Senin, 04 Januari 2016

Melati Di Kaki Bukit






Melati Di Kaki Bukit

Pondok bambu terbuat dari kayu-kayu yang sudah tua. Namun pondok itu terlihat terawat dengan baik. Lantainya bersih disapu dan dipel tiap hari. Halamannya pun terawat dengan baik. Tumbuhan dan bunga-bunga terpelihara dengan baik. Windi, pemilik pondok itu seorang gadis yang rajin. Pondok itu satu-satunya peninggalan kedua orangtuanya yang sudah meninggal sekian tahun lalu. Untuk menyambung hidupnya, Windi meneruskan usaha orangtuanya membuat beberapa macam makanan diantaranya membuat wajit. Wajit buatan ibunya dulu sangat laku. Wajit yang terbuat dari santan, beras ketan dan gula merah itu yang digodok lalu setelah kental dan mengeras dibungkus dengan kertas warna warni. Setiap hari Windi mengerjakan semua pekerjaannya sendirian. Pagi hari, beberapa orang akan mengambil wajitnnya dan menjualnya.
Pagi itu Windi baru selesai membuat wajit ketika pintu pondoknya ada yang mengetuk.
“Windi! Windi!” suara Mak Ifah, penjual keliling kampung yang biasa mengambil wajitnya terdengar memanggilnya berkali-kali.
Windi membuka pintu. Mak Ifah menurunkan gendongannya, bakul yang diikat dengan sehelai selendang yang diikatkan dibahunya. Lalu diatas bakul itu ada nampan yang berisi dagangannya.
“Masuk, Mak. Aku baru selesai mandi.” Kata Windi sambil mengambil wajitnya yang sudah siap didagangkan.
Mak Ifah membayar wajit itu. “Hari ini cuacanya mendung. Mudah-mudahan tidak keburu hujan.” Kata Mak Ifah sambil menggendong kembali bakul dan nyirunya.
“Ya, sekarang sudah musim hujan, Mak. Jangan lupa membawa payung.” Kata Windi.
“Ini payung lipat selalu ada didalam bakul.” Kata Mak Ifah. Lalu dia menuruni bukit dan mulai berkeliling menjajakan dagangannya.
Mak Ifah, penjual gendongan hanya berkeliling seputar desa mereka. Macam-macam yang dijualnya. Sayur mayur, ikan, makanan kering, dan beragam jajanan. Setiap pagi mak Ifah berkeliling disekitar rumah-rumah penduduk di desa. Beberapa orang sudah menjadi langganannnya. Diusianya yang sudah semakin tua Mak Ifah masih sanggup berjalan jauh naik turun didaerah perbukitan didesa mereka. Kehadiran Mak Ifah sering ditunggu oleh beberapa orang langganannya. Dan wajit buatan Windi menjadi salah satu makanan yang sering ditunggu pelanggannya.
Siang itu Windi sudah sibuk seperti biasanya didapur pondoknya. Api menyala didalam tungku. Diatasnya sebuah katel besar mengepul panas berisi adonan wajit yang tengah diolah Windi.
Meskipun diluar hujan turun rintik-rintik namun udara didalam dapur terasa panas oleh api yang menyala didalam tungku. Windi menambah beberapa potong kayu bakar untuk menjaga nyala api. Tangannya dengan cekatan mengaduk-aduk adonan wajit yang makin lama semakin kental. Tak lama kemudian adonan wajitnya telah matang. Windi mengangkat katel besar dan menempatkannya diatas potongan kayu bulat yang berfungsi sebagai tempat menyimpan katel. Windi lalu menanak nasi dan menyiapkan lauk pauknya berupa ikan peda yang dibungkus dengan daun pisang lalu dimasukan kedalam timbunan abu didalam tungku.
Sambil menunggu nasinya matang, dia keluar rumah memetik leunca yang tumbuh dibelakang pondoknya. Hujan masih turun rintik-rintik. Udara terasa dingin sekali. Apalagi didaerah perbukitan seperti ini. Tak lama Windi kembali masuk kedalam dapur pondoknya dan menaruh leunca yang baru dipetiknya dipiring kaleng kecil. Dia mengambil cowet kecil yang terbuat dari tanah liat dan mulai membuat sambal. Ketika nasinya telah matang dan ikan peda yang diperam didalam abu pun telah matang, Windi mulai makan. Dia menikmati rejekinya hari ini. Makanannya selalu sederhana setiap hari namun ini adalah rejeki yang selalu disyukurinya. Dia merasa nikmat sekali. Selesai makan diakhiri dengan minum secangkir teh panas hangat. Diluar hujan turun dengan derasnya. Langit terlihat mendung pertanda hujan masih akan turun lama. 
Selesai makan pekerjaannya belum selesai. Dia harus membungkus wajitnya dan besok pagi telah siap dijajakan kembali.
Tok. Tok. Tok. Sebuah ketukan dipintu dapur membuatnya menghentikan pekerjaannya.
Windi membuka pintu. Dia melihat seorang gadis kecil yang kelihatannya menggigil kedinginan berdiri didepan pintu dapur.
“Ah, siapa kamu?” tanya Windi. Dia tidak mengenal gadis kecil itu. Beberapa orang gadis kecil yang tinggal disekitar pondoknya dikenalnya dengan baik karena beberapa orang dari mereka kerap bermain-main diseputar pondoknya dan memetik bunga-bunga yang tumbuh disekitar pondoknya.
“Aku...aku lapar sekali.” Sahut gadis kecil itu dengan gigi gemeretuk menahan dingin.
