kata wanita tua itu.
Puteri Kania hanya termangu mendengar penjelasan wanita tua itu. Ketika wanita tua itu telah pergi berlalu, Puteri Kania memberanikan diri menuruni tebing itu perlahan-lahan. Dia akan memetik bunga itu. Kakinya menginjak tebing itu dengan hati-hati dan berusaha semakin mendekati bunga itu. Akhirnya upayanya berhasil. Dia berhasil menjangkau rumpun bunga itu. Kania memetik beberapa batang bunga itu dengan hati-hati agar tangannya tidak menyentuh bunga-bunganya, lalu membungkusnya dengan ujung gaunnya. Setelah itu dia naik kembali ke atas dan bergegas pulang kembali ke istana.
Puteri Kania memiliki seorang pelayan, namanya Nira. Dia memanggil Nira.
"Nira, masukan bunga-bunga ini kedalam bokor bunga yang biasa dipakai Ratu Shalima untuk mandi. Jangan sampai ada yang tahu kau memasukan bunga ini kedalam bokor bunga." kata Puteri Kania.
Nira mematuhi perintah Puteri Kania. Puteri Kania masuk kedalam kamarnya. Dia tersenyum dalam hatinya sambil membuang gaun yang dipakainya tadi kedalam tempat sampah.
Esok paginya Puteri Kania mendengarkan kegemparan diluar kamarnya. Bergegas dia keluar kamarnya. Beberapa dayang istana kelihatan tengah sibuk mondar mandir.
"Ada apa?" tanya Puteri Kania pada salah seorang dayang.
"Ratu Shalima sakit. Sekujur tubuhnya gatal-gatal." jawab pelayan itu.
Bergegas Puteri Kania masuk kembali kedalam kamarnya dan tersenyum dengan puas.
Siang hari Puteri Kania melihat beberapa orang tabib istana memasuki kamar Ratu Shalima dan berusaha mengobati sakit Ratu Shalima. Namun dari sekian banyak tabib yang berusaha mengobati Ratu Shalima, tak seorangpun yang berhasil menyembuhkan Ratu Shalima. Puteri Kania merasa senang mendengar gatal-gatal diseluruh tubuh Ratu Shalima semakin parah dan Raja Shan sangat sedih melihat keadaan permaisuri yang sangat dicintainya itu.
Berbulan-bulan lamanya Ratu Shalima menderita sakit gatal-gatal. Sekarang keadaannya sudah semakin parah karena sekujur kulit tubuhnya sudah rusak dan bernanah karena akibat gatal-gatal itu sudah berubah menjadi luka yang menjijikan. Oh, bukan main sedihnya perasaan Raja. Akibat luka-lukanya itu kini tubuh Ratu Shalima mulai berbau dan dayang-dayang pun menjadi enggan mendekatinya karena tidak kuat dengan bau yang dikeluarkan dari luka-luka ditubuh Ratu Shalima.
Suatu hari Ratu Shalima berkata kepada Raja Shan. "Suamiku, aku tahu kondisi tubuhku sekarang sudah sangat parah. Aku akan mencoba menyingkir untuk sementara waktu dari istana ini untuk menyembuhkan luka-lukaku ini." kata Ratu Shalima.
"Kemana engkau akan pergi? Aku tak mungkin membiarkan engkau pergi jauh dari istana. Aku sangat mencemaskanmu." kata Raja Shan.
"Dibelakang istana ini, agak jauh dari istana, didekat hutan, ada sebuah tempat didekat lereng bukit. Buatkan aku sebuah gubuk untuk aku tinggal disana untuk sementara waktu sambil aku menyembuhkan luka-lukaku ini." kata Ratu Shalima.
Raja Shan mengabulkan permintaan Ratu Shalima. Raja segera memerintahkan para pegawai istana untuk membuatkan sebuah gubuk yang pantas untuk Ratu Shalima. Didekat gubuk itu dibuatkan pula jamban untuk Ratu Shalima. Setelah gubuk itu selesai dibuat, Ratu Shalima segera berangkat ke gubuk itu seorang diri. Beberapa orang pelayannya yang setia ingin ikut serta menemani Ratu Shalima namun Ratu Shalima menolak. Dia ingin tinggal sendirian saja digubuk itu.
