Rabu, 22 Maret 2017

Miranda dan Rosa








Miranda melihat langit yang gelap. Ah, pasti sebentar lagi hujan akan turun lagi, pikirnya. Musim hujan kali ini terasa panjang sekali. Sudah lebih dari enam bulan lamanya hujan masih turun setiap hari. Miranda tengah bekerja digudang kecil dibelakang pondoknya. Gudang itu berantakan. Hujan angin yang kencang beberapa hari lalu telah memporakporandakan gudang dibelakang pondoknya dan beberapa pondok tetangga disekitarnya. Beruntung pondoknya masih bisa bertahan tidak hancur disapu angin kencang.

“Miranda! Miranda!” terdengar suara seseorang memanggilnya. Tak lama kemudian seorang gadis seusia Miranda masuk kedalam gudang menemuinya. Rosa, adalah tetangganya. Pondoknya tidak jauh dari pondoknya. Mereka berdua sama-sama anak petani. Kedua orangtua Rosa dan Miranda sama-sama telah meninggal dunia. Persahabatan mereka sudah berubah menjadi persaudaraan karena mereka merasa sama-sama sudah tidak lagi memiliki orangtua dan keluarga.

“Miranda, langit sangat gelap, aku khawatir hujan dengan angin yang kencang akan datang lagi. Aku khawatir dengan pondokku yang sudah tua akan rubuh diterjang angin kencang.” Kata Rosa dengan wajah penuh rasa khawatir. “Waktu hujan angin kemarin, aku tak berani keluar dari pondokku. Aku hanya duduk dan berdo’a saja semoga pondokku selamat. Ketika hujan reda, aku keluar dan melihat beberapa pondok tetangga kita ada yang hancur diterjang hujan dan angin kencang kemarin.”

“Rosa, berdo’alah. Hanya ini yang bisa kita lakukan.” Sahut Miranda. “Kau lihat sendiri, gudangku ini juga hancur berantakan. Atapnya sebagian ada yang rusak.  Aku sendiri khawatir dengan keadaan pondokku yang sudah tua, namun aku hanya bisa berdoa semoga pondokku  selamat dari terjangan angin kencang yang akhir-akhir ini hampir setiap hari melanda desa kita.

“Kasihan beberapa tetangga kita saat ini sedang sibuk bekerja memperbaiki pondok mereka yang rusak, karena itu mereka sehari ini tidak pergi ke sawah dan ke ladang.” Kata Rosa.

“Ya, apalagi karena hujan yang turun terus menerus membuat padi disawah mereka banyak yang rusak dan busuk sehingga tidak bisa dipanen.” Miranda menarik napas dalam merasakan apa yang tengah dirasakan oleh tetangga-tetangganya yang semuanya adalah petani.

Rosa membantu Miranda membereskan gudangnya yang berantakan. Dia menumpuk  kayu-kayu tua disudut gudang, menyapu lantai gudang dan membereskan barang-barang bekas yang berserakan dilantai gudang.  

Tiba-tiba Rosa berseru, “Miranda! Lihatlah, aku menemukan sebuah karung. Penuh dengan biji-biji kopi.” Seru Rosa sambil memperlihatkan karung didekatnya.

“Apa? Karung kopi?” tanya Miranda. Dia  menghampiri Rosa. Dibukanya karung itu yang ternyata benar penuh berisi biji kopi.

“Ah, aku tidak tahu bila di gudang ini masih ada sesuatu yang berharga yang tersimpan.” Ucap Miranda dengan gembira.

Rosa menatap Miranda.“Apa yang akan kau lakukan dengan sekarung biji kopi ini? Biji-biji kopi ini kelihatannya masih bagus.

Miranda termenung sejenak seakan ada yang dipikirkannya. Dia menatap Rosa, lalu tersenyum. “Aku akan menyemainya menjadi bibit kopi. Rosa, orangtuaku meninggalkan sepetak kebun. Selama ini kebun itu terbengkalai tak terurus dan tidak ditanami apa-apa. Bila aku berhasil menyemai benih-benih kopi itu menjadi bibit kopi, aku akan menanamnya dikebun itu.”

Rosa kelihatan gembira sekali. “Kau betul, Miranda. Kau bisa menanam kopi. Selama ini kau hanya kerja serabutan saja kesana kemari. Sekarang saatnya engkau bekerja dikebun milikmu sendiri.”

Miranda menatap Rosa. “Rosa, aku pasti tidak akan bisa mengerjakan sendiri rencanaku ini. Aku membutuhkan bantuanmu. Maukan engkau bekerja denganku?”

“Tentu saja, Miranda. Aku akan senang sekali bila aku bisa bekerja membantumu.” Sahut Rosa.

“Rosa, kau tidak bekerja begitu saja tentu saja.” Ucap Miranda. “Kau lihat kopi ini ada sekarung. Dari sekarung kopi ini kita bisa mendapatkan bibit kopi yang cukup banyak. Sebagian akan kita tanam dikebunku dan sebagian lagi akan kita tanam dikebunmu.  Dengan demikian kita berdua bekerja sama.”

Rosa mengangguk setuju. “Aku gembira sekali mendengarnya,  Miranda. Kau tahu sendiri selama ini kehidupanku sangat susah.  Aku harus bekerja keras sepanjang hari agar dapat bisa makan. Bila usaha kita bertanam kopi berhasil, siapa tahu kehidupan kita akan berubah. Aku akan bertanya pada Mang Pardi. Dia sudah lama sekali bertanam kopi dan mendapatkan penghasilan yang bagus dari hasil kebun kopinya. Aku akan bertanya dan belajar pada Mang Pardi bagaimana caranya bertanam kopi dan memeliharanya.

“Ya, Rosa. Mulai besok kita akan mulai bekerja. Bertanam kopi membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum kita dapat memetik hasilnya. Namun bila kopi sudah mulai berbuah, kita bisa memanennya setiap tahun. Miranda berkata penuh harap.

Rosa mengangguk setuju.

Esok harinya kedua gadis itu mulai bekerja. Mereka memilih biji-biji kopi yang masih bagus dan membuang biji-biji kopi yang rusak. Lalu biji-biji kopi itu mulai disiangi dan dijadikan bibit. Berminggu-mingu kedua gadis itu bekerja. Setelah bibit itu tumbuh dengan baik, mereka memindahkannya dan menanamnya di kebun mereka. Miranda dan Rosa banyak bertanya pada Mang Pardi yang sudah lama sekali bertanam kopi dan menjadi petani kopi.

Sore itu Rosa datang lagi berkunjung kerumah Miranda. Kali ini Rosa akan menginap dirumah Miranda agar esok pagi mereka bisa berangkat pagi-pagi bersama-sama ke kebun Miranda.

“Miranda, aku tadi berpikir, didesa kita ini belum ada warung kopi, mengapa engkau tidak membuka warung kopi saja didepan rumahmu?” kata Rosa. “Selama ini kau dan aku bekerja serabutan, dan kopi yang kita tanam masih membutuhkan waktu bertahun-tahun lagi hingga akhirnya berbuah.”

“Warung kopi?” sahut Miranda.

“Yah. Warung kopi. Kau tahu, warung kopi memang menyediakan minuman kopi, tapi kau kan pintar membuat aneka macam makanan, kau bisa menjualnya sekalian diwarung kopimu.”