Windi merasa iba melihat gadis itu sehingga dia tidak bertanya lagi.”Masuklah.” kata Windi sambil membuka pintu pondok menyuruh gadis kecil itu masuk. Dengan tubuh menggigil kedinginan, gadis itu masuk dan duduk pada bangku kayu didekat pintu. Tubuhnya basah kuyup.
“Sebentar, aku rasanya masih punya baju kecil bekas aku dulu.” Kata Windi. Dia mengambil baju lama didalam kamarnya dan kembali dengan baju berbunga-bunga kecil baju bekas ketika dia masih kecil.
“Gantilah bajumu. Kau pasti kedinginan.” Kata Windi sambil menyerahan baju itu kepada gadis kecil itu.
“Terima kasih, Kakak.” Gadis itu mengganti bajunya. Ternyata baju itu pas ditubuh gadis kecil itu.
“Kau pasti lapar, makanlah seadanya.” Windi menyediakan makan buat gadis kecil itu. Untunglah masih ada nasi yang tersisa dan ikan peda. Gadis itu makan dengan lahap. Windi merasa kasihan melihat gadis itu yang kelihatannya sangat kelaparan sekali. Dia memberi beberapa buah wajit yang langsung dihabiskan oleh gadis kecil itu. Diluar hujan masih turun dengan derasnya.
“Kamu dari mana? Kenapa sampai berada disini?” gadis kecil itu tidak menjawab. Dia hanya menangis sedih.
“Kenapa kamu menangis? Apakah orangtuamu memarahimu?” tanya Windi.
“Aku sudah tidak punya ayah dan ibu. Keduanya sudah lama meninggal dunia.” Kata gadis kecil itu.
“Siapakah namamu?” tanya Windi.
“Melati.”
“Lalu kamu selama ini tinggal bersama siapa?” tanya Windi.
“Ada saudara dari pihak ibuku yang merawat aku setelah kedua orangtuaku meninggal. Namun Ibu Lala, yang merawatku itu selalu memukuliku bila aku tidak bisa bekerja dengan baik.”
“Pekerjaan apa yang harus kau lakukan?”  tanya Windi.
“Membersihkan rumah, menyapu, mengepel, mencuci dan segala macam pekerjaan rumah.”
Windi termenung. Gadis sekecil itu disuruh mengerjakan beragam pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa.
“Jadi kau pergi dari rumah?” tanya Windi.
“Ya. Ibu Lala sudah beberapa hari tidak memberiku makan karena aku kata bu Lala tidak benar bekerja, katanya lantai masih kotor padahal setiap hari aku selalu menyapu dan mengepelnya. Baju-baju tidak bersih padahal aku selalu berusaha mencuci dengan baik.”
Windi hanya menghela nafas. Dia merasa bingung, apa yang harus dilakukannya. Pintu diketuk dari luar, Mak Ifah masuk sambil menggendong dagangannya.
“Masuk, Mak Ifah.” Kata Windi.
Mak Ifah menurunkan gendongan dagangannya. Matanya melihat pada Melati. Mak Ifah seperti terkejut melihat gadis kecil itu.
“Siapa ini? Rasanya aku pernah melihat gadis kecil ini.” Kata Mak Ifah.
“Namanya Melati.” Kata Windi. Lalu dia menceritakan obrolannya dengan Melati kepada Mak Ifah.
“Mak juga tahu Bu Lala itu. Memang bu Lala sangat galak sekali kepada gadis ini. Kalau Mak lewat depan rumahnya sering mendengar suara Bu Lala yang tengah memarahi gadis kecil ini.” Kata Mak Ifah.
“Tapi tidak baik juga bila kau tinggal disini tanpa meminta persetujuan bu Lala, Melati. Nanti setelah hujan reda, kakak akan mengantarmu pulang kerumahmu.” Kata Windi.
Melati kelihatan tidak mau namun dia tidak mengatakan sepatah katapun. Sore hari Windi mengantarkan Melati kerumahnya. Mereka menuruni bukit lalu menaiki lagi tangga-tangga batu yang jalannya menuju kerumah bu Lala. Tak lama mereka sudah sampai dirumah bu Lala. Bu Lala kelihatan gusar ketika melihat Melati yang pulang diantar Windi.
“Melati tersesat. Tadi dia kerumah saya.” Kata Windi menjelaskan.
“Kau mau kabur lagi rupanya ya? Dasar anak tak tahu diri.” Seru bu Lala.
Windi menahan perasaannya ketika melihat bu Lala memukuli Melati.
“Bu, harap jangan marah pada anak ini......”
“Kau pulanglah! Ini urusanku.” Seru bu Lala sambil menyeret Melati masuk kedalam rumahnya.
Windi pulang dengan perasaan tak menentu. Dia membayangkan Melati yang dipukuli oleh bu Lala. Hatinya terasa pedih. Namun dia meneruskan kembali langkahnya. Dia khawatir bila dia terlalu jauh ikut campur urusan orang lain akan berakibat buruk kepadanya.
Tiga hari kemudian, ketika Windi sedang membungkus wajit, Melati datang lagi kerumahnya dengan baju lusuh, wajah kumal dan letih.
“Ah, Melati. Kau kemari lagi.” Sambut Windi dengan gembira. Windi tahu anak itu kelihatan lapar sekali. Dia memberi anak itu makan. Nasi hangat, tempe goreng, dan ayam panggang. Melati makan dengan lahap sekali. Kelihatan dia sangat lapar sekali.
“Kakak baik sekali.” Kata Melati sambil tersenyum. Wajahnya kelihatan cerah kembali, tidak luyu seperti kedatangannya tadi.