Berhari-hari lamanya Ratu Shalima berdiam diri didalam bilik gubuknya itu sambil berdoa. Sesekali dia mandi dijamban disamping gubuknya sambil berusaha mengobati luka-lukanya dengan daun-daunan yang ditemuinya disekitar gubuknya. Suatu hari Ratu Shalima berjalan-jalan hingga ke tepi lereng bukit. Tiba-tiba dia melihat ada bunga yang sangat cantik sekali yang tumbuh ditebing.
"Ah, bunga yang sangat cantik sekali. Rasanya aku baru kali ini melihat bunga yang seperti itu." kata Ratu Shalima dalam hatinya. Ketika dia akan melangkah mendekati ujung tebing, mendadak sebuah suara menyapanya.
"Oh, hati-hati tuanku, nanti terpeleset."
Ratu Shalima menoleh. Dia melihat seorang wanita tua dengan tumpukan kayu bakar dipunggungnya tengah memperhatikannya.
"Apa yang tuanku perhatikan dibawah tebing itu?" tanya wanita tua itu sambil memperhatikan luka-luka disekujur tubuh Ratu Shalima dan juga diwajahnya. "Ah, kenapa pula wajah dan tubuhmu ini, tuanku? Apakah tuanku tengah sakit?"
"Ya. Aku sedang sakit. Tubuhku semula menderita gatal-gatal yang hebat namun kini sudah berubah menjadi luka-luka." sahut Ratu Shalima. "Aku barusan tengah memperhatikan bunga itu yang tumbuh dilereng tebing. Cantik sekali. aku ingin menanamnya disamping gubukku."
Wanita tua itu mengikuti pandangan mata Ratu Shalima. Wanita tua itu mengerutkan keningnya. "Ah, bunga itu sangat beracun sekali. Aku ingat, rasanya pernah ada juga seorang wanita yang ingin memetik bunga aku. Aku sudah memberitahunya bahwa bunga itu beracun. Namun wanita itu tetap turun ketebing dan memetik bunga itu. Aku ingat saat itu aku sudah akan meninggalkannya namun aku melihat wanita itu turun dan naik kembali dengan bunga itu yang dibungkus ujung gaunnya." kata wanita tua itu.
"Oh, begitukah? Siapakah dia?" tanya Ratu Shalima tertarik.
"Aku tidak tahu. Namun bila melihat dari pakaian yang dikenakannya kelihatannya wanita itu seperti orang dari istana." sahut wanita tua itu sambil kembali memperhatikan luka-luka ditubuh Ratu Shalima. "Tuanku, bolehkah saya melihat luka-luka ditubuh tuanku ini?"
"Baiklah. Marilah ke gubukku." ajak Ratu Shalima. Wanita tua pencari kayu bakar itu mengikuti Ratu Shalima ke gubuk yang tidak jauh letaknya dari tempat mereka bertemu.
Ketika sudah sampai digubuk, wanita tua itu memeriksa sekujur tubuh Ratu Shalima. "Tuanku, luka-luka tuanku kelihatannya disebabkan oleh bunga beracun itu. Awalnya tuanku hanya menderita gatal-gatal saja setelah terkena bunga itu, namun kini gatal-gatal itu sudah berubah menjadi luka-luka yang bernanah."
"Ya." sahut Ratu Shalima.
"Obatnya tidak lain adalah akar dari bunga beracun itu. Kita harus berusaha menuruni tebing dan mengambil akar bunga beracun itu." kata wanita tua itu.
"Baiklah, saya dan emak akan mencoba menuruni tebing itu." kata Ratu Shalima.