Miranda termenung mendengar usul Rosa. “Pastinya akan membutuhkan biaya untuk memulai usaha membuka warung kopi itu, Rosa. Aku tak punya uang, tapi.....” Miranda menunduk. Dia memperhatikan kalung emas yang tergantung dilehernya. Hanya kalung ini perhiasan yang tersisa yang masih dimilikinya.

“Aku tertarik dengan usulmu itu, Rosa. Aku akan menjual kalung emas ini, bila dari membuka warung nanti ada keuntungan yang bisa aku simpan, aku akan membelikannya lagi pada kalung emas lagi.” Kata Miranda. “Esok kita pergi dulu ke kebun untuk membabat rumput-rumput disekitar tanaman kopi, lalu kita pergi ke pasar untuk menjual kalungku ini sebagai modal usaha.”

Esok harinya sepulang dari kebun, Miranda  dengan diantar Rosa pergi menjual kalung emasnya ke pasar. Uang dari hasil penjualan kalungnya dibuatkan warung didepan pondoknya dan juga membeli segala macam kebutuhan yang dibutuhkannya untuk warungnya. Rosa membantunya dari awal hingga akhirnya warung kopi itu dibuka. Miranda memberi Rosa upah harian selama bekerja diwarungnya. Mereka bukan hanya menjual minuman kopi, namun juga menyediakan makanan yang digoreng. Ternyata warung minum kopi mereka banyak yang menyukainya dan banyak yang mampir. Dari pagi hingga sore selalu ada saja pembeli yang datang dan minum kopi disana. Apalagi Miranda dan Rosa sangat ramah.

Miranda dan Rosa kini tak lagi bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ketika beberapa tahun kemudian tanaman kopi sudah berbuah, warung kopi ditutup untuk sementara, Miranda dan Rosa menghabiskan waktu diladang untuk memanen kopi dan menjualnya pada pengepul kopi. Pertemanan mereka berjalan sekian lamanya hingga akhirnya mereka kemudian  menikah dan memiliki keluarga masing-masing. Namun walaupun sudah menikah dan punya keluarga sendiri, persahabatan mereka tetap terjalin erat.



--- 0 ---


Miranda dan Kupu-kupu






Pangeran Andam membuka jendela kamarnya. Semalam dia baru pulang berburu. Tubuhnya masih terasa letih dan hari ini dia ingin beristirahat di istana sambil menunggu rusa hasil tangkapannya dipanggang oleh koki istana. Udara pagi yang hangat masuk kedalam kamarnya. Pangeran Andam merentangkan kedua tangannya. Ah, tubuhnya terasa segar. Dia melayangkan tatapannya keluar jendela. Mendadak matanya melihat keanehan. Ditengah taman seorang gadis tengah memetik bunga. Diatas kepalanya dikelilingi beberapa ekor kupu-kupu yg beterbangan mengitari seputar kepalanya. Rambut gadis itu hitam mengkilat. Indah sekali. Berkilauan terkena sinar matahari pagi. Sejenak Pangeran Andam tertegun memperhatikan pemandangan yang tidak biasa itu. Baru kali ini dia melihat gadis itu. Siapakah dia? Pikir Pangeran Andam. Saat itu pintu kamarnya mendadak terbuka. Rodim, koki istana berdiri diambang pintu.

“Tuanku, daging rusa hasil tangkapan semalam sudah selesai dipanggang. Barangkali tuanku akan sarapan dengan daging rusa panggang.” Kata Rodim.

“Ah, kenapa sepagi ini daging rusa itu sudah dipanggang?” sahut Pangeran Andam setengah menggerutu. “Aku ingin makan daging rusa panggang itu untuk makan siang nanti.”

“Oh, maaf Tuanku. Saya kira tuan menginginkan daging rusa panggang itu untuk sarapan pagi. Namun bila Tuan menginginkan untuk makan siang, daging rusa bisa dipanggang lagi nanti siang menjelang makan siang.”

“Yah, begitu lebih bagus. Dan jangan lupa bumbunya memakai bumbu jahe ya.” Ucap Pangeran Andam.

“Siap, Tuanku.” Sahut Rodim, merasa lega karena Pangeran Andam tidak memarahinya. Dia segera berbalik akan keluar kamar.

“Rodim! Tunggu dulu! Jangan pergi dulu.” Kata Pangeran Andam tiba-tiba. Matanya melayang lagi keluar, ketaman istana. Gadis itu masih berada disana. “Coba kemari. Siapakah gadis itu? Kenapa banyak kupu-kupu yang beterbangan disekitar kepalanya?”

Rodim mendekati jendela. Dia melihat keluar. Bibirnya tersenyum tipis. “Maafkan tuanku. Gadis itu adalah puteriku.”

“Apa? Puterimu?” seru Pangeran Andam tak percaya. “Gadis itu begitu cantik….”

“Terima kasih, tuanku. Gadis itu memang sebetulnya bukan puteri kandungku. Saya memungutnya sebagai anak ketika kedua gadis itu meninggal dunia. Namanya Miranda. Dia baru sebulan bekerja di istana ini. Setiap hari tugasnya adalah memetik dan merangkai bunga untuk beberapa ruangan di istana.”

“Lalu kenapa banyak kupu-kupu yang beterbangan diatas kepalanya? Aku merasa aneh sekali melihatnya.”

“Rambut Miranda sangat harum sekali seperti bunga, Tuanku. Barangkali hal itu yang membuat kupu-kupu sangat senang sekali berterbangan diseputar kepalanya.” Rodim tersenyum.

Pangeran Andam tertegun. “Ya, sudah, Aku masih ingin tiduran. Jangan lupa makan siangku dengan daging rusa panggang.”

“Baik tuanku.” Sahut Rodim sambil keluar kamar.

Pangeran Andam tetap berdiri didepan jendela kamarnya. Gadis itu kini sudah tidak ada lagi di taman. Miranda. Nama yang cantik, pikir Pangeran Andam.

Siang itu Pangeran Andam sudah duduk di meja makan. Dihadapannya ada daging rusa panggang. Harumnya sangat menggugah selera. Pangeran mengiris sekerat kecil daging. Hem, sedapnya. Mendadak dia melihat seseorang melintas dari ruangan sebelah. Rambutnya yang panjang hitam yang membuat sang pangeran mendadak teringat pada gadis yang dilihatnya ditaman tadi pagi. Pangeran menghentikan santapannya. Dia berharap gadis itu melintas kembali. Namun beberapa saat menunggu gadis berambut hitam panjang mengkilat itu tidak terlihat melintas lagi. Akhirnya sang pangeran segera menyelesaikan makan siangnya.

Setiap pagi Pangeran selalu mengintip dari balik jendela kamarnya barangkali Miranda tengah memetik bunga kembali. Namun dia tidak pernah melihat Miranda lagi. Ah, betapa kecewanya sang pangeran. Dia menyadari bahwa dirinya adalah telah jatuh hati pada sang gadis. Namun dia khawatir kedua orangtuanya akan marah bila mengetahui dirinya jatuh cinta pada anak gadis koki istana.

Suatu hari pangeran Andam akan pergi berburu lagi. Dia pergi ke istal kuda dibelakang istana. Mendadak dia melihat Miranda tengah memetik bunga ditaman dibelakang istana. Pangeran Andam mendekati Miranda.