Beberapa kali Melati datang kerumah Windi. Dan selalu disambut Windi dengan gembira karena dia sudah jatuh sayang pada anak kecil yang cantik itu. Namun beberapa waktu kemudian, hampir dua bulan lamanya, Melati tak pernah datang lagi kerumah Windi. Windi merasa kehilangan, dan dia merasa heran kenapa Melati tak pernah lagi berkunjung kerumahnya. Windi sudah menyisihkan uang dan membeli sebuah boneka buat Melati bila nanti dia datang lagi kerumahnya. Namun Melati tak pernah datang lagi kerumahnya. Kemudian Windi mendengar keributan itu. Melati meninggal. Dibunuh oleh bu Lala. Airmatanya mengalir tak henti-hentinya. Dia sudah sangat menyayangi gadis itu. Ada penyesalan dalam hatinya kenapa dia tidak mengambil gadis itu dan merawatnya saja.
“Bu Lala sudah ditahan oleh polisi.” Kata Mak Ifah dengan wajah murung. Beberapa kali bila dia sedang kerumah Windi, dia melihat Melati gadis kecil itu tengah berada dipondok Windi.
“Seandainya kita tahu akhirnya akan begini, Mak pasti setuju bila dulu kau mengambil Melati dan merawatnya disini.” Kata Mak Ifah sambil menghapus airmatanya.
Windi menganguk dengan perasaan sedih. Duka itu terasa menyayat hatinya. Melati, gadis kecil yang cantik itu, yang selalu makan dengan lahap, yang selalu gembira bila tengah ada dipondoknya, kini telah tidak ada lagi. Windi menanam beberapa pohon melati dihalaman di pondoknya. Bunga-bunga melati yang kecil putih bersih itu akan selalu mengingatnya pada gadis kecil bernama Melati yang sangat disayanginya namun takdir menentukan lain, kebersamaannya dengan Melati hanya se

Minggu, 06 Desember 2015

Pondok Kayu








Hujan Angin. 

Pondok petani itu terletak ditengah-tengah ladang yang luas. Pondok  yang terbuat dari kayu dan tidak terlalu besar namun kelihatan sangat bersih dan rapi. Penghuninya adalah tiga orang gadis bersaudara. Kedua orangtua mereka sudah lama meninggal dunia dan meninggalkan warisan berupa pondok  kayu, sawah dan ladang. Irin, Mimi dan Tina meneruskan pekerjaan kedua orangtua mereka menjadi petani. Sawah ladang  peninggalan orang tua mereka digarap dengan baik dan menghasilkan padi serta beragam tanaman palawija yang hasilnya mereka jual ke pasar. Irin, kakak tertua mereka menjadi pengganti orangtua mereka. Setiap hari dia yang bangun paling pagi dan bertanggung jawab dengan semua pekerjaan dirumah dan di ladang. Mimi dan Tina sangat patuh pada kakak tertua mereka dan menganggap Irin sebagai pengganti kedua orangtua mereka.
Pagi itu Irin bangun lebih dulu dari kedua adiknya. Kamar tidur Irin terletak diruangan bawah, bekas kamar kedua orangtua mereka. Sementara Mimi dan Tina tidur di loteng. Irin menyalakan tungku dan menjerang air. Dia mengambil beras, mencucinya dan mulai menanak nasi. Mimi dan Tina yang mendengar kesibukan didapur terbangun dari tidurnya.
“Ah, enak sekali tidurku. Badanku yang pegal-pegal kini rasanya segar kembali.” Kata Mimi sambil menyibakan selimut yang menutupi tubuhnya. Rasanya malas bangun meninggalkan kasur yang hangat. Namun dia ingat dengan tugasnya. Hari ini mereka akan memulai menggarap sawah lagi. Musim hujan telah tiba dan sawah-sawah sudah diairi air lagi. Saatnya musim tanam bagi semua petani.
Tina menguap pelan. Dia mendengarkan kesibukan dibawah, didapur. Sama seperti Mimi, dia pun rasanya malah bangun. Namun dia tak mungkin membiarkan Irin bekerja sendirian. “Ah, kak Irin sudah bangun. Kasihan dia sibuk sendiri.” Kata Tina sambil menyibakan selimutnya. Dia menuruni tangga kayu. Didapur dilihatnya Irin tengah menyiapkan bahan makanan yang akan dimasaknya dan dibawa mereka ke sawah.
“Semalam hujan deras sekali, rasanya aku khawatir  hujan angin semalam akan merobohkan pondok kita.” Kata Tina.
“Ya, aku pun mendengarkan dengan penuh kekhawatiran. Untunglah tidak kudengar ada kejadian apa-apa.” Sahut Irin. Dia menyiapkan piring dan cangkir kaleng yang biasa dibawa ke sawah.
Tina mencuci mukanya dijamban dibelakang dapur. Ketika masuk kembali kedapur Mimi tengah sibuk membantu Irin menyiapkan bekal buat mereka ke sawah. Sementara Irin tengah membuka jendela-jendela dan menyapu ruangan.  Tak lama kemudian terdengar suara adzan subuh. Ketiga gadis itu bergantian mandi dan shalat subuh. Tak lama semua pekerjaan didalam rumah sudah selesai. Mereka sarapan bersama. Walaupun diruangan tengah ada meja kecil yang bisa dipakai untuk makan, namun setiap sarapan pagi sebelum berangkat kesawah, mereka lebih suka makan didapur beralaskan tikar sambil menikmati kehangatan api dari dalam tungku. Setelah selesai makan, sisa api bekas memasak dari dalam tungku akan segera dimatikan. Bekal makanan yang akan mereka bawa pun sudah siap, diletakan dalam bakul masing-masing.