Kedua wanita itu kembali ketempat ditepi lereng. Ratu Shalima dan wanita tua itu perlahan-lahan menuruni tebing. Akhirnya mereka bisa mencapai tempat dimana bunga itu tumbuh. Wanita tua itu mengeluarkan goloknya dan menggali akar bunga itu. Setelah berhasil mendapatkan akar bunga itu keduanya kembali naik keatas. Mereka kembali ke gubuk Ratu Shalima. Setelah akar bunga itu dibersihkan, wanita tua itu merebus akar itu dengan air hingga mendidih. Air godogan itu berubah menjadi merah seperti darah. Wanita tua itu menuangkan air godogan akar bunga itu kedalam cangkir yang terbuat dari batok kelapa yang dibawanya dan menyuruh Ratu Shalima meminumnya. Ratu Shalima meminum air godogan akar bunga itu yang masih hangat. Sepanjang hari itu beberapa kali Ratu Shalima meminum air godogan akar bunga itu. Malamnya, Ratu Shalima bisa tidur dengan nyenyak dan tidak terganggu lagi dengan rasa sakit ditubuhnya. Esok paginya Ratu Shalima melihat luka-lukanya telah mengering.
Wanita tua itu datang kembali menemui Ratu Shalima. Dia tersenyum melihat luka-luka ditubuh Ratu Shalima telah mulai mengering. Hampir setiap hari wanita tua itu menemui Ratu Shalima dan mengobati luka-lukanya. Ketika luka-luka itu telah mengering dan sembuh, wanita tua itu membuatkan ramuan dari kunyit  yang kemudian dibalurkan keseluruh tubuh Ratu Shalima. Sebulan lamanya wanita tua itu mengobati Ratu Shalima dan menyembuhkan bekas luka-luka hingga akhirnya kecantikan Ratu Shalima telah pulih kembali.
"Sudah saatnya tuanku kembali ke istana." kata wanita tua itu ketika melihat kecantikan Ratu Shalima telah pulih seperti sedia kala.
"Aku tidak akan kembali lagi ke istana, Emak. Aku sudah merasa senang luka-lukaku telah sembuh dan aku sekarang bisa menikmati kehidupan yang sederhana disini." sahut Ratu Shalima.
"Pulanglah ke istana, aku akan mengantarmu pulang." kata wanita tua itu.
Akhirnya Ratu Shalima pulang kembali ke istana dengan diantar oleh wanita tua itu. Ketika tiba di istana, bukan main gembiranya perasaan Raja Shan ketika melihat permaisuri telah kembali dan sembuh. Saat itu Raja Shan tengah didampingi oleh Puteri Kania. Wanita tua itu masih mengenali Puteri Kania. Wanita tua itu menunjuk Puteri Kania dengan marah.
"Dialah orangnya yang telah memberikan bunga beracun itu kepada Ratu Shalima, tuanku. Tangkaplah orang jahat itu. Dia tidak layak menjadi pendamping tuanku. Saya melihat sendiri orang itu memetik bunga beracun itu dan dibawa pulang ke istana." kata wanita tua itu.
Oh, bukan main marahnya Raja Shan mendengar ucapan wanita tua itu. Dia segera memerintah pengawal untuk menangkap Puteri Kania dan menjebloskannya ke penjara. Puteri Kania menjerit-jerit dan meronta-ronta namun para pengawal berhasil menariknya dan memasukkannya kedalam penjara dibawah tanah.
Ratu Shalima sangat berterima kasih pada wanita tua pencari kayu bakar itu yang ternyata adalah seorang tabib yang telah mengobatinya hingga sembuh. Sebagai hadiah untuk wanita tua itu, Ratu Shalima memberikan gubuknya didekat lereng bukit  itu kepada wanita tua itu. Sesekali Ratu Shalima suka mengunjungi wanita tua itu dan belajar meracik ramuan dari wanita tua itu. 



Selasa, 10 Februari 2015

Pak Hamid dan Ketiga Putrinya








Pak Hamid memiliki tiga anak perempuan. Halin, Mita dan Gima. Istrinya telah lama meninggal dunia sehingga pak Hamid membesarkan ketiga putrinya sendirian saja. Ketika ketiga anak gadisnya telah cukup dewasa, pak Hamid berniat membagikan hartanya pada ketiga anak gadisnya.