“Oh, rupanya kau disini.” Tegur sang pangeran.

Miranda menoleh. Dia kelihatan terkejut melihat kedatangan dan sapaan sang pangeran.

“Maaf, tuanku. Apakah tuanku menyapa saya?” Tanya Miranda seakan bingung.

“Yah, aku pernah melihatmu memetik bunga ditaman didepan kamarku. Dan tak pernah kulihat lagi kau memetik bunga disana. Rupanya engkau berada disini.”

Miranda tersenyum. “Betul tuanku. Saya selalu berkelililing memetik bunga ditaman-taman istana. Istana tuanku memiliki banyak sekali taman bunga. Dan saya selalu berkeliling mencari bunga-bunga terbaik untuk mengisi ruangan-ruangan istana.”

“Oh begitu.” Ujar pangeran Andam mengerti. Dia melihat beberapa ekor kupu-kupu yang tengah beterbangan diatas kepala  Miranda. Pangeran Andam terpesona melihat pemandangan yang tidak biasa ini.

“Kupu-kupu itu selalu beterbangan diatas kepalamu. Pastinya kupu-kupu itu senang pada rambutmu.” Kata pangeran Andam.

Miranda menatap kupu-kupu yang begitu dekat dengan kepalanya. Dia mengulurkan jari telunjuknya. Seekor kupu-kupu yang cantik hinggap diujung jarinya. Kelihatan sangat senang hinggap diujung jari Miranda. Miranda tersenyum menatap kupu-kupu itu.

“Yah, kupu-kupu ini semuanya dalah teman-teman saya. Mereka selalu menemani saya setiap kali saya tengah memetik bunga.” Ucap Miranda.

“Dan kupu-kupu itu berterbangan dan hinggap pada rambutmu tentunya karena mereka senang dengan rambutmu yang indah dan harum” ujar pangeran Andam. Dia lalu melihat keranjang bunga gadis itu telah terisi penuh dengan mawar merah, mawar putih dan mawar ungu yang cantik. “Kalau begitu tolong nanti simpankan bunga-bunga mawar itu dikamarku ya.”

“Baik tuanku.” Sahut Miranda.  

Pangeran Andam pergi menuju istal kudanya. Dia mengeluarkan kudanya. Beberapa pengawal yang akan menemaninya berburu telah menunggunya. Tidak lama kemudian rombongan pangeran telah berangkat memacu kuda menuju hutan untuk berburu.

Menjelang sore hari rombongan pangeran telah kembali ke istana. Ketika pangeran masuk kedalam kamarnya, dia melihat sebuah karangan bunga mawar yang besar berada diatas meja dikamarnya. Pangeran Andam tersenyum. Dia merasa senang sekali melihat karangan bunga yang cantik itu. Pangeran Andam memanggil salah seorang pelayan kepercayaannya, Moza.

“Moza, sampaikan pada Miranda nanti malam aku mengundangnya ke taman istana dibelakang.” Kata sang pangeran.

“Baik tuanku.” Sahut Moza.

Malam itu sang pangeran duduk dibangku taman menunggu kedatangan Miranda. Tak lama kemudian Miranda datang. Dia kelihatan malu dan bingung.

“Tuanku, apakah ada kesalahan saya sehingga tuanku memanggil saya kemari?” Tanya Miranda.

Pangeran Andam tersenyum. “Tidak, Miranda. Kau tidak punya kesalahan apapun kepadaku. Aku mengundangmu kemari karena ingin berkenalan denganmu lebih dekat lagi.” Ujar pangeran Andam. “Duduklah disini didekatku.”

“Terima kasih, tuanku. Mana berani saya duduk disitu berdampingan dengan tuanku.” Sahut Miranda sambil tetap berdiri dengan kepala menunduk.

  “Aku yang memintamu duduk disini.” Ucap pangeran Andam.

Miranda menggeleng pelan. “Tidak tuanku. Saya tidak berani duduk disitu.” Sahut Miranda.

Pangeran Andam tersenyum. “Baiklah. Saya tidak akan memaksamu. Rupanya kau memang seorang gadis yang sopan. Sekarang bagaimana caranya agar saya bisa bercakap-cakap denganmu tanpa saya harus berada dalam posisi duduk sementara engkau berdiri disitu?”

Miranda tersenyum menatap sang pangeran. “Saya memiliki cara dimana saya dan tuanku bisa bercakap-cakap dengan leluasa tanpa mengabaikan sopan santun saya kepada tuanku.”

“Bagaimana caranya?” Tanya sang pangeran ingin tahu.

“Pada saat saya tengah memetik bunga-bunga ditaman, tuanku datanglah menemui saya. Pada saat itu apabila tuanku mengajak saya bercakap-cakap dan dilihat oleh banyak orang, tidak akan ada yang menganggap saya tidak sopan. Sambil saya bekerja memetik bunga, saya bisa bercakap-cakap dengan tuanku.”

Pangeran Andam tersenyum. “Baiklah kalau begitu.”

Esok harinya pangeran Andam menemui Miranda yang tengah memetik bunga. Mereka bercakap-cakap sambil menikmati keindahan taman dan sinar mentari pagi yang hangat menyinari bumi. Seperti biasanya kupu-kupu yang cantik berterbangan diatas kepala Miranda. Pangeran senang memperhatikan kupu-kupu itu yang beberapa diantaranya hingga diatas rambut Miranda. Hari-hari selanjutnya apabila  ada kesempatan, pangeran Andam selalu menemui Miranda yang tengah memetik bunga dan mereka bercakap-cakap sambil bersenda gurau disana. Lama-lama akhirnya seluruh penghuni istana mengetahui bahwa Pangeran Andam telah jatuh cinta pada Miranda tukang rangkai bunga istana yang juga puteri angkat Rodim, koki istana. Raja dan permaisuri ternyata tidak mempermasalahkan perbedaan harkat dan derajat diantara pangeran Andam dan Miranda. Mereka terlihat ikut merasa senang melihat pangeran Andam terlihat bahagia bila tengah bersama Miranda. Oh, bukan main bahagianya pangeran Andam mendapatkan restu dari kedua orangtuanya. Tidak lama pangeran Andam melangsungkan pernikahan bersama Miranda. Keduanya hidup bahagia. Miranda tidak lagi menjadi tukang petik bunga dan tukang rangkai bunga istana. Namun dia masih tetap merangkai bunga sendiri untuk ditaruh dikamar yang ditempatinya bersama suaminya.



--- 0 ---

Naila dan Jamu










Didapur istana kesibukan berbeda dari biasanya. Kali ini dapur istana terlihat penuh dengan kesibukan. Beragam bahan makanan, sayuran, buah-buahan, daging, berkarung-karung beras diangkut masuk ke dapur istana dan disimpan didalam gudang.  Sekian banyak pelayan tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Yang memotong sayuran, yang memotong daging, mencuci piring, mencuci sayuran,  menyiapkan bumbu masakan dan beraneka macam pekerjaan lainnya. Semuanya bekerja dengan tekun dan hati-hati karena yang sedang mereka kerjakan adalah beragam masakan, makanan dan minuman yang akan dihidangkan pada pesta perkawinan putra mahkota yang tinggal beberapa hari lagi. Banyak sekali tamu undangan dari kerajaan lain yang akan diundang menghadiri pesta perkawinan putra mahkota dan satu persatu yang berasal dari kerajaan yang jauh sudah mulai berdatangan dan ditempatkan dikamar-kamar istana.