Hari masih pagi ketika ketiga gadis itu berangkat ke sawah. Udara terasa dingin, Tina mengenakan syalnya walaupun dia tahu bila telah bekerja disawah tubuhnya akan berkeringat dan syal itu tak akan digunakan lagi. Ketiga gadis itu berjalan cepat menuju sawah tanpa banyak bicara. Dijalan mereka berpapasan dengan beberapa orang petani yang juga akan pergi ke sawah.
Tiba disawah, masing-masing sudah tahu apa yang harus mereka kerjakan. Irin dan Mimi segera bersiap akan membajak sawah. Irin mengeluarkan bajak yang ada dalam saung mereka. Sementara Mimi mengeluarkan kerbau yang ditambat dalam kandang di saung mereka. Tina memeriksa aliran air dari sungai kecil yang mengairi sawah mereka. Matahari mulai menampakan diri dan ketiga gadis itu bergantian membajak sawah dengan kerbau mereka. Ketika Irin duduk diatas kerbau, Mimi yang membantu ketika kerbau itu akan berbalik arah. Sementara Tina memacul bagian-bagian tanah disudut-sudut sawah yang tidak terbajak oleh kerbau. Mereka bekerja bergantian. Setelah Irin yang menaiki kerbau, lalu diganti oleh Mimi yang menaiki kerbau dan Tina yang membantu membelokan bajak saat kerbau akan berputar aluan. Sementara Irin menggantikan Tina memacul bagian-bagian sawah yang tidak terbajak. Makin lama matahari bersinar makin panas dan terik. Sesekali ketiga gadis itu berhenti, minum dan makan makanan kecil sambil menunggu saat makan tiba. Akhirnya saat makan pun tiba. Ketiga tubuh gadis itu sudah bermandi keringat. Wajah mereka merah karena panas.
“Kita makan dulu!” Irin memanggil kedua adiknya yang masih bekerja disawah. Irin sudah mencuci tangan dan kakinya yang kotor berlumpur pada air pancuran disamping saung. Dia mengeluarkan semua bekal makanan dan menaruhnya diatas amben bilik.
Mimi dan Tina menghentikan pekerjaan mereka. Keduanya mencuci tangan dan kaki mereka yang kotor berlumpur pada air pancuran.
“Udaranya cukup panas, tapi nanti siang pasti akan hujan lagi.” Kata Tina. Dia membuka tudungnya dan mengaitkannya pada kayu tiang saung.
“Langit sebentar lagi mendung. Kita harus bergegas menyelesaikan pekerjaan. Setelah itu kita pulang.” Kata Mimi.
Mereka duduk bertiga menikmati makanan yang sederhana namun terasa nikmat karena tubuh yang lelah sehabis bekerja keras dan perut yang lapar.
Malam itu hujan turun denga derasnya. Ketiga gadis itu tengah berkumpul diruangan tengah, duduk pada kursi mengelilingi meja. Irin tengah merajut sebuah taplak meja. Mimi menyelesaikan membuat baju. Sementara Tina tengah menikmati kue kacang yang dibuatnya minggu lalu.
“Aku ingin punya mesin jahit.” Kata Mimi. “Bila menjahit pakaian dengan mesin jahit pastinya hasilnya lebih bagus dan lebih rapih.”
“Ya, aku pun sudah lama ingin membeli mesin jahit, namun keuangan kita belum cukup. Tunggu saja sampai kita punya cukup uang untuk membeli mesin jahit.” Kata Irin.
“Diujung desa ada seorang penjahit. Jahitannya bagus. Tapi ongkosnya mahal.” Tina menimpali. “Aku pernah melihat Nani, bekas teman sekolahku dulu menjahit baju disana.”
Mendengar kata sekolah, mendadak wajah Irin terlihat murung. Tina melihat perubahan wajah pada kakaknya itu. Dia menyesal telah menyinggung masalah sekolah. Dia tahu Irin sangat ingin meneruskan sekolah. Dia ingin menjadi guru. Namun ketiadaan biaya membuat Irin memendam cita-citanya itu. Bukan hanya Irin, namun kedua adiknya pun sama tidak bisa meneruskan sekolah lagi.
Mimi mendesah. “Nani sekarang bersekolah dimana?” tanya Mimi.
“Aku tidak tahu. Tapi pernah kudengar katanya dia sekolah perawat.” Sahut Tina.
“Nani dan yang lainnya beruntung, mereka bisa meneruskan sekolah.” Ucap Irin. Dia mengangkat wajahnya dari rajutan yang tengah dikerjakannya. Wajahnya yang tadi sekilas terlihat murung, kini sudah biasa lagi. “Tiap orang punya nasibnya masing-masing. Kita bertiga nasibnya menjadi petani.”
“Aku tidak menyesali nasibku menjadi petani.” Kata Mimi. “Dulu aku memang punya keinginan juga ingin meneruskan sekolah. Aku ingin menjadi seorang bidan. Namun ternyata nasib menentukan aku harus menjadi petani. Aku tidak menyesal. Menjadi petani adalah juga pekerjaan. Aku menikmati pekerjaan menjadi seorang petani. Dengan bertani aku juga belajar banyak.”