“Anakku, ayah sekarang sudah tua dan ayah rasanya sudah tidak sanggup lagi bekerja.” Kata pak Hamid suatu hari pada ketiga anak gadisnya. “Ayah berniat akan menyerahkan kebun yang selama ini menjadi mata pencaharian ayah kepada kalian bertiga. Kebun yang satu terletak diujung desa kita ini, sebuah perkebunan yang luas yang ayah Tanami dengan kopi. Kebun yang kedua terletak diperbatasan desa ini, sama dengan kebun yang pertama, kebun inipun ditanami dengan kopi. Lalu yang satu lagi kebun itu terletak dilereng gunung. Seperti kebun yang pertama dan kebun yang kedua, kebun inipun ditanami dengan kopi.”
Ketiga anak gadisnya mendengarkan kata-kata ayahnya dengan seksama.
“Ayah akan membagikan ketiga kebun itu kepada kalian bertiga. Kebun yang pertama ayah serahkan padamu Halin, lalu kebun yang kedua untukmu Mita dan kebun yang terletak dilereng gunung ayah serahkan untukmu, Gima. Semua kebun itu berisi pohon-pohon kopi yang selama ini selalu menghasilkan kopi-kopi yang bagus. Sekarang kebun-kebun itu sudah menjadi milik kalian, silahkan kalian pelihara dengan sebaik-baiknya seperti ayah selama ini memelihara kebun-kebun kopi itu sehingga bisa menghasilkan uang dan bisa mencukupi segala macam kebutuhan kita.”
Ketiga anak gadisnya mengucapkan terima kasih pada ayah mereka.
Esok harinya ketiga anak gadis itu melihat kebun masing-masing. Halin naik delman menuju kebunnya. Tidak lama kemudian dia sudah sampai dikebunnya dan merasa takjub melihat kebunnya yang penuh dengan pohon-pohon kopi yang tengah berbuah lebat. Buah-buah kopi yang telah matang berwarna merah dan kuning. Oh, bukan main senang perasaannya melihat kopi-kopi yang telah matang dan siap untuk dipanen.
Mita pun pergi kekebun bagiannya. Ketika tiba dikebunnya, bukan main senang hatinya melihat kebun kopi yang tengah berbuah lebat dan siap dipanen. Dia membayangkan akan segera mendapatkan banyak uang dari hasil penjualan kopinya.
Sementara itu Gima pun pergi melihat kebun kopinya yang terletak di lereng gunung. Berbeda dengan kebun bagian kedua kakaknya yang terletak ditanah yang datar, kebun bagiannya terletak dilereng gunung. Untuk mencapai kebunnya jalannya menanjak dan berbatu. Tidak ada kendaraan yang bisa mencapai kebunnya dan harus ditempuh dengan berjalan kaki saja. Gima berjalan sendirian menuju kebunnya. Perasaannya terasa gamang melihat jalanan yang menanjak sementara kebunnya masih jauh. Namun dia terus melangkah dan merasa yakin bahwa akhirnya dia akan tiba juga dikebun yang menjadi bagiannya. Dia teringat pada ibunya yang menyayanginya dan perasaannya mendadak menjadi sedih. Namun dia menguatkan perasaannya dan terus melangkahkan kakinya menapaki jalanan yang menanjak dan berbatu. Peluh membanjiri tubuhnya. Sesekali dia berhenti dan beristirahat sejenak sambil menikmati bekal makanannya, setelah itu dia meneruskan kembali langkahnya. Akhirnya dia tiba juga dikebunnya. Segala kelelahan terasa sirna ketika dia melihat kebun yang menjadi bagiannya penuh dengan pohon-pohon kopi yang tengah berbuah lebat. Kopi-kopi itu telah siap dipanen. Bukan main gembira perasaannya. Dia berniat dalam hati akan memelihara kebun kopinya dengan sebaik-baiknya karena selama ini kehidupan mereka sehari-hari berasal dari hasil kebun kopi.
Esok harinya Gima kembali lagi ke kebunnya. Dia mengajak mang Parta dan Bi Yayah yang selama ini menjadi kepercayaan ayahnya dalam mengelola kebunnya. Mang Parta membawa banyak karung sementara bi Yayah membawa bakul yang akan dipakai untuk mengisi kopi-kopi yang telah dipetik. Mereka bertiga bekerja dengan tekun memetik kopi-kopi yang telah merah dan memasukannya kedalam karung dan bakul. Mereka juga mengumpulkan buah-buah kopi yang dimakan musang dan mengumpulkannya dalam karung yang berbeda.