Diantara sekian banyaknya pelayan yang tengah sibuk bekerja, ada seorang gadis yang sama sibuknya juga dengan pelayan lainnya. Gadis itu adalah Naila. Naila sudah beberapa tahun lamanya bekerja sebagai pelayan di istana. Dia sangat rajin bekerja. Karena sudah lama bekerja di dapur istana, Naila pun akhirnya sangat pintar memasak. Meskipun tangannya bekerja dengan sangat cekatan, namun Naila bekerja dengan wajah murung. Perasaannya terasa sedih sekali mengetahui pangeran mahkota, pangeran Alam akan menikah. Ah, ternyata aku hanyalah punguk yang merindukan bulan saja, pikir Naila.

Naila teringat dengan pertemuan pertamanya dengan Pangeran Alam. Saat itu, sekitar setahun lalu, Pangeran Alam tengah sakit. Pangeran Alam selalu menolak makanan apapun yang diberikan kepadanya. Raja dan permaisuri tentu saja sangat risau melihat keadaan pangeran Alam yang makin hari semakin kurus.

"Masaklah masakan yang enak kegemaran Pangeran Alam, bibi Farida." kata permasuri pada Bibi Unti yang merupakan kepala dapur istana.

"Baik, Yang Mulia." sahut bibi Farida.

Di dapur istana, bibi Farida mengumpulkan para pelayan dan memberi perintah untuk memasak masakan yang paling enak yang digemari oleh sang pangeran.

"Biasanya pangeran sangat suka dengan gulai kambing." kata salah seorang pelayan.

"Pangeran sangat gemar dengan sate domba." kata pelayan yang satunya lagi.

"Pangeran sering minta dimasakan bistik." kata yang lainnya.

"Pangeran gemar dengan iga bakar." kata yang lainnya lagi.

Masing-masing pelayan memberitahu makanan kegemaran sang pangeran.

"Kalau begitu, masaklah apa yang disukai sang pangeran." kata bibi Farida.

Ketika saat makan tiba, pelayan istana mendorong kereta makanan yang penuh berisi beragam masakan dan makanan kegemaran sang pangeran. Ada gulai kambing, ada sate domba, ada bistik daging sapi, ada iga bakar, beragam kue dan minuman. Namun ketika pangeran melihat semua makanan itu, dia tetap menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak ingin makan apapun. Bawalah kembali semua makanan itu." kata sang pangeran.

"Anakku, kau harus makan. Tubuhmu semakin lama semakin kurus saja. Apa makanan yang kau inginkan? Biar juru masak istana akan membuatkannya untukmu." kata permaisuri.

"Tidak bu, aku tidak ingin makan apapun." kata pangeran Alam.

"Kau tidak bisa begitu. Sakitmu tak akan pernah sembuh bila engkau tidak mau makan apapun." kata permaisuri dengan kesal. Dia mengambil sebutir apel dan menyodorkannya pada sang pangeran.  "Bila semua makanan tadi kau tolak, makanlah apel ini. Kau harus mengisi perutmu agar tidak kosong."

"Ah, ibu. Aku memang tidak mau makan apapun." sahut sang pangeran.

Oh, bukan main sedihnya perasaan permaisuri. Saat itu Naila melintas didepan kamar sang pangeran. Permaisuri melihat pelayan yang melintas, dia memanggilnya.

"Pelayan, kemari. Ambilah piring buah-buahan ini kedapur. Sang pangeran tetap tak mau makan apapun." kata permaisuri.

Naila menerima piring buah-buahan itu. Dia merasa kasihan melihat tubuh sang pangeran yang semakin kurus. Namun tanpa banyak cakap Naila membawa piring itu ke dapur. Dia termenung memikirkan sang pangeran. Apa sebenarnya sakit sang pangeran? Kenapa semua makanan yang enak-enak dan lezat-lezat ini ditolaknya? Naila melihat tumpukan kunyit didalam wadah bumbu dapur. Tiba-tiba terlintas dalam benaknya untuk membuatkan jamu untuk sang pangeran. Naila segera membersihkan kunyit dan mengambil asam yang telah masak. Dia lalu mengolah bumbu dapur itu menjadi minuman yang menyegarkan. Setelah selesai, bergegas dia menuju kamar sang pangeran dan mengetuk pintu.

"Siapa?" tanya sang pangeran.

"Saya, tuanku." sahut Naila sambil mendorong pintu.

Sang pangeran melihat Naila yang membawa nampan.

"Apa itu?" tanya sang pangeran.

"Ini minuman yang sangat menyegarkan. Pangeran belum pernah mencoba minuman seperti ini. Cobalah dulu." kata Naila sambil menyodorkan gelas berisi minuman kunyit asam buatannya.

"Sudah kubilang aku tidak mau makan dan minum apapun." sahut pangeran.

"Tuanku, cobalah seteguk saja. Bila yang seteguk itu tidak terasa enak, silahkan tuanku membuang minuman ini." bujuk Naila.

Melihat kesungguhan pelayan itu, akhirnya pangeran menerima gelas yang disodorkan kepadanya. Dia minum seteguk. Minuman itu terasa aneh. Baunya juga aneh.

"Minuman apa ini?" tanya pangeran sambil memperhatikan isi gelas yang berwarna kuning.

"Minuman ini adalah jamu, tuanku. Terbuat dari kunyit dan asam serta madu. Rasanya memang aneh. Namun minuman ini dipercaya akan menyembuhkan beragam penyakit, akan membuat tubuh kuat dan segar. Ini adalah minuman yang sangat menyehatkan." kata Naila menjelaskan.

Pangeran mencoba seteguk lagi. "Baunya memang aneh, rasanya pun tidak enak, namun rasanya perutku terasa nyaman." kata sang pangeran.

"Apabila pangeran suka, minuman ini bisa dicampur dengan kuning telur ayam kampung. Pangeran pasti akan segera pulih kembali." kata Naila.

"Kalau begitu, cobalah campur dengan ayam kampung, aku ingin mencobanya." kata sang pangeran.

Bergegas Naila pergi kedapur mengambil sebutir ayam kampung dan kembali lagi ke kamar pangeran. Naila memecahkan ayam kampung dan memisahkan putih telur dengan merah telurnya. Merah telurnya dimasukan kedalam gelas. Lalu diaduknya.

"Silahkan tuanku diminum kembali." kata Naila.

Kali ini pangeran meminum segelas jamu itu sampai habis. Setelah itu Naila memberikan segelas godogan gula merah dan secangkir anggur. Pangeran meminumnya sampai habis.

"Siapa namamu?" tanya sang pangeran.

"Naila, tuanku." sahut Naila penuh hormat.

"Naila, aku menyukai minuman yang kau buat. Besok aku buatkan lagi minuman yang seperti tadi. Lidahku terasa pahit tapi tubuhku terasa segar." kata pangeran.

"Baiklah, tuanku. Besok saya akan membuatkan lagi jamu untuk tuanku hingga tuanku bisa sembuh kembali seperti sedia kala." ucap Naila. "Tapi tuanku......"

"Ada apa?" tanya sang Pangeran.