“Aku pun tidak menyesali nasib menjadi petani.” Ucap Irin. “Hanya kadang, suka terlintas perasaan kecewa bila ingat dengan cita-cita dimasa kecilku dulu aku sangat ingin menjadi guru. Sayang aku hanya sempat sekolah sampai sekolah dasar saja.”
“Bukankah aku dan Mimi juga hanya tamatan sekolah dasar?” sahut Tina. “Aku tidak ingin memberatkan bapa dan ema. Jadi aku cukup puas walaupun hanya tamat sekolah dasar.”
“Ya, intinya kita tak ingin memberatkan bapa dan ema. Kehidupan sebagai petani tidak mudah. Hasil yang diperoleh tidak cukup untuk menyekolahkan kita bertiga.” Ucap Irin.
Irin meletakan rajutannya. Matanya sudah lelah. Mimi mengikuti, dia menyimpan baju yang dijahitnya kedalam kantong dan menaruhnya disudut meja. Besok dia akan melanjutkan kembal menjahit bajunya.
“Perutku lapar, aku akan memanggang pisang.” Kata Mimi sambil bangkit.
“Ya, enak sekali makan pisang panggang dicuaca sedingin ini.” Kata Irin setuju. Dia mengikuti adiknya kedapur dan ikut memilihkan pisang yang akan dipanggang diatas tungku. Tak lama harum pisang panggang mengisi rumah. Tina yang sedang berada dikamarnya bergegas turun dan bergabung dengan kedua kakaknya menikmati pisang panggang. Mereka tengah asyik menikmati pisang panggang ketika tiba-tiba terdengar bunyi berderak yang sangat keras diluar rumah. Ketiganya belum sempat berpikir apa yang tengah terjadi ketika tiba-tiba terdengar suara keras menimpa loteng.
“Apa itu?” Mimi menjerit kaget. Ketiganya serentak keruang tengah dan melihat loteng telah ambruk tertimpa pohon.
“Sudah berkali-kali aku ingin menebang pohon itu.” Kata Irin dengan suara lemas. “Ini akibatnya. Pohon itu sudah sangat tua sekali.”
Mimi mengambil payung dan bergegas keluar diikuti Irin dan Tina. Mereka melihat pohon besar itu telah tumbang. Dahan dan rantingnya menimpa atap dan loteng pondok mereka. Udara malam sangat dingin, namun tubuh ketiga gadis itu berkeringat karena terkejut dengan kejadian yang mengejutkan itu.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Tina. Suaranya serak. Dia teringat pada ayah dan ibunya.
“Tak ada yang bisa kita lakukan malam ini.” Kata Irin. “Kita harus menunggu besok dan meminta bantuan orang untuk menyingkirkan batang pohong itu dan memperbaiki loteng.”
Ketiganya masuk kembali kedalam rumah. Mimi melihat kamar tidurnya telah rusak dan sampah-sampah daun yang masuk dari atap yang hancur berserakan didalam kamarnya. Mimi ingin menangis, namun dia menguatkan perasaannya.
“Siapa yang akan kita minta bantuan untuk menyingkirkan dahan pohon dan memperbaiki loteng ini?” tanya Mimi.
“Kita minta bantuan Pak Danis. Mudah-mudahan dia tidak sedang bekerja ditempat lain.” Kata Irin.
“Kalau begitu, sekarang saja aku akan pergi kerumah pak Danis.” Ucap Mimi.
“Aku ikut.” Kata Tina.
Mimi dan Tina pergi kerumah pak Danis. Pak Danis seorang tukang kayu yang biasa dimintai pertolongan memperbaiki rumah. Sementara kedua adiknya pergi kerumah Pak Danis, Irin mengambil sapu dan membersihkan ruangan tengah yang dipenuhi debu dan kotoran yang turun dari loteng.
Tak lama Mimi dan Tina sudah kembali.
“Besok pak Danis akan kemari.” Kata Tina sambil menutup payung.
“Untunglah pak Danis sedang tida bekerja ditempat lain, jadi besok dia punya banyak waktu memperbaiki rumah kita.” Kata Mimi.
Malam itu tak seorangpun yang bisa tidur. Mimi dan Tina tidur dikamar Irin. Mereka bertiga memejamkan mata namun tak seorangpun yang bisa tidur dengan nyenyak. Ketika malam lewat dan subuh tiba, ketiganya langsung bangun dan pergi ke dapur. Mereka tidak menyiapkan bekal buat ke sawah. Hari ini mereka tidak akan pergi ke sawah. Mereka akan melihat kerusakan yang akan diperbaiki oleh pak Danis. Irin menanak nasi sementara Mimi dan Tina menyiapkan lauk pauknya. Mimi memasak sayur lodeh dan Tina memanggang ikan asin. Selesai memasak, ketiganya keluar rumah. Hari mulai terang dan mereka bisa melihat dengan jelas pohon yang tumbang yang menimpa loteng rumah mereka.
“Kerusakannya sangat parah sekali.” Kata Irin. “Tak mungkin selesai sehari. Kalian lihat, atap rumah nyaris roboh semuanya tertimpa pohon itu.”
Mimi termenung menatap atap rumah yang hancur.
“Kita tunggu pak Danis. Mudah-mudahan biayanya tidak mahal.” Ucap Tina.
Pak Danis datang pagi-pagi sekali. Pak Danis teman ayah mereka. Dia sangat baik dan perhatian kepada ketiga gadis itu.
“Oh, atapnya hancur.” Kata pak Danis. Dia meraba-raba pohon yang tumbang itu. “Tapi kayu pohon ini bisa digunakan untuk memperbaiki rumah kalian.”
“Oh begitukah,  pak Danis?” tanya Irin.