Selama beberapa hari Gima, Mang Parta dan Bi Yayah memanen kopi dan hasilnya berkarung-karung kopi bertumpuk dan diangkut kerumah dengan menyewa beberapa tukang pikul.
“Gima, kamu anak yang baik dan jujur. Ayah percaya padamu kau bisa menjadi petani yang baik seperti ayah dan ibu.” Kata pak Hamid terharu ketika melihat anak bungsunya pulang dengan membawa banyak karung-karung berisi kopi.
“Pekerjaan belum selesai, ayah. Saya, Mang Parta dan Bi Yayah akan segera mengurus kopi-kopi ini, menjemurnya lalu mengolahnya menjadi kopi-kopi yang siap untuk dijual. Mudah-mudahan hasilnya bagus.” Kata Gima.
“Kerjakanlah, ayah percaya padamu.” Kata pak Hamid.
Sementara itu Halin dan Mita berbeda dengan Gima. Mereka tidak mau bekerja keras. Mereka menjual kebun kopi itu dan uangnya dipakai untuk bersenang-senang. Mereka pergi ke kota dan membelanjakan uang hasil penjualan kopi itu pada barang-barang yang sudah lama mereka inginkan dan menginap di hotel mewah dan hidup bersenang-senang.
Pak Hamid sangat kecewa dengan kelakuan Halin dan Mita namun pak Hamid tidak bicara apa-apa.
Beberapa waktu kemudian Halin dan Mita pulang kembali ke desa. Mereka terlihat sangat bingung. Uang hasil penjualan kebun kopi itu telah habis tak bersisa dan sekarang mereka bingung karena sudah tidak punya apa-apa lagi. Mereka mencoba meminta uang pada ayah mereka namun pak Hamid menolak dengan tegas.
“Tidak, anakku.” kata pak Hamid. “Ayah sudah tidak memiliki apa-apa lagi selain rumah yang ayah tempati ini. Rumah ini adalah harta satu-satunya yang masih ayah miliki. Ketiga kebun yang luas itu sudah ayah serahkan dengan adil pada kalian bertiga, namun kau, Halin dan Mita malah menjual kebun yang ayah berikan pada kalian. Hanya Gima yang mengolah kebun kopi seperti ayah dan ibu dulu mengolah kebun kopi sehingga menghasilkan uang dan bisa mencukupi kebutuhan kita. Ayah sangat kecewa dengan kalian berdua. Kalian tidak mau bekerja dan hanya ingin senang saja. Sekarang kalian susah sendiri karena kalian tidak mau bekerja keras. Namun perasaan ayah terhibur melihat Gima sungguh-sungguh bekerja keras sehingga kebun kopi bisa tetap panen dan menghasilkan uang.”
Halin dan Mita menangis mendengar ucapan ayahnya, mereka menyesal telah menyia-nyiakan kepercayaan ayahnya. Sejak itu mereka setiap hari hanya diam dirumah dan bekerja membereskan rumah dan memasak. Sementara Gima  hampir setiap hari pergi ke kebun kopi memeriksa kopinya. Beberapa tahun kemudian dari hasil penjualan kopi Gima sudah bisa membeli lagi beberapa buah kebun dan ditanami kembali dengan kopi. Gima memiliki jiwa usaha. Dia mengolah sendiri kopi yang dihasilkan dari kebunnya dan akhirnya membeli beberapa buah peralatan mesin untuk mengolah kopi-kopinya. Gima mengajak kedua kakaknya untuk bekerja bersama-sama dengannya. Halin dan Mita dengan senang hati mau ikut bekerja keras membantu adiknya. Pak Hamid merasa bahagia melihat Halin dan Mita akhirnya mau berubah dan tidak lagi menjadi gadis pemalas. Halin dan Mita mendapat upah yang layak dari Gima dengan pekerjaannya.