"Tuanku, minuman jamu ini sangat menyehatkan buat tubuh tuanku, namun tetap saja tubuh tuanku membutuhkan beraneka macam makanan lainnya yang akan membuat tuanku akan kembali pulih seperti sediakala."

"Aku tidak mau makan......." Pangeran mendadak ragu. Perutnya terasa lapar. "Tapi yah, aku merasa lapar. Ambilkan aku makanan yang enak. Aku ingin makan sekarang."

Oh, bukan main gembiranya raja dan permaisuri ketika mendengar pangeran ingin makan. Naila dan beberapa pelayan segera sibuk menyiapkan makanan buat sang pangeran dan dibawa kekamar sang pangeran. Pangeran makan dengan lahap sekali.

Sejak saat itu sang pangeran selalu ingin dibuatkan jamu oleh  Naila dan sakit pangeran berangsur sembuh. Karena sering bertemu dengan sang pangeran, akhirnya Naila jatuh cinta pada sang pangeran. Dalam hatinya dia berharap sang pangeran pun menyukainya. Namun tak lama setelah pangeran sembuh, Naila mendengar kabar bahwa pangeran akan melangsungkan pernikahannya dengan puteri Emma dari kerajaan tetangga. Oh, bukan main sedihnya perasaan Naila. Namun dia menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang pelayan saja.

Hari pernikahan sang pangeran semakin dekat. Semua rakyat ikut gembira. Sementara Naila kembali sibuk dengan pekerjaannya didapur. Dia merasa hatinya sedih. Pangeran kini pasti sudah tidak ingat lagi kepadanya.

Malam itu Naila duduk didepan jendela kamarnya sambil melamun. Langit bertaburan bintang. Cahayanya berkelap-kelip.  Indah sekali.  Dia menatap keluar kamarnya. Tiba-tiba dia melihat seseorang melintas dihalaman. Orang itu berdiri tidak jauh dari kamarnya. Naila memperhatikan orang itu. Dalam kegelapan dia tidak mengenali siapa orang itu.

"Naila, kemarilah." panggil orang itu. Naila memperhatikan sejenak. Dia mengerutkan keningnya. Orang itu ternyata adalah pangeran Alam. Ah, ada apakah Pangeran Alam memanggilnya? Bukankah lusa Pangeran Alam akan melangsungkan pernikahan? Naila merasa ragu, namun akhirnya dia keluar juga menemui Pangeran Alam.

"Naila, aku sengaja menemuimu. Aku ingin bicara denganmu." kata pangeran.

"Mau bicara apakah, tuan?" tanya Naila.

"Naila, engkau telah mengobati aku. Aku merasa berhutang budi kepadamu. Lusa aku akan menikah, namun aku tetap merasa ragu."

"Ah, kenapa ragu, tuanku?"

"Naila, aku hanya ingin menikah denganmu, gadis yang telah mengobati aku."

"Tuanku, hamba hanya berusaha semampu hamba untuk mengobati tuanku, namun hamba tidak mengharapkan balasan apapun dari tuanku." sahut Naila.

"Naila, aku tahu engkau tulus mengobati aku, namun aku tetap akan merasa berhutang budi kepadamu. Namun disamping itu, aku tak bisa melupakanmu. Aku.... " Pangeran menatap Naila.

Naila merasa malu ditatap seperti itu oleh sang pangeran. Ah, kenapa hatinya menjadi berdebar-debar seperti ini?

"Naila, maukah engkau menikah denganku?" tanya sang pangeran.

"Ah, mana mungkin, tuanku. Tuanku sudah akan menikah dengan seorang puteri. Bagaimana mungkin tuanku akan bisa menikah dengan hamba?" seru Naila terkejut.

"Naila, semula aku hanya ingin patuh dan taat pada keinginan ayah dan ibuku yang telah menjodohkan aku dengan Puteri Emma.  namun ayah dan ibuku tahu aku tidak mencintai calon istriku. Ayah dan ibuku tahu, sejak engkau mengobati aku, aku sudah jatuh cinta kepadamu dan beliau memberiku kesempatan....."

"Bagaimana dengan Puteri Emma?"

"Puteri Emma sudah tahu bahwa aku tidak mencintainya. Begitu juga dengan Puteri Emma, dia pun tidak mencintaiku. Jadi kami sudah sepakat untuk mengakhiri semua ini sebelum perkawinan berlangsung."

"Ah, tuanku....." Naila menjadi bimbang.

"Naila, menikahlah denganku...."

Hari itu di istana diselenggarakan pesta pernikahan sang pangeran. Namun bukan dengan Puteri Emma seperti yang diketahui rakyat selama ini, melainkan dengan Naila. Semua rakyat merasa terkejut, namun akhirnya mereka tetap bergembira karena akhirnya sang pangeran sudah memiliki pendamping.







  


Pak Hamid dan Ketiga Putrinya









Pak Hamid memiliki tiga anak perempuan. Halin, Mita dan Gima. Istrinya telah lama meninggal dunia sehingga pak Hamid membesarkan ketiga putrinya sendirian saja. Ketika ketiga anak gadisnya telah cukup dewasa, pak Hamid berniat membagikan hartanya pada ketiga anak gadisnya.

“Anakku, ayah sekarang sudah tua dan ayah rasanya sudah tidak sanggup lagi bekerja.” Kata pak Hamid suatu hari pada ketiga anak gadisnya. “Ayah berniat akan menyerahkan kebun yang selama ini menjadi mata pencaharian ayah kepada kalian bertiga. Kebun yang satu terletak diujung desa kita ini, sebuah perkebunan yang luas yang ayah Tanami dengan kopi. Kebun yang kedua terletak diperbatasan desa ini, sama dengan kebun yang pertama, kebun inipun ditanami dengan kopi. Lalu yang satu lagi kebun itu terletak dilereng gunung. Seperti kebun yang pertama dan kebun yang kedua, kebun inipun ditanami dengan kopi.”

Ketiga anak gadisnya mendengarkan kata-kata ayahnya dengan seksama.

“Ayah akan membagikan ketiga kebun itu kepada kalian bertiga. Kebun yang pertama ayah serahkan padamu Halin, lalu kebun yang kedua untukmu Mita dan kebun yang terletak dilereng gunung ayah serahkan untukmu, Gima. Semua kebun itu berisi pohon-pohon kopi yang selama ini selalu menghasilkan kopi-kopi yang bagus. Sekarang kebun-kebun itu sudah menjadi milik kalian, silahkan kalian pelihara dengan sebaik-baiknya seperti ayah selama ini memelihara kebun-kebun kopi itu sehingga bisa menghasilkan uang dan bisa mencukupi segala macam kebutuhan kita.”

Ketiga anak gadisnya mengucapkan terima kasih pada ayah mereka.

Esok harinya ketiga anak gadis itu melihat kebun masing-masing. Halin naik delman menuju kebunnya. Tidak lama kemudian dia sudah sampai dikebunnya dan merasa takjub melihat kebunnya yang penuh dengan pohon-pohon kopi yang tengah berbuah lebat. Buah-buah kopi yang telah matang berwarna merah dan kuning. Oh, bukan main senang perasaannya melihat kopi-kopi yang telah matang dan siap untuk dipanen.

Mita pun pergi kekebun bagiannya. Ketika tiba dikebunnya, bukan main senang hatinya melihat kebun kopi yang tengah berbuah lebat dan siap dipanen. Dia membayangkan akan segera mendapatkan banyak uang dari hasil penjualan kopinya.