“Ya, kalian tidak usah khawatir. Kayu pohon ini bisa digunakan untuk rumah kalian.” Kata pak Danis. “Aku akan kembali lagi segera dengan membawa seorang pegawai dan mulai bekerja.”
“Terima kasih, pak Danis.” Kata ketiga gadis itu serempak.
Hari itu ketiga gadis itu tidak pergi kemana-mana. Mereka membersihkan sekeliling rumah yang penuh dengan daun-daun yang berserakan dari pohon itu sambil melihat pak Danis dan seorang pegawainya bekerja. Seminggu lamanya pak Danis dan pegawainya bekerja memperbaiki atap dan loteng. Tak lama kemudian pondok kayu itu sudah kembali seperti semula. Atap rumah dibuat lebih tinggi sehingga rumah terlihat lebih tingg. Bahkan jendela loteng pun dibuatkan baru dan kelihatan lebih bagus. Jendela dengan dua daun pintu itu membuat pondok kayu mereka terlihat lebih cantik. Mimi dan Tina sangat gembira melihat kamar mereka sudah selesai diperbaiki bahkan kini lebih bagus. Irin memberi upah buat pak Danil dan pegawainya. Sementara sisa kayu yang masih bisa digunakan dibawa pulang oleh pak Danil.
Sore itu Irin, Mimi dan Tina tengah berada didapur dan baru bisa bernafas lega setelah pondok mereka selesai diperbaiki.
“Rasanya lega sekali setelah pondok ini selesai diperbaiki.” Kata Tina.
“Ya, aku pun merasa lega. Aku sudah ingin tidur lagi dikamarku di loteng.” Sahut Mimi.
Irin menatap kedua adiknya. “Bagaimana kalo kita sekarang membuat roti? Aku pernah membaca sebuah resep membuat roti.”
“Asyik. Kita masih punya waktu sebelum besok kembali lagi ke sawah.” Sambut Mimi gembira.
Irin mengeluarkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat roti. Tepung, telur, mentega dan segala macam bahan lainnya. Ini kali pertama mereka akan membuat roti. Berkali-kali Mimi membaca catatan resep roti hingga catatan itu lusuh kena tangan yang kotor. Ketika roti itu keluar dari pemanggangan, ketiga gadis itu bersorak gembira. Roti buatan mereka mengembang sempurna.
“Ah, rasanya tak percaya, roti buatan kita mengembang dan cantik sekali.” Seru Irin gembira.
“Rasanya pasti lembut sekali.” Kata Mimi dengan wajah berseri.
“Aku masih menyimpan selai nanas. Kita akan menikmati roti  dengan diolesi selai nanas.” Kata Tina.
“Nanti malam kita akan menikmati roti ini bersama-sama.” Irin tersenyum pada kedua adiknya. Sekecil apapun kegembiraan yang mereka peroleh, mereka selalu bersyukur karena mereka masih diberi kegembiraan.
Malam itu hujan turun dengan derasnya. Guruh bergemuruh dengan keras. Halilintar sesekali menyambar memecah langit. Irin dan kedua adiknya duduk mengelilingi meja. Tina mengambil selai nanas dari dalam lemari. Irin mengiris roti sementara Tina mengolesinya dengan selai nanas.
“Hem, enak sekali.” Ucap Mimi ketika menikmati seiris roti dengan selai nanas. 
“Menurutku roti ini masih keras. Aku nanti ingin mencoba lagi membuat roti dan hasilnya lebih lembut dari roti ini.” Kata Irin.
“Ya, hasilnya masih belum begitu lembut, namun ini sudah cukup bagus. Dan rasanya enak sekali.” Ucap Tina.
“Lain kali kita mencoba membuat selai lain, selama ini kita hanya membuat selai nanas karena kita punya nanas di kebun.” Mimi mengambil lagi seiris roti karena irisan yang pertama sudah habis. 
“Aku akan menyisihkan kacang bila panen nanti dan kita buat selai kacang.” Usul Irin.
“Selai kacang? Pastinya enak sekali diolesan pada roti.” Mimi setuju.
Malam itu mereka bisa tidur dengan nyenyak dikamar masing-masing setelah selama seminggu lamanya mereka nyaris hampir tiap malam tidak bisa tidur nyeyak. Esok pagi mereka sudah harus bangun pagi-pagi sekali seperti biasanya. Mereka akan kembali pergi ke sawah karena sawah sudah menunggu mereka untuk kembali digarap. Setelah selesai dibajak, sawah akan segera ditanami padi.


--- 0 ---












Pasar  Tani.

Mimi baru pulang melihat sawah, masuk ke dapur dia memberitahu Irin berita yang didengarnya dari Pak Danis.
“Sekarang diselenggarakan Pasar Tani setiap hari sabtu dan minggu dilapangan dekat alun-alun.” Kata Mimi.
“Apa itu Pasar Tani?” tanya Irin yang tengah menyelesaikan rajutannya sambil duduk pada selembar tikar di dapur.
“Mulanya adalah petani dari desa sebelah,” cerita Mimi menceritakan kembali apa yang didengarnya dari pak Danis. “Dia membawa mobil pick-up-nya dan berjualan didalam mobilnya dilapangan itu. Yang dijualnya adalah hasil-hasil pertanian yang dia hasilkan sendiri juga hasil-hasil pertanian yang dititipkan temannya. Ternyata petani itu berhasil berjualan disana. Banyak pembeli yang datang dan belanja padanya. Sejak itu, banyak petani lain yang menggelar dagangannya disana. Mereka berjualan tidak hanya dengan menggunakan mobil tapi juga membuat stan dan tenda-tenda untuk menggelar dagangan.”
