Rabu, 24 Juni 2015

Srigala Pencuri Makanan.



Srigala Pencuri Makanan.

Meta tinggal bersama ibunya di hutan. Setiap hari ibu membuat makanan untuk mereka makan sehari-hari. Hingga suatu hari ibu mengatakan bahwa makanan sering sekali habis. Sementara ibu dan Meta sebelumnya tidak pernah makan sebanyak itu apalagi sampai menghabiskan makanan sekaligus.
"Ibu rasa ada yang suka mengambil makanan kita dari meja makan." kata ibu.
"Ah, siapakah dia, bu?" tanya Meta.
"Mungkin teman-temanmu suka mengambil makanan tanpa sepengetahuan kita, kelinci, tupai, burung......"
"Ah, ibu. Tidak mungkin teman-temanku yang berani mengambil makanan kita." kata Meta. "Aku selalu memberi mereka makanan dan bila mereka menginginkan makanan, mereka selalu bilang dulu kepadaku."
"Ibu juga tidak percaya bila teman-temanmu itu yang telah mengambil makanan kita. Maafkan ibu sudah menuduh."
"Bu, nanti yang suka mengambil makanan kita akan ketahuan juga." kata Meta. Dia lalu keluar rumah dan bermain bersama dengan teman-temannya, kelinci, tupai dan burung-burung. Meta lalu menceritakan percakapannya dengan ibunya.
"Ah, siapakah pencuri makanan ibumu, Meta?" tanya kelinci.
"Aku juga belum tahu." sahut Meta.
"Kita harus mencari tahu." kata burung. "Aku punya cara, aku akan sembunyi dibalik gorden rumahmu diatas meja makan sepanjang siang ini agar bisa melihat siapa yang telah mengambil makanan ibumu."
"Terima kasih burung, aku senang kau mau menolong aku." kata Meta gembira.  Burung melesat pergi, saking tergesa-gesanya terbang salah satu sayapnya menyambar dahan  pohon hingga sayapnya patah. Burung terjatuh ke tanah. Meta dan teman-teman lainnya memburu kearah burung. Oh, kasihan sekali. Sayap burung itu yang sebelah patah karena benturan yang sangat kerasnya.
"Meta, aku tak bisa menolongmu. Sayapku patah."
"Kasihan sekali, kau burung. Aku akan segera mengobatimu." Meta memetik beberapa macam daun-daunan, dia lalu menumbuk daun-daun itu diatas batu besar, setelah hancur lalu daun-daun yang telah halus itu ditempelkan pada sayap burung yang patah.
"Sebaiknya kau beristirahat, burung, agar lukamu segera sembuh." kata Meta.
"Ya, aku akan tidur, rasanya tubuhku terasa lemas sekali." kata burung sambil membaringkan tubuhnya diatas daun-daun kering. Tak lama burung itu sudah lelap tertidur.
"Kalau begitu, biar aku saja yang mengintip siapa yang telah mencuri makanan ibumu." kata kelinci. Dia lalu berlari melesat dengan cepatnya. Sakit cepatnya kelinci tidak tahu  bila didepannya ada sebuah lubang yang besar. Kelinci itu jatuh terperosok kedalam lubang itu.
"Aduhhhhhhhh....." Kelinci mengerang dengan keras.
Meta memburu kearah kelinci diikuti tupai. Olala, rupanya kaki kelinci itu patah hingga dia tidak bisa meloncat lagi keluar dari lobang itu.
"Kelinci, aku akan membantumu keluar dari lobang itu." kata Meta. Dia mengambil sebuah ranting yang panjang, lalu mengulurkannya pada kelinci. Kelinci memegang ranting itu lalu Meta menariknya keatas. Tak lama kemudian kelinci sudah berada diatas. Dia mengaduh kesakitan.
"Ah, kakimu patah. Sebentar aku akan mencoba mengobatimu." kata Meta. Dia lalu mengambil daun-daunan hutan, menumbuknya dan membungkuskannya pada kaki kelinci yang patah.
"Aku tahu daun-daunan ini bisa menyembuhkan luka dan patah tulang." kata Meta.  
"Maafkan aku, Meta. Aku tidak bisa membantumu. Kakiku rasanya sakit sekali." kata kelinci.
"Beristirahatlah, kelinci. Kalau kakimu sudah sembuh kau bisa membantu aku." kata Meta.
Kelinci lalu duduk diatas rumput disamping sebuah pohon besar yang rindang. Tak lama kemudian kelinci sudah lelap tertidur.
"Kini hanya tinggal aku yang bisa menolongmu, Meta." kata tupai. "Biar aku yang akan mengintip siapa yang telah mencuri makanan ibumu."
"Ah, jangan....." kata Meta. Dia khawatir tupai pun akan celaka seperti burung dan tupai. Namun tupai sudah berlari kerumah Meta. Meta ikut berlari mengikuti tupai. Tiba-tiba tupai menghentikan larinya. Dia menaruh telunjuknya diatas mulutnya memberi isyarat pada Meta agar jangan berisik. Tangan tupai menunjuk pada sebuah arah. Meta mengikuti arah telunjuk tupai. Tupai menunjuk pada jendela samping rumah Meta.
"Aku melihat sesuatu." bisik tupai.
Meta mengikuti arah pandangan tupai. Namun dia tidak melihat sesuatu apapun.
"Aku melihat bulu." bisik tupai.
"Bulu?" tanya Meta heran.
"Ya. Bulu. Dan sebuah tangan berbulu."
"Astaga." Mendadak Meta menjadi ketakutan. Dan ternyata apa yang dikatakan tupai benar. Dia melihat tangan berbulu mengambil makanan dari atas meja makan yang berada didekat jendela. Olala, itu tangan serigala. Dan ekornya yang berbulu kadang menyembul dari balik rumpun-rumpun tanaman.
Meta mengambil tongkat dan memburu kearah serigala. Serigala mendadak meloncat ketika melihat Meta datang membawa tongkat.
"Oh, rupanya kau serigala yang suka mencuri makanan ibuku." kata Meta sambil mengacungkan tongkatnya akan memukul serigala yang nakal itu.
Serigala itu lari koncar-kancir ketakutan.
Meta menceritakan apa yang dilihatnya pada ibunya.
"Oh, rupanya karena jendela selalu terbuka dan meja makan merapat pada dinding jendela yang membuat serigala itu dengan mudah mengambil makanan kita." kata ibu.
"Jadi kita harus memindahkan meja makan ketengah ruangan, ibu, agar serigala tak bisa lagi mengambil makanan kita." kata Meta.
"Ya, dan ibu tidak akan sepanjang hari membuka jendela." kata ibu sambil tersenyum. "Hanya pagi hari saja ibu akan membiarkan jendela terbuka, setelah udara segar masuk, barulah ibu akan menutup kembali jendela itu."