Sementara itu Gima pun pergi melihat kebun kopinya yang terletak di lereng gunung. Berbeda dengan kebun bagian kedua kakaknya yang terletak ditanah yang datar, kebun bagiannya terletak dilereng gunung. Untuk mencapai kebunnya jalannya menanjak dan berbatu. Tidak ada kendaraan yang bisa mencapai kebunnya dan harus ditempuh dengan berjalan kaki saja. Gima berjalan sendirian menuju kebunnya. Perasaannya terasa gamang melihat jalanan yang menanjak sementara kebunnya masih jauh. Namun dia terus melangkah dan merasa yakin bahwa akhirnya dia akan tiba juga dikebun yang menjadi bagiannya. Dia teringat pada ibunya yang menyayanginya dan perasaannya mendadak menjadi sedih. Namun dia menguatkan perasaannya dan terus melangkahkan kakinya menapaki jalanan yang menanjak dan berbatu. Peluh membanjiri tubuhnya. Sesekali dia berhenti dan beristirahat sejenak sambil menikmati bekal makanannya, setelah itu dia meneruskan kembali langkahnya. Akhirnya dia tiba juga dikebunnya. Segala kelelahan terasa sirna ketika dia melihat kebun yang menjadi bagiannya penuh dengan pohon-pohon kopi yang tengah berbuah lebat. Kopi-kopi itu telah siap dipanen. Bukan main gembira perasaannya. Dia berniat dalam hati akan memelihara kebun kopinya dengan sebaik-baiknya karena selama ini kehidupan mereka sehari-hari berasal dari hasil kebun kopi.

Esok harinya Gima kembali lagi ke kebunnya. Dia mengajak mang Parta dan Bi Yayah yang selama ini menjadi kepercayaan ayahnya dalam mengelola kebunnya. Mang Parta membawa banyak karung sementara bi Yayah membawa bakul yang akan dipakai untuk mengisi kopi-kopi yang telah dipetik. Mereka bertiga bekerja dengan tekun memetik kopi-kopi yang telah merah dan memasukannya kedalam karung dan bakul. Mereka juga mengumpulkan buah-buah kopi yang dimakan musang dan mengumpulkannya dalam karung yang berbeda.

Selama beberapa hari Gima, Mang Parta dan Bi Yayah memanen kopi dan hasilnya berkarung-karung kopi bertumpuk dan diangkut kerumah dengan menyewa beberapa tukang pikul.

“Gima, kamu anak yang baik dan jujur. Ayah percaya padamu kau bisa menjadi petani yang baik seperti ayah dan ibu.” Kata pak Hamid terharu ketika melihat anak bungsunya pulang dengan membawa banyak karung-karung berisi kopi.

“Pekerjaan belum selesai, ayah. Saya, Mang Parta dan Bi Yayah akan segera mengurus kopi-kopi ini, menjemurnya lalu mengolahnya menjadi kopi-kopi yang siap untuk dijual. Mudah-mudahan hasilnya bagus.” Kata Gima.

“Kerjakanlah, ayah percaya padamu.” Kata pak Hamid.

Sementara itu Halin dan Mita berbeda dengan Gima. Mereka tidak mau bekerja keras. Mereka menjual kebun kopi itu dan uangnya dipakai untuk bersenang-senang. Mereka pergi ke kota dan membelanjakan uang hasil penjualan kopi itu pada barang-barang yang sudah lama mereka inginkan dan menginap di hotel mewah dan hidup bersenang-senang.

Pak Hamid sangat kecewa dengan kelakuan Halin dan Mita namun pak Hamid tidak bicara apa-apa.

Beberapa waktu kemudian Halin dan Mita pulang kembali ke desa. Mereka terlihat sangat bingung. Uang hasil penjualan kebun kopi itu telah habis tak bersisa dan sekarang mereka bingung karena sudah tidak punya apa-apa lagi. Mereka mencoba meminta uang pada ayah mereka namun pak Hamid menolak dengan tegas.

“Tidak, anakku.” kata pak Hamid. “Ayah sudah tidak memiliki apa-apa lagi selain rumah yang ayah tempati ini. Rumah ini adalah harta satu-satunya yang masih ayah miliki. Ketiga kebun yang luas itu sudah ayah serahkan dengan adil pada kalian bertiga, namun kau, Halin dan Mita malah menjual kebun yang ayah berikan pada kalian. Hanya Gima yang mengolah kebun kopi seperti ayah dan ibu dulu mengolah kebun kopi sehingga menghasilkan uang dan bisa mencukupi kebutuhan kita. Ayah sangat kecewa dengan kalian berdua. Kalian tidak mau bekerja dan hanya ingin senang saja. Sekarang kalian susah sendiri karena kalian tidak mau bekerja keras. Namun perasaan ayah terhibur melihat Gima sungguh-sungguh bekerja keras sehingga kebun kopi bisa tetap panen dan menghasilkan uang.”

Halin dan Mita menangis mendengar ucapan ayahnya, mereka menyesal telah menyia-nyiakan kepercayaan ayahnya. Sejak itu mereka setiap hari hanya diam dirumah dan bekerja membereskan rumah dan memasak. Sementara Gima  hampir setiap hari pergi ke kebun kopi memeriksa kopinya. Beberapa tahun kemudian dari hasil penjualan kopi Gima sudah bisa membeli lagi beberapa buah kebun dan ditanami kembali dengan kopi. Gima memiliki jiwa usaha. Dia mengolah sendiri kopi yang dihasilkan dari kebunnya dan akhirnya membeli beberapa buah peralatan mesin untuk mengolah kopi-kopinya. Gima mengajak kedua kakaknya untuk bekerja bersama-sama dengannya. Halin dan Mita dengan senang hati mau ikut bekerja keras membantu adiknya. Pak Hamid merasa bahagia melihat Halin dan Mita akhirnya mau berubah dan tidak lagi menjadi gadis pemalas. Halin dan Mita mendapat upah yang layak dari Gima dengan pekerjaannya.


Dusun Kaliki





Mata air itu hanya satu-satunya sumber mata air yang dimiliki warga dusun Kaliki. Untuk mendapatkan air warga setiap pagi berduyun-duyun mendatangi mata air sambil membawa gentong untuk tempat air. Jarak yang jauh yang harus ditempuh membuat kehidupan terasa sulit. Winarya kades Kaliki sangat memahami kesulitan warganya. Namun untuk menarik air dari sumber mata ar dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. salah satunya adalah bambu yang akan dipakai untuk menyalurkan air.

Suatu hari musim kemarau melanda desa Kaliki. Pohon-pohon meranggas. Tanah kering dan terbelah. Sawah-sawah tak terairi sehingga petani tidak bisa menanam padi. kehidupan warga sangat sengsara. Mereka makan apa saja yang masih bisa dimakan saat persediaan padi semakin menyusut hingga akhirnya habis. Singkong, ubi, ubi jalar, jagung menjadi pilihan ketika beras sudah habis.

Sari, anak gadis Winarya hampir setiap hari mengambil air dengan gentong dari mata air. Sambil mencuci pakaian. Sumber mata air itu semakin surut. Dia berpikir harus ada yang dilakukan untuk menanggulangi kesengsaraan ini.

Suatu hari dia berkata pada ayahnya.