“Apakah hanya hasil pertanian saja yang dijual disana?” tanya Tina.
“Tentu saja tidak, bukan hanya hasil pertanian tapi juga beragam macam jualan digelar disana. Banyak stan yang menjual makanan dan minuman. Ada juga yang berjualan baju sepatu dan beragam peralatan dan perabotan rumah tangga. Peralatan pertanian juga ada disana.”
“Pastinya ramai sekali.” Kata Irin tertarik. Dia menatap Mimi. “Kenapa kita juga tidak ikut berjualan disana? Apakah dikenakan biaya bila akan berjualan disana?”
“Kata Pak Danis, pedagang tidak dikenakan biaya apapun bila ingin ikut berjualan disana. Tinggal memilih tempat saja disekitar lapangan itu.”
“Rasanya menarik sekali, kenapa kita tidak mencoba menjual hasil pertanian kita disana?” ucap Tina.
“Apa yang akan kita jual disana?” tanya Irin sambil berpikir.
“Mengapa kita tidak menjual hasil panen kita, beras yang kita bungkus dalam kemasan yang sudah tertentu, minimal isi tiga kilo sampai 5 kilo.” Ucap Tina.
“Kita harus menggiling dulu padi kita.” Kata Irin.
“Dan membeli plastik untuk membungkusnya.” Sahut Mimi. “Kita punya timbangan yang bisa kita gunakan untuk menimbang setiap bungkus beras.”
“Kita lihat apa saja yang kita miliki di gudang di samping dapur dan membawanya kesana sekali. Pisang yang sudah matang, atau persediaan kacang kedelai yang bisa kita kemas dalam bungkusan-bungkusan kecil.” Usul Tina.
“Kita harus mengecek harga pasar. Jangan sampai harga dari kita lebih tinggi dari harga pasar.” Kata Irin.
Sehari itu mendadak ketiga gadis itu terlihat sibuk. Irin dan Tina melihat dan memeriksa isi gudang tempat mereka menyimpan makanan. Sementara Mimi keluar rumah kerumah bu Titi tetangga mereka untuk menanyakan harga-harga. Tak lama  Mimi sudah kembali. Ternyata Bu Titi sudah sejak sebulan lalu ikut menggelar dagangan dilapangan itu.
“Aku sudah mencatat harga-harga dari bu Titi. Harga-harga ini masih bisa berubah lagi.” Kata Mimi sambil memperlihatkan catatan kecil pada selembar kertas.
“Apa yang dijual bu Titi di pasar tani?” tanya Irin.
“Bu Titi menjual cabe, bawang merah, bawang putih, lengkuas, jahe, kunir dan lain-lainnya.” Sahut Mimi.
“Jangan sampai yang kita jual sama dengan yang lainnya.” Kata Tina.
“Tidak apa-apa kita menjual jualan yang sama karena pastinya pembelinya juga berbeda-beda.” Ucap Irin. Dia mendongak pada dinding yang terpasang papan-papan kayu. Ada beberapa barang yang disimpan disana. Dia naik keatas tangga dan menurunkan beberapa wadah dari bambu dan keranjang. “Ini bisa kita pakai untuk tempat jualan kita. Tinggal dibersihkan dulu.”
Tina yang berdiri dibawah menerima barang-barang yang diturunkan Irin.
“Semuanya masih bagus dan masih bisa kita gunakan.” Kata Mimi.
Tina mencuci bersih wadah-wadah itu dan menjemurnya hingga kering. Irin mengumpulkan pisang yang masih berada dalam tandannya, membuka karung yang berisi kacang kedelai dan kacang hijau. Mimi mengeluarkan timbangan dan plastik. Dia mencoba mengisi sebuah plastik dengan kacang hijau dan menimbangnya.
“Ini seperempat kilo.” Mimi menunjukan plastik berisi kacang hijau pada Irin.
Irin mengangguk. “Ya, cukup seperempatan kilo saja.” Kata Irin.
Mereka memiliki persediaan kacang hijau dan kacang kedelai yang cukup banyak. Setelah menimbang dan membungkusnya dengan plastik, Mimi dan Irin menyisakan kacang hijau dan kedelai untuk persediaan mereka sendiri.  Sore itu mereka bernafas lega karena pekerjaan mereka sudah selesai. Lusa mereka akan ikut berjualan untuk pertamakalinya.
Pagi-pagi sekali sebuah kereta yang ditarik kuda sudah datang ke pondok mereka. Kemarin Mimi pergi ke pangkalan keretek dan memesan keretek agar datang pagi-pagi ke pondok mereka. Ketika keretek itu sudah datang, mereka segera mengangkut apa yang akan mereka jual kedalam keretek. Juga papan-papan kayu yang akan mereka setel nanti menjadi sebuah meja kecil tempat menyimpan jualan. Segera saja keretek itu sudah penuh dengan barang. Kuda itu menarik mereka dengan langkah cepat.
Tiba dilapangan, ternyata sudah banyak pedagang yang menggelar jualan mereka disana. Irin, Mimi dan Tina mencari-cari tempat yang tepat untuk menggelar jualan. Masih banyak tempat yang tersisa. Mereka memilih berjualan dibawah sebuah pohon rindang. Mereka dengan dibantu kusir menurunkan barang-barang mereka. Tina dan Mimi segera memasang papan-papan kayu menjadi sebuah meja kecil. Lalu diatas papan-papan kayu itu dipasang tenda kecil sehingga meja tempat jualan itu terlihat lebih menarik. Sementara Irin mengisi wadah-wadah dengan jualan, kacang hijau, kacang kedelai, pisang dan beras yang sudah dibungkus dengan plastik. Mereka masih sibuk berbenah ketika seorang pembeli menghampiri mereka.