"Bapak, sumber mata air semakin surut sementara kebutuhan air bersih harus tetap terpenuhi setiap hari. Harus ada yng kita lakukan untuk mengatasi hal ini." kata Sari kepada ayahnya.

"Sari, hampir setiap waktu Bapak pun memikirkan hal ini. Namun sampai sekarang bapak masih bingung bagaimana mengatasi semua kesulitan ini." kata winarya.

"Bapak, saya akan mengajak anak-anak muda di dusun kita ini untuk mengalirkan air dari sumber mata air ke sebuah tepat disekitar kita yang akan menjadi tempat penampungan air dan kemudian dari tempat penampungan air itu kita alirkan lagi air itu kebeberapa buah bak penampungan air lainnya dibeberapa tempat sehingga setiap penduduk tidak harus terlalu jauh berjalan untuk mendapatkan air."

"Kau benar, namun untuk melaksanakan hal itu dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kita perlu tenaga dan peralatan yang jumlahnya tidak sedikit."

"Ayah, soal tenaga tidak perlu khawatir. Saya akan mengajak anak-anak muda teman-teman saya di dusun ini untuk bekerja bergotong royong. Soal peralatan, kita akan memakai peralatan seadanya saja yang dimiliki oleh penduduk disini. Mengenai bambu, disini banyak tumbuhan bambu yang bisa kita manfaatkan. Tentu kita akan membelinya dari pemiliknya. Dan untuk membeli bambu itu kita akan meminta warga untu mengumpulkan sumbangan dan dari hasil uang sumbangan yang terkumpul itu akan kita gunakan untuk membeli bambu. Persoalannya tidak sederhana tapi kita harus mau mencobanya."

Winarya termenung mendengar ucapan anaknya. Lalu dia mengangguk. "Kau benar, ayah akan mencoba bicara dengan beberapa orang penduduk.

Esok harinya Winarya berbicara dengan beberapa orang penduduk. Beberapa orang langsung bersedia, namun ada juga yang menolak. Namun Winarya merasa puas karena yang mendukung rencananya jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang menolak. sari menemui teman-temannya membicarakan siapa saja yang bersedia bekerja gotong royong untuk mengalirkan air dari tempat yang jauh itu.

Sari dikenal sebagai gadis yang rajin dan cekatan. Dia juga ramah dan baik hati. Ajakannya disambut dengan gembira oleh anak-anak muda didesanya.

"Ya, sari kami bersedia bekerja gotong royong seperti rencanamu." kata mereka.

Beberapa hari kemudian bambu-bambu sudah terkumpul hasil dari sumbangan penduduk.  Sari dan teman-temannta sudah siap bekerja. mereka mulai dengan mengukur bambu-bambu itu, memotong dan kemudian disambung-sambung ketempat yang sudah ditentukan. sementara winarya dan beberapa orang lainnya bekerja ditempat yang akan dibuat bak besar utama untuk menampung air. dari uang as dusun mereka membeli semen, batu bata dan mulai  membangun bak besar untuk menampung air. Sementara ibunya Sari bersama perempuan desa lainnya bekerja didapur  menyediakan makanan untuk warga yang tengah bekerja dan bergotong royong. mereka semua berharap air akan segera mengalir untuk memenuhi segala macam kebutuhan semua warga desa. begitu pentingnya keberadaan air itu sehingga semuanya bekerja dengan penuh semangat dan harapan.

Dua bulan lamanya warga dusun bekerja bergotong royong. Akhirnya air jernih yang bening mengalir ke bak penampungan besar.

"Sari, bapak sangat bangga kepadamu. Kau seorang gadis yang pintar dan bijak. Dusun ini membutuhkan seorang pemimpin yang sepertimu. Kau lihat, selama bapak menjadi kepala desa tak banyak yang bisa bapak lakukan. tapi kau sudah banyak berbuat. kau yang mengajarkan anak-anak beragam keterampilan dan kerajinan. Dan kau sering memberikan pemecahan pada masalah-masalah yang terjadi didesa ini."

Sari hanya tersenyum mendengar ucapan ayahnya. dia sangat mencintai desa kaliki, tempat dia dilahirkan, dia sendiri punya mimpi kelas desanya akan berubah menjadi desa yang makmur.


Daun-daun Emas







Hujan turun begitu derasnya. Diluar angin bertiup dengan kencang. Pondok bambu tua yang sudah lapuk itu terasa  bergoncang tiap kali angin bertiup dengan kencangnya. Mira dan Nuri menutup jendela dan pintu rapat-rapat. Keduanya merasa cemas angin yang bertiup sangat kencang itu akan merobohkan gubuk mereka.

Sudah hampir tiga bulan lamanya udara buruk melanda desa mereka.  Hampir setiap hari hujan deras disertai dengan angin ribut menerpa desa mereka. Beberapa tanggul sudah jebol. Sawah –sawah tergenang banjir sehingga tanaman padi  membusuk. Demikian pula dengan ladang-ladang pun tergenang banjir sehingga segala macam tanaman menjadi rusak.

Hampir seluruh penduduk desa dilanda kesusahan. Mereka tidak bisa pergi ke sawah dan ladang mereka karena cuaca buruk yang melanda desa mereka. Demikian pula dengan Mira dan Nuri. Mereka tidak berani pergi ke ladang karena khawatir dengan cuaca buruk.  Apalagi ibu mereka sudah beberapa waktu lamanya  terbaring sakit. Sehingga mereka hanya berdiam saja didalam pondok sambil menjaga ibu mereka.

Saat itu hari sudah malam.  Langit sangat gelap sekali. Hujan belum juga berhenti. Sesekali angin bertiup dengan kencang. Setiap kali terdengar bunyi berderak dari pintu dan jendela, ibu memanggil keduanya dari dalam kamarnya.

“Mira! Nuri! Tutup pintu dan jendelanya!” kata ibu dengan suara parau.

“Sudah bu, kami sudah menutup pintu dan jendela. Namun pintu dan jendela sudah rusak, tidak bisa ditutup rapat-rapat.” Kata Mira dan Nuri bergantian menemui ibunya.

Ibu keluar kamar dengan langkah tertatih-tatih. Ibu sudah sejak lama menderita sakit. Dulu ibu rajin pergi ke ladang menggarap sepetak ladang mereka, namun sejak ibu sakit Mira dan Nuri yang menggantikan pekerjaan ibu. Namun kini hujan turun hampir setiap hari sehingga Mira dan Nuri pun tidak bisa pergi ke ladang.

Persediaan makanan mereka sudah semakin sedikit. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan selama musim hujan ini. Untuk menjaga persediaan makan yang semakin sedikit, Mira dan Nuri sering hanya membuat bubur saja, dicampur dengan kentang dan wortel. Mira pintar memasak. Masakannya enak. Walaupun mereka hanya bisa memasak bubur, namun bubur buatan Mira sudah bisa mengenyangkan perut mereka.

“Ibu lapar, apa yang bisa kita makan sekarang?” Tanya ibu.

Mira mengambil mangkok besar berisi bubur yang masih hangat. “Kita masih punya bubur, Bu. Ada campuran wortel dan kentang yang sudah dihaluskan. Baunya harum. Masih ada sedikit daging ayam yang saya campurkan. Cobalah.”

Mereka bertiga duduk diatas tikar sambil menikmati bubur pada piring masing-masing. Pada saat itulah terdengar ketukan pelan pada pintu dapur. Nuri membukakan pintu. Dia melihat seorang nenek berdiri diluar dengan tubuh menggigil kedinginan. Tubuhnya basah kuyup kehujanan.

“Nak,  bolehkan nenek menumpang berteduh sebentar disini?” Tanya nenek itu.

Nuri terdiam sejenak sambil memperhatikan nenek itu. Mendadak terdengar suara halilintar menggelegar keras mengejutkannya dan nenek itu. Nuri tidak berpikir lagi, dia langsung membuka pintu gubuknya lebar-lebar.

“Oh, tentu saja nek, silahkan masuk.” Sahut Nuri.

Nenek itu masuk kedalam gubuk tua itu. Nenek itu melihat pemilik rumah tengah menyantap bubur. Namun nenek itu segera duduk sambil menyelunjurkan kakinya. Kelihatannya nenek itu sangat lelah sekali.

Mira dan ibu bertukar pandang. Mereka tidak memiliki makanan lain selain bubur itu. Akhirnya Mira mengambil mangkok buburnya dan menghampiri nenek itu.   

“Marilah menikmati bubur bersama kami, Nek.” Mira menyerahkan mangkok  buburnya pada nenek yang kelihatan sangat lelah dan lapar itu.

“Oh, terima kasih. Bubur ini milikmu. Kau pasti sangat lapar.” Kata nenek itu menolak pemberian Mira.

Mira tersenyum. “Saya tidak lapar, nek. Tapi nenek lebih membutuhkan bubur ini. Nenek pasti belum sarapan. Bubur ini akan cukup mengenyangkan perut nenek.” Kata Mira.

“Kau anak yang baik sekali.” Kata nenek itu sambil menerima mangkok bubur dari Mira. Nenek itu mulai menikmati bubur itu dengan lahap. Kelihatannya nenek itu sangat lapar sekali. Dalam sekejap sepiring bubur sudah habis.

 “Sebentar saya akan menyeduh secangkir teh hangat buat nenek.” Kata Mira sambil pergi kedapur. Dia  menyeduh segelas teh hangat buat nenek itu dan memberikannya pada nenek itu.

“Terima kasih, kalian sekeluarga baik sekali.” Kata nenek itu yang segera meminumnya hingga habis.

“Oh, nikmat sekali rasanya bubur dan secangkir teh hangat ini.  Tubuhku kini terasa hangat lagi.” Kata nenek itu.

“Bila nenek akan tidur, sebentar saya akan menggelar tikar dulu.” Kata Nuri. Dia mengambil sehelai tikar lalu menggelarnya buat alas tidur nenek itu. Dia lalu  memberikan sebuah bantal  pada nenek itu. Sementara Mira mengambilkan selimut tua yang sudah lusuh pada nenek itu.

“Hanya ini yang kami punya, nek.” Kata Mira.

“Baju nenek basah, tidak nyaman tidur dengan baju basah seperti itu.” Kata ibu. “Mira, ambilkan baju ibu dan berikan pada nenek ini untuk gantinya.”

Mira mengambil baju ibunya dan memberikannya pada nenek itu. Setelah mengganti bajunya, nenek itu membaringkan tubuhnya dan sekejap saja nenek itu sudah tertidur nyenyak. Selimut tua menutupi tubuhnya. Sementara diluar hujan masih turun dengan derasnya, sesekali terdengar suara halilintar menggelegar, namun nenek itu tetap tertidur dengan pulas.   Tidurnya kelihatan tenang sekali. Sementara Mira, Nuri dan ibu hanya duduk saja sambil memperhatikan nenek itu. Mereka merasa kasihan pada nenek itu dan bersyukur walaupun mereka sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan namun mereka masih punya tempat untuk berteduh.

Mendadak terdengar suara berderak yang sangat keras sekali dibelakang pondok mereka.

“Oh, bunyi apa itu?” seru Nuri terkejut.

Nenek itu pun terbangun mendengar suara yang berderak sangat keras diluar gubuk. Nuri dan Mira sambil bergegas keluar memburu halaman belakang. Keduanya terkejut ketika melihat pohon besar dihalaman belakang pondok mereka sudah tumbang dihantam angin kencang. Daun-daunnya berserakan memenuhi halaman belakang.

“Oh, untunglah tidak menimpa pondok kita.” Kata Mira.

Nenek itu turun dari gubuk dan memperhatikan daun-daun yang berserakan disekitar halaman belakang gubuk tua itu.  

“Kumpulkanlah daun-daun yang berserakan itu.” Kata nenek itu tiba-tiba.

“Untuk apa daun-daun itu, nek?” Tanya Mira keheranan.

“Daun-daun itu tidak ada gunanya, besok saya akan mengumpulkannya dan membakarnya.” Kata Nuri.

“Kumpulkanlah daun-daun itu sebanyak yang kalian bisa mala mini juga.” Kata nenek itu lagi.

Mira dan Nuri ingin berbicara lagi namun akhirnya mereka diam. Mereka segera mengumpulkan daun-daun itu dan memasukannya kedalam sebuah karung. Setelah itu mereka menaruh karung itu disamping gubuk mereka.  Setelah itu mereka kembali masuk kedalam gubuk dan tidur.

Pagi-pagi  nenek itu pamitan. Nuri dan Mira lalu bekerja kembali seperti biasanya. Mereka lupa pada karung berisi daun itu selama berhari-hari lamanya hingga suatu hari Nuri tidak sengaja menyenggol karung itu. Karung itu terasa sangat berat sekali.

“Ah, aku lupa membuang daun-daun ini.” Kata Nuri sambil membuka karung itu. Mendadak matanya terbelalak. Didalam karung itu penuh dengan emas berbentuk daun. Jumlahnya sangat banyak sekali, sebanyak daun-daun yang dimasukan kedalam karung itu.

“Astaga! Daun-daun emas!” Seru Nuri. Dia segera memanggil Mira. “Mira! Mira! Lekas kemarin! Lihat ini!”

Mira datang menghampiri Nuri. Dia pun terbelalak kaget melihat isi karung itu yang semula berisi daun kini sudah penuh dengan emas berbentuk daun.

Mereka segera menggotong karung itu kedalam gubuk mereka dan memperlihatkannya pada ibunya. Mereka teringat pada nenek renta yang menumpang istirahat digubuk mereka beberapa waktu lalu. Nenek itulah yang meminta Mira dan Nuri memasukan daun-daun dari pohon yang tumbang itu kedalam karung. Dan kini daun-daun itu telah berubah menjadi daun-daun emas yang tidak ternilai harganya. 

Mereka semua sangat bersyukur. Sejak saat itu hidup mereka menjadi berkecukupan dan sejahtera. Mira dan Nuri membawa ibunya ke tabib terkenal sehingga penyakit ibunya akhirnya sembuh dan ibunya bisa pulih kembali seperti sedia kala. Alangkah bahagianya perasaan Mira dan Nuri melihat ibu mereka telah sembuh kembali.  

Walaupun sudah hidup berkecukupan, mereka tidak pernah lupa dengan kehidupan mereka sebelumnya yang serba kekurangan. Mereka selalu menyisihkan sebagian harta mereka dan diberikan pada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Alangkah senangnya bisa hidup berbagi dengan sesama.



--- 0 ---