“Berapa harga beras ini?” tanya ibu itu.
Irin bergegas bangkit melayani pembeli mereka. Dia menyebutkan harganya per kilo. Ibu itu mengambil sebungkus beras berisi tiga kilo dan sebungkus kacang hijau.
Bukan main gembiranya perasaan mereka bertiga. Mereka sudah mendapatkan pembeli pertama.
Makin siang pembeli semakin banyak berdatangan memenuhi lapangan itu. Dagangan mereka semakin banyak yang terjual. Siang hari, hanya tersisa sedikit saja jualan mereka yang akan mereka bawa pulang. Irin, Mimi dan Tina membereskan dagangan mereka. Pedagang lainpun sudah mulai memberes-bereskan jualan mereka.
“Aku senang berjualan disini.” Kata Tina sambil mengemasi sisa jualan mereka dan memasukannya kedalam karung. “Kita mendapatkan suasana baru, suasana yang berbeda dengan keseharian kita sebagai seorang petani.”
“Ya, disini kita bertemu dengan banyak kenalan yang juga seorang petani.” Sahut Mimi setuju. “Kita bisa berkenalan dan membicarakan banyak hal menarik seputar masalah pertanian.”
“Aku tadi sempat mengobrol dengan pak Andri. Dia sudah lebih dua bulan berjualan disini setiap hari sabtu dan minggu. Pak Andri banyak memberikan informasi-informasi mengenai pertanian. Dia juga menjadi ketua kelompok tani di desanya.” Kata Irin.
“Oh, Pak Andri yang tadi memperlihatkan foto-foto mesin traktor?” tanya Mimi.
“Ya, dia sudah sejak jaman kakeknya dulu sudah menggunakan traktor untuk menggarap sawahnya. Dan pekerjaanya lebih cepat selesai dan hasilnya juga lebih bagus.” Sahut Irin.
“Kita memang ketinggalan jaman.” Kata Tina. Dia sudah selesai mengemasi barang-barang. “Tapi petani dengan cara tradisional seperti kita juga masih banyak.”
“Kita bisa banyak belajar pada Pak Andri mengenai masalah pertanian.” Kata Irin. Dia melihat keretek yang tadi pagi mereka sewa sudah berada dipinggir lapangan. “Ayo kita kesana mengangkuti barang-barang kita. Aku sudah ingin segera pulang kerumah dan beristirahat.”
“Kita tak perlu memasak untuk makan nanti malam, aku membeli beberapa macam masakan dari tenda sebelah tadi.” Kata Mimi.
Keretek yang membawa mereka pulang rasanya berjalan lambat sekali. Ketiga gadis itu terkantuk-kantuk dalam keretek. Kuda berderap cepat menuju kampung mereka. Kusir mengendalikan kuda dengan baik. Dia senang karena sekarang punya langganan baru setiap hari sabtu dan minggu.
Akhirnya mereka tiba juga dirumah setelah hari sore. Kusir membantu menurunkan barang-barang mereka. Mimi membayar ongkos keretek. Ketiganya masuk dengan perasaan lelah namun puas. Hari ini mereka punya pengalaman baru berjualan langsung dengan apa yang selama ini mereka tanam.
Malam itu kesegaran mereka sudah pulih kembali. Setelah mandi dan makan, rasanya tubuh mereka segar kembali. Mimi mengeluarkan dompetnya dan menghitung uang yang mereka peroleh hari itu. Irin mencatat pengeluaran untuk ongkos dan biaya lainnya.
“Kita masih mendapatkan untung.” Irin tersenyum memperlihatkan catatannya. “Bila jualan kita lebih banyak, pastinya akan lebih banyak juga keuntungan yang kita dapatkan.”
“Untuk kali ini aku merasa puas. Walaupun untung kita sangat sedikit tapi kita sudah mencoba berjualan langsung apa yang kita tanam.” Kata Mimi. Dia menyimpan buku catatannya baik-baik.
“Aku tadi sempat jalan-jalan pada stan pedagang lain. Aku melihat ada yang berjualan rajutan. Aku mendadak ingat pada rajutan-rajutan yang selama ini kubuat dan kukumpulkan, kenapa aku tidak sekalian saja sambil berjualan rajutan juga.” Kata Irin.
“Itu bagus. Aku juga tadi melihat ada yang berjualan kantong belanja yang terbuat dari kain dan dihiasi dengan hiasan dari kain lain sehingga jadi kain belanja yang menarik. Aku juga rasanya bisa membuat kantong belanja seperti itu.” Ucap Mimi.
“Kenapa kau tidak mencoba membuatnya, Mi? Aku melihat hasil jahitanmu sangat rapi dan bagus. Nanti kita sisihkan uang untuk membeli kain dan kau bisa mencoba membuat kantong-kantong belanja dan sekalian dijual.” Ucap Irin.
“Artinya kita nanti punya dua meja yang berbeda. Meja yang satu untuk hasil pertanian dan meja satunya lagi untuk tempat rajutan dan kantong.” Kata Tina.
“Itu bisa diatur. Aku akan mengaturnya nanti, bagaimana menempatkan rajutan dan kantong-kantong itu pada wadah-wadah sehingga tidak akan memakan banyak tempat.” Ucap Mimi.   

                                                                          --- 0 ---